Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
6. Pelarian Istri


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu semenjak Silka melarikan diri dari Max dan dunia mafia yang gelap. Saat ini, Silka berada di sebuah negara yang jauh dari bekas kehidupannya. Ia memutuskan untuk menjauh dari segala ancaman dan memulai kehidupan baru.


Di negara ini, Silka menemukan tempat perlindungan dan kesempatan untuk memulihkan diri. Ia bergabung dengan sebuah sekolah beladiri yang terkenal, di mana ia dapat belajar dan mengasah kemampuan fisik serta teknik bertahan diri.


Setiap hari, Silka menghadiri kelas beladiri yang intensif. Ia melatih tubuh dan pikirannya dengan tekun, menyerap setiap instruksi dari instruktur berpengalaman.


Silka menghentakkan pukulannya pada perisai pelatih dengan keras


"Bagus, Silka! Lanjutkan! Lebih kuat lagi!" ucap sang instruktur.


Silka bernafas berat dan mengangguk. "Ya, Pak! Saya akan mencoba lebih dari yang sebelumnya!"


"Kamu telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam beberapa bulan terakhir ini. Semangatmu benar-benar luar biasa, Silka," puji sang instruktur.


"Terima kasih, Pak. Latihan ini benar-benar membantu saya dalam membangun kekuatan dan kepercayaan diri," ucap Silka dengan wajah sumringah.


"Tapi jangan lupa, kekuatan bukan hanya tentang fisik saja, Silka. Itu juga tentang mengendalikan emosi dan pikiran kita. Teknik-teknik beladiri ini akan membantu kamu dalam melakukannya," terang instruktur.


"Saya memahaminya, Pak. Saya belajar untuk menjaga ketenangan dan konsentrasi di tengah tekanan dan situasi yang menegangkan. Saya merasa menjadi orang yang baru karena semua latihan ini."


"Baiklah, mari kita lanjutkan. Kali ini, saya ingin kamu melakukannya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Bersiaplah!" Instruktur mulai menyerang Silka.


Silka mengangkat sikunya dan meluncur maju dengan cepat, menghindari serangan pelatih.


"Bagus! Tetap fokus, Silka! Jangan biarkan mereka melihat celah!"


Silka berputar menghindari serangan pelatih dan melancarkan serangkaian pukulan dan tendangan.


"Hebat! Kamu semakin memperbaiki kelincahan dan kecepatanmu. Jaga ritme dan pernapasanmu!"


Silka menarik nafas dalam-dalam dan memusatkan perhatiannya, melanjutkan serangannya dengan ketepatan.


"Kamu telah menunjukkan potensi yang luar biasa, Silka. Tetap berlatih dan berusaha keras. Aku yakin kamu bisa mencapai apa pun yang kamu inginkan!"

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Saya berjanji untuk tidak mengecewakan."


"Itu semangat yang baik! Teruskan perjuanganmu, Silka. Jadilah yang terbaik dari dirimu." Instruktu menepuk pelan pundak Silka menatap gadis itu dengan harapan tinggi.


*


*


*


"Apa lagi yang kau harapkan dari wanita yang mencoba lari darimu, Max?" tanya Berto, ayah Max yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dibanding Max.


"Aku harap, kau tak perlu banyak berkomentar, Dad. Cukup dukung apa pun yang aku lakukan. Bagaimana pun, Silka adalah istriku," ucap Max dingin.


Berto menatap dingin pada putranya. "Kenapa harus dia? Bahkan, dia tidak ada kala kau terluka seperti tiga bulan lalu dan kabur entah ke mana! Kau berkuasa! Kau memiliki tahta! Tak sedikit yang bisa kau ambil menjadi wanita milikmu tanpa perlu terikat dengan pernikahan! Yang jelas, kau harus memiliki keturunan yang bisa mewarisi kekuasaanmu setelah kau tidak bisa berbuat apa-apa!" ucap ayahnya.


Max menatap ayahnya dengan tatapan dingin tetapi ada amarah yang tersimpan di dalamnya.


"Silka adalah istriku, dan tidak ada yang bisa menggantikan tempatnya dalam hidupku. Aku tidak peduli dengan kekuasaan atau tahta, Dad. Aku hanya peduli dengan keluarga kita. Dan aku tidak akan mengambil wanita lain sebagai penggantinya!" ucap Max dengan tegas. Masa lalu tentang pertemuan pertama dengan Silka kembali tergambar dalam pikirannya.


Max menggertakkan giginya, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku tahu, Dad. Aku tahu Silka telah membuat kesalahan dan memutuskan untuk pergi. Tapi itu tidak berarti aku harus mengabaikannya atau mencari pengganti. Aku akan menemukan cara untuk menemukannya dan memulihkan semua yang telah terjadi, dan aku tidak akan menyerah begitu saja!"


