Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
8. Rasa yang Berubah


__ADS_3

Silka terlihat semakin gugup karena pertanyaan yang baru saja diutarakan oleh Jodi. Dia ragu untuk menjawab pertanyaan yang terasa terlalu frontal pada orang yang baru dikenal.


"Maaf Jodi, itu adalah urusan pribadi ku. Tapi, dalam konteks latihan judo ini, kita harus fokus pada pembelajaran dan pengembangan keterampilan kita. Apakah kamu bisa menghargai itu?" jawab Silka dengan bijaksana.


Jodi tersenyum tipis melihat Silka yang terganggu oleh pertanyaan yang baru saja diutarakannya.


"Baik lah, maafkan aku. Aku hanya ingin tahu apakah kamu boleh didekati atau tidak. Biar aku bisa menjaga sikap kepadamu. Jika memang tidak ada orang yang akan marah, bisa jadi kan suatu hari kita akan memiliki sebuah hubungan yang tak terduga."


Wajah Silka yang putih pucat, terlihat merona atas rayuan yang diberikan Jodi. "Jodi, aku harap di antara kita tidak ada sesuatu istimewa selain hanya menjadi rekan satu tempat latihan."


Jodi tersenyum sedikit sinis. "Baik lah. Setelah ini aku akan lebih fokus pada latihan dan berusaha menjaga sikap sopan selama waktu kita berdua berlatih bersama. Sepertinya kamu memiliki sebuah hubungan rahasia yang tidak bisa aku ketahui."


Saat pulang latihan, Silka merasa bingung dengan apa yang ada di hatinya. "Entah kenapa, saat bersama Jodi, tak ada bedanya seperti saat bersama Max. Ini sungguh mengganggu pikiranku."


Keesokan sore kala tidak ada jadwal latihan, Silka memilih mengisi harinya dengan lari santai. Silka terus memikirkan bagaimana keadaan Max selama ia tinggalkan. Ini sungguh membuat pikirannya terus terbebani.


Silka berlari mengelilingi kota. Menikmati suasana sejuknya sore hari di musim gugur yang mulai terlihat karena dedaunan mulai berguguran. Tak sedikit pasangan yang terlihat berlari selain dirinya.


"Entah kenapa tiba-tiba aku merasa iri melihat mereka. Mereka yang saling mencinta, bisa bersatu dan tentu terasa sangat indah. Berbeda sekali denganku yang dipaksa menjadi seorang mafia. Huffftt..." Silka melanjutkan berlari santai sembari menikmati pemandangan musim gugur yang sangat indah.


"Aaggghhh!"


Silka dikejutkan oleh suara teriakan seseorang.


Dug


Dug


Tak


Tak

__ADS_1


Setiap suara dentuman itu, terdengar teriakan seorang pria. Kepala Silka mulai liar mencari sumber suara. Di sebuah sisi, ia melihat pria-pria menggunakan pakaian serba hitam tengah memukuli seorang pria.


Sontak Silka berlari ke arah sana dengan refleks langsung melayangkan tendangannya. Pria berpakaian hitam itu jatuh terjengkang.


"Kalau kalian seorang yang jantan, kalian tidak akan main keroyokan!" teriak Silka.


Mata Silka terbelalak melihat orang yang mendapat serangan itu. Dia adalah Jodi. "Jo-Jodi? Apa kau baik-baik saja?"


Silka merasa amarah melihat temannya dikeroyok seperti itu, segera melayangkan pukulan dan tendangannya. Teriakan demi teriakan kesakitan terdengar dari mulut mereka.


"Dia kuat sekali," gumam salah satunya.


"Ayo kita kabur!"


"Kabur!" ucap komplotan itu lari terbirit-birit menuju suatu tempat. Mereka mengaduh kesakitan.


"Aku tak menyangka Nona Silka sampai sekuat itu!" ucap salah satu dari mereka mengusap perutnya.


"Itu tandanya, Nona Silka sudah pantas untuk kita ratukan," ucap Tom membuka masker yang menutupi wajahnya.


"Sakit, aku kesakitan," ringis Jodi.


Silka menarik tangan pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. "Ayo kita duduk di sana, aku akan memeriksa luka pada tubuhmu," ucap Silka menunjuk sebuha bangku kota.


