Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
28. Selingkuh Pada Suami Sendiri


__ADS_3

"Apa maksudmu?" tanya Silka terlihat bingung mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Max.


"Jika kamu masih meragu akan kehidupan yang aku jalani, aku memberikan kesempatan untukmu berpikir ulang menjalani kehidupan bersamaku." Max menatap Silka dengan dalam, tetapi matanya memancarkan raut kekecewaan. Setelah itu, Max memutar pandangannya, membuang rasa kecewa pada wanita yang tak pernah hengkang dari hatinya, walau sedetik pun.


Silka merasa cukup kalut oleh sikap Max yang tiba-tiba berubah ini. Ia mencoba menerawang masa depan, jika Max tak lagi di sisinya. Semuanya tak mungkin setenang sebelum kedua anaknya bertemu dengan Max, ayah mereka.


Silka memeluk Max dari belakang. "Maafkan aku. Aku masih belum sepenuhnya bisa menerimamu sebagai seorang Max, dari Klan Maximo, yang kau pimpin." Silka menyandarkan pipinya pada punggung Max.


"Lalu, apa arti ini semua bagimu? Apakah kamu lebih menyukai seorang Jodi?" gumam Max tak menoleh sedikit pun.


"Saat ini aku mencintamu, sebagai kamu, bukan orang yang menjadi orang lain, mendekati dan menghamiliku sebagai orang yang tak terikat padaku. Namun, syukur lah jika kalian adalah orang yang sama. Setidaknya, aku selingkuhnya masih pada suamiku sendiri."


Max melirik sejenak, meskipun ia tak bisa melihat Silka secara sempurna yang berada di belakangnya. "Baik lah, sepertinya kamu lebih mencintai Jodi, dibanding Max yang kau kenal." Max menarik tangan yang memeluk erat tubuhnya, sehingga kali ini Silka tapat berada di hadapannya.


"Jangan salahkan sisi Jodi yang bodoh ini akan melahap dan melum4tmu hidup-hidup!" Max tak lagi menunggu waktu untuk mengecap bibir merah itu, melepaskan kaca mata yang tak pernah terlepas dari wajah istrinya, selain saat bercumbu bersamanya.


"Syukur lah, hanya aku yang bisa melihatmu dan segala kecantikan yang kau punya."


__ADS_1



Keesokan pagi, setelah pergulatan panjang, Silka tengah melakulan sesuatu pada wajah suaminya. Tangannya yang memegang alat cukur, diam-diam sibuk membersihkan bulu-bulu kasar yang mulai menumbuhi dagu dan bagian bawah hidungnya.


"Aaagh," ringis Max yang masih terlelap. Ia tak menyadari saat ini Silka sedang mencoba membabat habis kebanggaannya pada wajah yang terpaksa ia cukur saat memamerkan siapa dirinya yang sebenarnya.


"Seandainya dari dulu kamu mengaku, mungkin aku tak akan pernah mencoba kabur darimu. Karena sebenarnya, semanjak kejadian masa kecil kita, aku selalu berharap bisa bertemu dengan anak SMA yang terluka itu. Ah, waktu itu kamu benar-benar tampan di mata mungilku," gumam Silka terus membabat rambut-rambut wajah milik Max.


Tiba-tiba, tangan Silka ditahan oleh Max. Sebelah mata Max melirik istrinya yang membuang bulu-bulu kesayangannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Max menarik Silka masuk ke dalam pelukannya.


"Aah, aku hanya ingin membersihkan wajahmu. Kau sungguh sangat tampan jika tak ada bulu sama sekali," ucap Silka mencoba melepaskan diri dari dekapan Max.


Silka mematung mendengar ucapan Max. "Kau jangan mengada-ada Max. Yang ada kau akan menghabisiku lagi, jika aku mencukur semua luar dalam."


"Tak ada masalah kan? Kita sudah terikat janji suci. Itu artinya kau milikku, aku bebas memintamu berapa kali pun untuk menyenangkanku." Max mendekati wajahnya pada telinga Silka. "Memuaskanku, tepatnya."


Silka hanya bisa mencabik dan mencibir. "Pagi ini jangan harap apa-apa! Sebentar lagi, Jena dan Juno akan berangkat ke sekolah. Apa kau tidak kapok, dengan kejadian waktu itu?" rutuk Silka beranjak dari dekapan Max.

__ADS_1


Selang beberapa detik terdengar ketukan bertubi-tubi dari arah luar pintu.


"Nah, apa yang aku bilang?" ucap Silka. Silka dengan cekatan menuju pintu sebelum gedoran pintu semakin kuat.


"Mommy, kenapa akhir-akhir ini Mommy lambat sekali bangunnya? Kami kan jadi sarapan sendirian?" rajuk Jena yang telah memasang seragam sekolah dengan rapi.


"Waaah, hebat. Kalian sudah siap. Jadi Mommy tak perlua lagi berkoar-koar membangunkan kalian untuk ke sekolah," ucap Silka.


Jena dan Juno refleks menatap jam dinding. Di sana telah menunjukan waktu pulul setengah sembilan. Sementara mereka harus masuk pukul sembilan pagi.


"Mom, sepertinya ini bukan kepagian lagi. Sebentar lagi bell sekolah kami akan berbunyi," ucap Rafatr kembalo.


"Astaga!" ucap Silka dengan spontan. Ia buru-buru bangkit menuju kamar mandi dan bersiap.


Kedua anaknya saling berpandangan. Lalu keduanya mengedikan bahu. Setelah itu, menatap Max yang masih berada di bawah selimut.


"Daddy, apakah hari ini tidak bekerja?" tanya Jena dengan polos.


"Daddy tidak bekerja seperti orang tua teman-teman di sekolah kita, Jena. Waktu bekera Daddy itu suka-suka hati. Benarkan Dad?" tanya Juno.

__ADS_1


Max bangkit dan merubah posisinya. Namun, ia masih memilih berada di dalam selimutnya. "Kalian nanti mau melanjutkan pekerjaan ini kan? Daddy tak tahu, berapa lama usia Daddy di dunia ini. Jujur, pekerjaan ini sangat beresiko. Namun, jika tidak begini, Daddy tidak akan bisa mendapatkan apa pun yang Daddy inginkan, termasuk Mommy dan kalian berdua," ucapnya setengah terkekeh.


Jena dan Juno kembali saling berpandangan. "Jadi, sebenarnya kami bertiga ini hanya lah sanderaan Daddy?"


__ADS_2