Berto merenung sejenak, menahan diri dari mengatakan lebih banyak Max. "Kamu adalah putraku dan pewaris kekuasaan ini. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan untuk keluarga kita. Jangan biarkan perasaan pribadimu mengaburkan pengambilan keputusanmu sebagai pemimpin."


Max menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri. "Terima kasih atas kekhawatiranmu, Dad. Aku akan mempertimbangkan kata-katamu dengan baik. Tapi saat ini, Silka masih istriku, dan aku akan melakukan segala yang mungkin untuk membawanya kembali."


Berto mengangguk, meskipun masih tidak sepenuhnya setuju. "Berhati-hatilah, Max. Dunia ini tidak selalu memberi kesempatan kedua. Jangan biarkan emosimu menghalangi pengambilan keputusan yang bijak."


"Aku akan mengingat itu, Dad. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Aku akan memulihkan hubungan dengan Silka, tanpa melupakan tanggung jawabku sebagai seorang pemimpin."


Di tempat lain, Silka tengah membuka laptop, memperbaiki posisi kaca matanya. Ia mengenang kembali masa perkuliahan yang dulu. Ia begitu haus akan ilmu yang sedang ia dalami dalam bangku perguruan tinggi yang terpaksa ia tinggali semenjak tiga bulan lalu.


"Apakah aku masih bisa belajar?"

__ADS_1


Silka kembali mengotak atik materi-materi perdagangan yang sempat ia pelajari. Entah kenapa, ia bisa sampai pada artikel mengenai perdagangan gelap. Ia kembali teringat pada sosok yang membuatnya takut.


Tangannya mengepal. "Sekarang kau bukan gadis lemah lagi, Silka! Kau sudah memiliki kemampuan! Jika mereka berani menangkapmu, kau bisa melawan!" gumam Silka dengan mata berapi.


Beberapa waktu kemudian Max memasuki ruangan kerjanya dengan langkah cepat, wajahnya terlihat datar yang menyiratkan emosi yang ia tahan cukup besar.


Sementara itu, Tom mengikutinya dengan langkah hati-hati, khawatir dengan ekspresi yang tergambar pada wajah Max. "Boss, ada yang salah?"


Max menggertakkan giginya, menunjukkan foto Silka yang baru saja berhasil ditemukan oleh rekannya di sebuah negara yang tak jauh dari tempat mereka berada.


"Tom, lihat ini! Dia ternyata kabur ke negara lain. Dia berani melarikan diri sejauh itu dariku!"


Tom terkejut memasang wajah khawatir. "Boss, apa yang kau lakukan? Bukan kah dia istrimu? Kau sangat mencintai dia bukan?"



Max menggenggam foto dengan erat "Kita tidak boleh membiarkan dia melarikan diri seperti ini! Dia harus tau bahwa ia tidak akan bisa lari dariku!"


Tom memahami kemarahan Max, tapi mencoba menenangkannya. "Boss, mungkin ada alasan yang membuat Nona Silka pergi. Apa mungkin karena dia merasa terancam saat berada di sini? Apakah kau memperlakukannya dengan baik?"


Max mengernyitkan dahinya. Alur napasnya terdengar lebih cepat dibanding sebelumnya. "Apa pun alasan yang dia miliki, dia adalah istriku, bagian dari keluarga ini! Dia tidak bisa meninggalkanku diam-diam seperti ini!"


Tom kembali mencoba menenangkan Max. "Boss, mungkin kita bisa mencoba mencari tahu mengapa dia pergi. Mungkin ada masalah yang mungkin bisa kita selesaikan bersama."


Max menghela nafas panjang. "Baik, lah. Sekarang kau cari tahu alamat keberadaannya. Segera hubungi anggota kita yang berada di sana dan perintahkan mereka untuk menjemput Silka. Baik secara baik-baik, maupun dipaksa. Aku ingin, segera berbicara dengannya empat mata."


"Boss, apakah kita benar-benar harus menjemputnya dengan paksa? Mungkin ada cara lain agar kalian bisa menjadi lebih dekat dibanding sebelumnya?"


Max berbalik dengan tajam, tatapannya penuh dengan amarah. "Tom, dia adalah istriku! Dia adalah bagian dari keluarga kita! Jika dia memilih untuk melarikan diri, maka kita harus membawanya kembali dengan cara apa pun!"


Tom: mengangguk mengerti, meskipun masih terlihat cemas Saya akan segera mengurusnya, Boss.


"Atau, aku saja yang pergi ke sana menjadi orang yang asing baginya?" ucap Max, menatap bayangan dirinya yang penuh dengan jenggot tebal senada dengan warna rambutnya.

__ADS_1



__ADS_2