Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
15. Asuh Bersama


__ADS_3

Silka, dengan mata yang berkaca-kaca, terus menumpahkan keresahannya dengan suara bergetar. "Aku tidak akan pernah mengizinkanmu mencuri mereka dariku! Mereka tidak akan pernah menjadi milikmu setelah apa yang kau lakukan!"


Max menghentikan langkahnya menatap Silka dengan sinis merasa berada di atas Silka. Sejenak ia melirik orang-orang yang ada di sisi mereka, dengan terpaksa ia harus menahan amarah yang berkobar di dalam dirinya.


"Aku mungkin telah melakukan kesalahan yang besar, Silka. Namun, kesalahanmu lebih fatal dibanding apa yang kau lakukan, mau saja menyerahkan diri begitu saja meskipun kau tahu dia bukan suamimu! Apapun yang terjadi, mereka adalah darah dagingku juga. Aku akan membuatmu bersimpuh padaku, membuktikan aku adalah orang tua yang lebih baik dibanding kamu sebagai ibunya."


Silka melihat wajah Max yang penuh ketidakpercayaan dan kebencian. Air mata terus mengalir di pipinya. "Kau berani mengakuinya sekarang? Setelah segala penderitaan yang aku alami karena perlakuanmu, kau pikir aku akan membiarkanmu mendekati anak-anakku? Dia memang darah dagingmu, tetapi dia bukan lah anak seorang Maxim yang dingin, tetapi anak Jodi, priaku yang hangat penuh kasih sayang!" Kali ini Silka melangkah dengan cepat mendahuluinya.


Max menatap panjang pada punggung yang terus menjauh meninggalkannya. Tak lama, helaan nafas yang panjang terdengar dari mulut Max, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Katakan semua yang ingin kau katakan! Bagaimana pun aku akan tetap menemui mereka!"


Silka pulang secepatnya ke apartemen di mana menjadi tempat ia meninggalkan anak kembar yang ia titipkan pada tetangga di apartemennya. Ternyata, si kembar menangis dengan sangat keras. Wajah tetangga yang mengasuhnya terlihat cukup frustrasi.


"Maafkan saya Nyonya, telah merusak kenyamananmu. Hanya saja, saya tidak tahu harus menitipkan mereka kepada siapa," sesal Silka merasa bersalah.


Tetangga hanya mengangguk tak banyak bicara. Helaan napas lega pun terdengar keluar dari mulutnya. "Sepertinya nanti kamu bisa menitipkan mereka pada baby care yang berada tak jauh dari sini."


Silka tertegun dan nenyadari bahwa tetangganya ini tak bisa lagi menolongnya bila suatu saat nanti ada urusan mendesak seperti ini lagi.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Nyonya." Silka mengeluarkan sejumlah uang dan menyelipkanny pada tangan sang tetangga.


"Ya," ucapnya pendek dan pergi.


"Huffftt ...." Silka menghela napas panjangnya. Ia segera menggandeng kedua bocah yang telah menemaninya beberapa tahun terakhir ini. "Kalian kenapa menangis seperti itu?" tanya Silka dengan lembut.

__ADS_1


"Habisnya Mommy tidak ada, kami takut dengannya," isak Jena mengusap air matanya dengan satu tangan yang bebas.


"Mommy ke mana? Kenapa kami tidak diajak?" tanya Juno dengan bibir membulat melirik Silka.


"Maafkan Mommy, ya? Mommy tadi memiliki urusan yang sangat penting tak bisa membawa kalian. Jadi, karena itu Mommy terpaksa menitipkan kalian kepada Nyonya Benedicta."


"Ekhem, jadi begitu? Kau menitipkan anak-anakku pada orang yang tak bisa memperlakukan mereka dengan baik?"


Dari arah belakang, terdengar hunusan suara dingin dari seseorang yang bisa ditebak langsung oleh Silka.


Juno memutar kepalanya melihat siapa yang baru saja berbicara. Mulutnya yang tadi membulat karena merajuk, kini terbuka memasang wajah heran. "Tuan yang dulu kah?" celetuknya menatap pria yang kali ini terlihat sangat tampan tanpa jenggot dan kumis menutupi dagunya.


