Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
32. Salah Tangkap


__ADS_3

Silka berjalan mendekati Max dengan wajah yang penuh dengan kekesalan. Dia berdiri di depan meja Max, menunggu hingga Max selesai dengan panggilannya.


Max akhirnya menutup teleponnya dan menatap Silka dengan ekspresi datar. "Ada apa, Silka?" tanya Max dengan suara yang sedikit dingin.


"Apakah kamu selalu menyuruh anak-anak buahmu untuk memat4-mat4i aku dan anak-anak?" tanya Silka dengan tajam.


Max menghela nafas dan menggosok-gosok pelipisnya. "Sudah kubilang, aku memiliki cara untuk memastikan keamanan kalian. Aku menerima laporan bahwa kamu belum juga menjemput mereka. Kamu masih sibuk saja mengulik masa lalu yang tak perlu kau ungkit lagi. Apa gunanya kau mencari-cari informasi tentang Adel lagi?"


"Apakah masalah Adel itu lebih penting dibanding aku yang selalu menjagamu, meskipun bukan lewat tanganku sendiri?" Max menatap datar istrinya itu.


"Ya, bagimu satu nyawa memang tidak lah penting. Namun, bagiku tentu itu sangat berbeda! Aku bukan kamu! Aku ini manusia biasa yang membutuhkan kehidupan normal! Bukan huru hara seperti hari-hari yang kamu berikan!" ucap Silka masih dengan emosi.


Max menatap Silka dengan datar. "Sepertinya kepalamu sedang terbakar karena perjalanan mengelilingi kampusmu seharian ini. Lebih baik kamu mandi dan mendingingkan pikiran." Max berusaha untuk tidak tersulut emosi yang dibuat oleh istrinya.


"Aku masih ingin bicara denganmu, Max! Jangan potong pembicaraanku!" ucap Silka menghentakkan kedua kakinya.


Max menatap polah Silka, sejenak bibirnya tersungging senyuman penuh arti. "Coba ulangi lagi!" ucapnya.


"Ulangi apa?" bentak Silka kembali menghentakkan kedua kakinya.


Max bergerak dengan cepat mendekati Silka dan mengangkat tubuh istrinya itu. Hal ini tentu membuat Silka meronta.


"Apa yang kau lakukan?"


"Sepertinya aku tak tahan ingin memandikanmu. Kamu terlihat menggemaskan dan sangat seksi bila berlaku seperti anak kecil tadi." Max membawa Silka beralih ruangan kamar mereka yang sangat luas.


"Kau jangan macam-macam, Max! Aku ini lagi marah pada—"

__ADS_1


Belum usai mengungkapkan rasa kesalnya, Max sudah menyumpal Silka dengan c1uman pan4snya. Silka berusaha menolak, tak kuasa melawan dan akhirnya hanya bisa meladeni keinginan spontan pria itu.


Di luar ruangan, Jena dan Juno mencoba membuka pintu kamar orang tuanya.


"Tadi, aku mendengar suara Mommy," ucap Juno merasa yakin.


"Iya, aku juga denger suara Mommy. Kenapa Mommy tidak menjemput kita ya? Apa yang Mommy lakukan?" ucap Jena membulatkan bibirnya.


Juno mencoba membuka pintu kamar milik orang tuanya. Namun, ia tidak bisa membuka pintu itu. Karena di dalam sana keduanya sedang meleburkan emosi yang ada di kepala Silka menjadi, g4irah dan d3s4han yang luar biasa di atas ranjang megah, yang sengaja disiapkan Max.


*


*


*


Di tempat lain seorang wanita sedang terikat pada sebuah kursi. Ia dikelilingi oleh beberapa orang yang menantinya sadar kembali.


"Benar sekali, Boss. Kami mendapat rekap perkencanan mereka, meski tidak terlalu banyak. Perkencanan pada malam hari antara mereka tentu menunjukan bukan lah hubungan yang biasa," ucap pria yang menangkap wanita itu.


Jaguar mengulas senyuman sinisnya. "Aku tak menyangka selera Max adalah wanita seperti ini. Aku pikir, dia memiliki selera yang lebih baik, tetapi ternyata aku salah."


Jaguar membelai pipi wanita itu. Membuat sang wanita bergerak tipis dan tersentak. Perlahan ia membuka mata dan pandangannya masih samar.


