Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
29. Kembali ke Kampus


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan, Juno? Mengapa kau berpikir demikian?" Max bangkit menyarungi dirinya dengan selimut yang tadi menutupi tubuh kekarnya. Ia tak ingin, anak-anaknya ini menebak-nebak permainan apa yang tadi malam dilakukannya bersama Silka.


"Daddy sendiri mengatakannya kan?" ucap Juno mendelik menatap sang ayah.


"Tidak! Tentu saja tidak! Kalian berdua dan Mommy, adalah orang yang paling penting bagi Daddy."


Jena dan Juno saling bertatapan kembali. "Namun, kenapa Daddy sampai berbicara seperti itu? Apa yang Daddy lakukan sebelum menemukan kami? Lalu, apakah saat berada di taman dulu, Daddy sudah tahu tentang kami anak-anakmu?"


Juno kembali memberikan serangkaian pertanyaan yang membuat Max tak bisa berkata-kata. Akhirnya, Max terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Sepertinya, kamu akan sangat cepat menggantikan Daddy. Kamu akan menjadi pemimpin hebat bagi klan kita nanti, Juno. Rajin lah belajar! Agar kamu bisa dengan segera menggunakan nalarmu, dan membantu Daddy dalam memperluas wilayah kekuasaan kita." Max tertawa memasang wajah jumawanya.


"Apa yang akan kau lakukan pada anak-anakku?" bentak Silka yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Oh, bukan sesuatu yang serius, Sayang. Kamu jangan terlalu panik seperti itu." Max bangkit masih terbungkus dengan selimutnya menuju kamar mandi.


Silka menatap si kembar dengan bergantian. "Katakan padaku, apa yang baru saja Daddy ucapkan kepada kalian? Kenapa Mommy mendengarnya serius sekali?"


Jena dan Juno menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan apa-apa, Mom. Daddy menyuruh kami sekolah dengan rajin," ucap Juno mengedipkan matanya kepada Jena.

__ADS_1


*


*


*


Di tempat lain, pada sebuah bangunan yang tampak cukup luas, terjadi sebuah obrolan yang cukup serius.


"Jadi, Maximo berhasil melumpuhkan Blackorchid dan merebut kekuasaan mereka?" tanya seorang pria yang menjepit cerutu pada jemarinya. Sejenak, ia menghisap cerutu itu dengan dalam.


"Begitu lah, Boss. Maximo berhasil menambah kekuasaannya kembali. Dan, perbatasan Blackorchid itu dekat sekali dengan wilayah kita. Saya takut, jika klan mereka mencoba untuk memasuki wilayah kita. Ini sungguh sangat meresahkan," ucap kaki tangannya.


"Coba kalian cari kunci penyebab yang membuat Max itu semakin menggila seperti saat ini. Coba kalian cari tahu informasi mengenai keluarganya. Jika kau mendapatkan sesuatu, katakan kepadaku secepatnya! Kita akan menjatuhkan Max, dan merebut segala yang ia miliki!"


"Baik, Boss!"


*

__ADS_1


*


*


Hari ini, Silka memutuskan untuk mendatangi kampusnya dulu, tempat di mana ia pernah menggantungkan harapannya sebagai mahasiswi di sana. Berhubung putra putrinya belajar di sekolah, ia akhirnya memilih mencari informasi sendiri di kampusnya.


"Silka, ke mana saja kamu selama ini?" tanya Mister Brown, salah satu dosen yang sangat mengharapkan Silka menyelesaikan perkuliahannya hingga lanjut ke tingkat yang lebih tinggi lagi.


"Halo, Mister Brown. Apa kabar? Sudah lama tak melihat, Anda, tetapi Anda masih terlihat sama seperti yang dulu," ucap Silka memasang wajah sumringahnya, cukup bahagia bertemu dengan salah satu dosen yang ia kagumi.


"Ke mana saja kau, Silka? Apa yang kau lakukan hingga hilang tanpa kabar? Bagaimana dengan pendidikanmu? Apakah kau melanjutkan perkuliahan di tempat lain?"


Silka memasang wajah kikuk. "Saya tak melanjutkannya lagi, Mister Brown," ucapnya dengan nada sedih.


"Wah, sungguh sangat disayangkan. Padahal, jika kamu mau melanjutkan pendidikan tinggimu, siapa tahu kamu bisa menggantikan posisiku suatu saat nanti," ucap Mister Brown menggelengkan kepalanya.


"Anda bisa saja, Mister Brown. Saya datang ke sini karena mendapat berita yang cukup menggejutkan tentang Adel. Apa Anda masih ingat dengannya?"

__ADS_1


Raut wajah Mister Brown berubah seketika. "Ah, saya tidak tahu," ucapnya menutupi sesuatu.


__ADS_2