
Max membuka matanya dan memandang Silka dengan serius. "Aku memahami perasaanmu, Silka. Aku tahu bahwa aku telah membuatmu menderita dan membawa rasa kecewa yang besar. Aku menyesal atas kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan."
Max mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi aku berjanji akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan menjadi ayah yang lebih baik untuk Jena dan Juno. Aku ingin membangun kembali kepercayaanmu dan memperbaiki hubungan kita."
Silka mendengarkan kata-kata Max dengan hati-hati, merasakan kejujuran dalam suaranya. Dia merasa campur aduk antara kekecewaan, ketidakpercayaan, dan keinginan untuk memberikan kesempatan pada Max. Setelah beberapa saat, dia menjawab dengan suara lembut.
"Max, aku tahu bahwa kita telah melalui banyak hal yang sulit. Aku juga merasa terluka dan kecewa. Tetapi aku ingin mempercayaimu, memberimu kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Aku ingin kita bisa mencoba membangun kembali hubungan kita sebagai orang tua bagi Jena dan Juno."
Max merasa hatinya dipenuhi dengan harapan. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa terima kasihnya pada Silka. "Terima kasih, Silka. Aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua dari kehidupanku. Aku ingin kita bisa menemukan kebahagiaan bersama-sama sebagai keluarga."
Jena dan Juno melihat interaksi antara Max dan Silka. Mereka merasa haru dan lega melihat kedua orangtuanya mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka. Meskipun masih ada keraguan dan luka yang perlu diatasi, mereka merasa optimis bahwa keluarga mereka dapat kembali bersatu.
"Daddy, Mommy, aku berharap kita bisa saling mendukung dan saling memaafkan," ucap Jena dengan suara lembut, diikuti oleh Juno yang mengangguk setuju.
Silka dan Max saling berpandangan dan tersenyum. Mereka menyadari bahwa proses memperbaiki hubungan tidak akan mudah, tetapi mereka berkomitmen untuk mencobanya. Bersama-sama, mereka mengucapkan janji untuk saling mendukung, memaafkan, dan bekerja menuju kebahagiaan keluarga yang mereka impikan.
*
*
*
Malam hari, pada sebuah apartemen kecil, terdengar sedikit keributan dari suara seorang pria. Anak-anak yang menghuni rumah itu telah lelap dalam lelah mereka.
__ADS_1
"Di mana letak wiski?"
"Kami tidak memiliki itu!" ucap Silka.
Max memeriksa isi dapur keluarga kecil ini. Karena mereka bersedia untuk rujuk, mereka memulai kembali hari di mana mereka menjadi pasangan suami istri lagi.
Wajah Max mengernyit, apartemen yang mereka tempati ini terasa begitu sempit. Ia tak bisa bergerak leluasa dan tidak memiliki ruang kerja khusus seperti ketika berada di mansionnya.
"Kenapa kita tidak tinggal di mansion saja?" ucap Max.
"Kau pikir aku ingin pikiran anak-anakku terkontaminasi oleh orang-orang yang memenuhi rumahmu itu? Jika kau benar-benar tulus, harusnya kau tak keberatan jika tinggal di sini bersamaku!" Silka memasuki kamar mandi yang berada di bagian belakang.
"Ah, kamar mandinya saja berada di luar kamar." Max mengotak atik ponselnya.
"Tom, carilah hunian mewah dan nyaman untuk segera aku tempati!" ucap Max dengan cepat.
"Siapkan saja tanpa banyak bicara. Kalau bisa, besok pagi aku dan keluargaku sudah bisa menempatinya!"
"Wah, Boss? Apakah Anda sudah rujuk dengan Nona Silka? Berarti Anda sudah bicara dengan anak-anak kembar Anda?" Tom terdengar bahagia dan antusias akan informasi tersirat yang baru saja diberikan oleh Max.
"Aku bilang, jangan banyak bicara!" Max menutup panggilannya.
Silka telah keluar dari kamar mandi, rambutnya tergulung dengan handuk, memutari kepala.
__ADS_1
"Sudahkah kau menyelesaikan panggilanmu?" tanya Silka dengan wajah sedikit bingung.
Max mengangguk dan tersenyum. "Aku mengatur sedikit kejutan untuk kita. Besok pagi, kita akan pindah ke sebuah hunian yang lebih nyaman dan luas. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu dan anak-anak kita."
Silka terkejut mendengar kabar itu. Dia tidak menyangka Max akan mengambil langkah secepat ini. Meskipun masih ada keraguan dalam hatinya, dia merasa senang dengan upaya Max untuk memberikan mereka kehidupan yang lebih baik.
"Max, aku... terima kasih," kata Silka dengan suara terisak. "Aku masih mencoba memahami semuanya dan memperbaiki hubungan kita. Tapi aku menghargai upaya yang kau lakukan untuk keluarga ini."
Max mendekati Silka dan memeluknya dengan lembut. "Aku berjanji akan selalu berusaha, Silka. Aku tahu aku telah membuat banyak kesalahan, tapi aku ingin membuktikan diriku sebagai suami dan ayah yang bisa kau andalkan." Hidung Max mengendus aroma wangi dari wanita yang baru saja mandi ini. Ada sesuatu yang telah lama ia pendam seakan bangun kembali.
Silka membalas pelukan Max dengan erat. Meskipun masih ada keraguan dan luka di dalam hatinya, dia merasa bahwa mereka sedang melangkah ke arah yang benar. Mereka berdua menyadari bahwa membangun kembali hubungan dan memperbaiki kepercayaan membutuhkan waktu, tetapi mereka siap untuk melakukannya.
Jena dan Juno, yang terbangun oleh keributan tersebut, masuk ke ruangan dan melihat kedua orangtuanya saling berpelukan. Wajah mereka dipenuhi dengan ekspresi haru dan bahagia.
"Daddy dan Mommy sudah tidak bertengkar lagi, ya?" tanya Juno dengan suara gembira.
Jena mengangguk dan tersenyum. "Ya, keluarga kita sedang memulai lagi. Kita akan saling mendukung dan memperbaiki hubungan kita. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia, seperti yang kita impikan."
Anak-anak itu bergabung dalam pelukan keluarga, merasakan kehangatan dan kebersamaan yang lama hilang. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka untuk memperbaiki hubungan tidak akan mudah, tetapi mereka yakin bahwa dengan cinta dan kesabaran, keluarga mereka bisa bersatu kembali.
Meski harapan Max gagal untuk menyatu kembali dengan Silka, setidaknya malam ini ia bisa merasakan bagaimana tidur satu ranjang yang tidak terlalu besar, diisi oleh empat orang.
Aksi tidur Jena dan Juno sungguh sangat liar. Tak sekali dua kali Max merasakan pukulan dan temdangan anak yang bertumbuh itu dalam tidurnya. Hal ini membuat ia tak bisa memicingkan mata sedikit pun.
__ADS_1
Saat Jena dan Juno terbangun, ia melihat sosok yang berjalan terhuyung-huyung.
"ZOMBIIIEEE!"