Wanita itu memperlahankan pandangannya, mencoba mengatasi kebingungan yang melingkupi pikirannya. Dia mulai merasakan ada tali yang mengikat tangannya dan menyadari bahwa dia sedang terikat pada sebuah kursi. Pandangannya mulai fokus dan dia menyadari bahwa dia tidak berada di tempat yang dikenalnya.


"Dia sudah sadar, Boss," ucap salah satu anggota kelompok Jaguar.

__ADS_1


Jaguar mengangguk puas. Dia kembali mendekati wanita itu dengan senyum sinis di wajahnya. "Jadi, kamu adalah wanita yang memiliki hubungan khusus dengan Max. Sangat menarik," ucap Jaguar dengan nada tajam.


Wanita itu menatap Jaguar dengan tatapan penuh ketegasan. Meski dalam posisinya yang terikat, dia tidak menunjukkan ketakutan. "Siapa kamu? Siapa Max?" tanyanya dengan nada kebingungan.


Jaguar tertawa kecil. "Kamu bisa memanggil saya dengan Jaguar. Dan saya memiliki kepentingan yang sama denganmu dalam hal ini. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang hubunganmu dengan Max. Apa yang kamu tahu tentangnya?"


Wanita itu mempertahankan ketegasannya. "Aku tidak bisa memberimu informasi apa pun. Aku tidak mengenal orang yang bernama Max!" ucapnya dengan wajah ketakutan.


Jaguar tersenyum sinis dengan reaksi wanita itu. "Kamu sangat pintar memanipulasi reaksi pada wajahmu. Aku menghargai kepiawaianmu itu. Tapi tahukah kamu bahwa aku akan mendapatkan informasi yang aku inginkan."


Wanita itu tetap tegar. "Aku mohon lepaskan aku! Aku tidak mengenal orang yang kau sebut dengan Max itu."


Jaguar tersenyum sinis. Kali ini, ia menjepit dagu wanita itu memasang wajah mengancam. "Kamu mungkin berpikir dengan mudah menipu siapa pun. Tetapi tidak, dengan aku! Aku mengetahui perjalananmu dengan Max! Bukan kah, kalian sering menghabiskan malam bersama? Aku rasa, itu bukan lah sebuah kisah yang biasa," ucap Jaguar dengan datar.


Wanita itu memandang Jaguar dengan wajah ketakutan. "Aku mohon, lepaskan aku! Aku tidak mengenal siapa pun yang kau sebut itu. Siapa pun bisa menghabiskan malam denganku asal bisa memberikan uang yang banyak padaku. Kau pun juga bisa merasakannya denganku, asal kau mau melepaskan aku!" ucap wanita itu.


Jaguar tertawa dengan suara yang menggelikan. Kali ini ia menatap para anak buahnya yang terlihat ikut merasa bingung. "Siapa yang kalian tangkap ini?" bentaknya.


Sementara itu, di dalam kamar Max dan Silka, mereka tengah terlibat dalam momen intens dan bergairah. Namun, tak mereka sadari bahwa di luar pintu kamar, Jena dan Juno masih mencoba membuka pintu yang terkunci. Mereka merasa khawatir dan kebingungan, tak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam kamar orang tua mereka.


Jena dan Juno, anak-anak Max dan Silka, terus berusaha membuka pintu kamar dengan putus asa. Mereka merasa kegelisahan yang semakin meningkat dan merasa perlu melindungi diri mereka sendiri. Akhirnya, dengan usaha yang gigih, mereka berhasil membuka pintu itu dan terkejut melihat apa yang ada di dalam.


Max segera masuk ke dalam selimut bersama Silka. "Apa yang kalian lakukan, Bocah?" ucapnya geram.


"Kami mendengar suara Mommy. Tapi tidak melihat Mommy. Entah kenapa Mommy tidak ada, makanya kami cari," ucap Jena ketakutan mendapat amarah dari ayahnya.


"Kalau pintu kamar orang tua kalian dikunci, kalian tidak boleh membukanya!" gumam Max, menahan diri.

__ADS_1


"Kalian keluar dulu main sebentar! Mommy dan Daddy mau siap-siap dulu," ucap Silka dengan geli.


"Kami tidak mau, kami juga mau ikut! Kalian mau ke mana? Kenapa tidak ajak kami?" ucap Juno menatap kedua orang tua yang berada di dalam selimut bergantian.


__ADS_2