Jena sontak memutar kepalanya setelah mendengar berita kecil dari Juno. "Waaah, Tuan yang ada di taman?" ucapnya ceria. "Waaah, apa benar itu Tuan? Bukan kah Tuan yang kemarin banyak bulunya?" ucap Jena kembali dengan kepala sedikit meneleng.


Max tersenyum penuh arti, menahan kegembiraannya. "Ya, anak-anakku, aku adalah Tuan yang kalian temui di taman beberapa waktu yang lalu. Aku mengubah penampilanku agar Mommy kalian bisa mengingatku. Aku adalah masa lalu dari Mommy kalian, apa Mommy tak pernah menceritakannya kepada kalian?"


Jena dan Juno saling berpandangan, masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Namun, mereka merasakan kehangatan dan kegembiraan yang datang dari sosok yang mereka kenal sebagai Tuan.


Silka mencoba mencerna situasi ini dengan hati-hati. Hatinya penuh kebingungan, dan rasa kesal itu kembali muncul. "Apa maksudmu, Max? Apa yang kau lakukan di sini saat ini? Aku rasa, belum waktunya untuk kalian bertemu," ucap Silka datar.


Max melangkah mendekati Silka dengan hati-hati, berusaha untuk tidak membuat kedua anaknya terlalu terkejut. "Silka, katakan lah pada mereka, aku ini siapa bagi mereka. Tolong katakan kepada mereka, setiap tetes darah mereka adalah darah yang mengalir dari tubuhku. Katakan juga kepada mereka bahwa aku ingin menjadi ayah yang baik bagi Jena dan Juno. Aku tahu bahwa aku tidak bisa menghapus masa lalu, tetapi aku berjanji akan membuktikan bahwa aku telah berubah."


Silka merasakan gelombang emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Dalam hatinya masih merasakan bara api yang belum bisa dipadamkan. Apalagi, Max melakukannya dengan penghinaan yang sungguh membuat harga dirinya jatuh terpuruk hingg ke dasar yang paling dalam.

__ADS_1


"Kau begitu pintar dalam memanipulasi kenyataan, Max?" tanya Silka dengan suara gemetar. "Dia adalah anak-anakku, aku harap kau pergi dan jangan pernah mencoba mendekati mereka!"


Max berjalan semakin mendekat pada Silka. Kali ini ia memilih duduk berjongkok menyamaratakan tinggi pada kembar yang terlihat kebingungan itu.


"Hai, jika Mommy tidak mau mengatakan sebuah kenyataan, maka aku lah yang akan menyampaikannya secara langsung. Namun, boleh kan aku bertanya terlebih dahulu kepada kalian?"


Jena mengangguk dengan polosnya, tetapi Juno membuang muka melipat kedua tangan dengan mulut membulat.


"Apakah Mommy pernah menceritakan siapa Daddy kalian berdua?"


Mulut kedua kembar itu melongo dengan serempak. "Dulu, Mommy pernah mengatakan, Daddy kami bernama Jodi Evans."


Max melirik Silka yang menatapnya dengan nanar. "Lalu, ke mana dia?" tanya Max kembali.


"Mommy bilang, Daddy udah ada di surga," ucap Jena.


Max terkekeh mendengar jawaban putri kecilnya. Max mengusap kepalanya dengan penuh kasih. "Jadi Mommy bilang Daddy kalian sudah meninggal?"


Jena mengangguk dengan wajahnya yang menggemaskan.


"Jika ternyata Daddy kalian masih hidup bagaimana?" tanya Max kembali.


"Jena mau ikut Daddy. Jena mau tinggal dengan Daddy. Jena bosan dengan makanan yang diberi Mommy. Nanti, Jena mau minta Daddy membelikan kami makanan yang enak."

__ADS_1


Max tersenyum sinis mendengar jawaban Jena. Ia kembali merasa menang banyak dibanding Silka yang ternyata tak memberi mereka banyak kebahagiaan.


__ADS_2