Jodi menganggukan kepala menyembunyikan senyumannya. Kali ini ia merasakan kembali masa lalu yang terus berjalan di kepanya.


'Apa kamu tidak mengingat ini, Sayang? Ini aku ... Orang yang dulu pernah kamu selamatkan.'


Silka terus memapah Jodi dan mengajaknya duduk pada bangku yang ada di pinggir jalan. Ia memeriksa keadaan Jodi dengan seksama.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka menyerangmu?" tanya Silka.

__ADS_1


"Oh, mereka meminta uang kepadaku. Aku bilang tidak memiliki uang, tetapi mereka malah marah dan mulai mengeroyokku," cerita Jodi berbohong.


Silka yang termakan kebohongan itu merasa kesal dan marah. "Kurang ajar sekali mereka! Berani sekali menindas orang yang lebih lemah."


Silka menatap Jodi dengan dalam. "Mulai hari ini, aku akan menemani dan mengajari judo hingga kamu bisa membalas orang-orang seperti itu," ucapnya dengan mantap.


"Benar kah? Apakah ini artinya kita akan bertemu setiap hari?" tanya Jodi sumringah.


"Iya, tentu. Kita akan bertemu dan latihan bersama setiap hari."


Wajah Jodi terlihat menyembunyikan sesuatu. Namun jelas, ada kebahagiaan di balik itu semua.


Selama beberapa minggu berikutnya, Jodi dan Silka terus berlatih judo bersama. Silka berusaha memberikan bimbingan yang tepat dan membantu Jodi mengembangkan keterampilan judo-nya. Meskipun Jodi terkadang masih terlihat tidak tertarik dengan materi pelajaran, dia tetap berusaha melakukan yang terbaik dan mendengarkan arahan Silka.


Dalam prosesnya, Jodi mulai mencoba mendekati Silka bukan hanya sebagai mitra latihan, tetapi juga sebagai istri yang ia sadari telah berusaha kabur darinya.


Jodi mulai memberikan Silka kopi di saat gadis itu terlihat menggesekan kedua tangannya karena suhu udara yang terus menurun menjadi dingin. Silka mulai merasa nyaman oleh sikap yang diberikan Jodi itu.


Jodi terus memberikan perhatian setiap waktu dan jalan berdua setiap usai latihan. Waktu terus berlalu, kehangatan mereka berdua semakin terasa. Jodi menatap tangan Silka yang kedinginan. Ia menarik tangan itu dan menggenggamnya masuk ke dalam kantong jubah panjang yang ia pakai.


Silka terpana akan sikap Jodi yang terus mulai merasuki hatinya. Namun, seketika ia teringat, ada bayangan pria yang hingga detik ini masih menjadi suaminya. Dengan cepat, Silka menarik tangannya. Silka berjalan cepat tanpa kata meninggalkan Jodi.


"Silka, apa ada yang salah?" Jodi terus mendekat dan mengejar Silka.


"Berhenti! Kau tidak boleh mendekatiku!" teriaknya.


Keesokan hari, Silka tak lagi datang pada jadwal latihan. Jodi memutuskan untuk berbicara dengan Silka secara pribadi. Namun, Silka sama sekali tidak keluar dari rumahnya. Meskipun ia merasa tidak mencintai Max yang tertulis menjadi suaminya yang sah, tetapi ia merasa tak berhak untuk mencintai Jodi.


"Silka, aku tak tahu apa yang membuatmu marah atas sikapku. Aku hanya ingin meminta maaf atas sikapku yang kurang sopan waktu itu. Jujur, semakin waktu aku semakin nyaman padamu."


"Silka, aku ingin berterima kasih padamu karena telah bersabar dan membantu aku mengembangkan diri dalam judo. Aku sadar bahwa kamu adalah seseorang yang berkomitmen dan berbakat dalam bela diri ini," ucap Jodi dengan tulus.

__ADS_1


Silka masih hening tak bergeming. Ia merasa bersalah pada Jodi. Dia sendiri merasa bingung mengapa perasaan ini terus berubah.


"Silka, katakan padaku, apa yang membuatmu marah?" ucap Jodi kembali.


__ADS_2