Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
27. Penjelasan


__ADS_3

"Namun, jangan seperti ini, Max. Kita ini adalah warga dari sebuah negara. Tak sepantasnya dengan begitu mudah untuk menghilangkan nyawa seseorang. Bagaimana dengan karakter anak-anakmu nanti?" gumam Silka menuju ke sekolah anak-anaknya. Ia tidak jadi membeli bahan-bahan dapur seperti rencana.


Namun, tanpa ia sadari, sebenarnya dari tempat yang tak bisa ia lihat, Silka selalu dipantau oleh anak buah Max. Hanya saja, saat mereka mengetahui kondisi istri dari bos mereka masih bisa ia kendalikan, mereka masih betah dalam persembunyian.


Saat Silka telah mendekat lokasi sekolah si kembar, para pengawal yang diutus untuk menjaga sekolah mereka pun pontang panting untuk menghilang. Karena mereka tak ingin ada masalah lain bila ketahuan terus memantau sang Nyonya besar.


Silka tiba di pintu gerbang sekolah si kembar dengan pikiran yang penuh kegelisahan. Ia ingin mengetahui kebenaran di balik kejadian beberapa tahun lalu yang melibatkan Max dan berita tak terduga lainnya mengenai kematian Adel. Meskipun mereka telah hidup damai saat ini, masa lalu yang baru saja mencuat, membuat beban di pikirannya sedikit bergejolak.


Meskipun ia mengaku tidak memiliki simpati sama sekali kepada Beriel, tetapi nalurinya bergejolak. Ia tahu, Adel dan seluruh anggotanya selalu berbuat jahat, tetapi ia tak terima jika di balik ini semua adalah campur tangan suaminya, Max.


Setelah memarkir mobilnya, Silka mengambil ponselnya dan menghubungi Max. Suara Max terdengar serius ketika ia menjawab panggilan tersebut.


"Max, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Aku bertemu dengan seseorang hari ini yang mengklaim bahwa Adel meninggal karena aku membayar seseorang untuk melakukannya."


Di seberang panggilan, Max terdiam mendengar cerita Silka.


"Max, apa ini adalah ulahmu dan anak buahmu?" todong Silka. Namun, Max hening tanpa jawaban.


"Apakah semua itu benar?" tanya Silka, kali ini dengan suara gemetar.


Max masih terdiam di ujung panggilan. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menjawab dengan suara rendah. "Silka, aku tidak pernah bermaksud menyakiti Adel dan kawan-kawannya. Hanya saja, aku tak bisa menerima jika kamu, istriku, diperlakukan dengan semena-mena oleh mereka."


Silka merasa perasaannya bergejolak. Meskipun dia mencintai Max, rasa sakit masa lalu masih membekas dalam hatinya. Dia ingin memahami kebenaran, tetapi juga merasa takut dengan apa yang mungkin akan terungkap.

__ADS_1


"Max, apa kamu tahu, dulu aku sangat membencimu dan seluruh orang yang ada di sisimu. Apalagi kau semena-mena membawa tubuh ayahku yang sudah tidak berdaya memaksa aku menikah denganmu."


"Tapi sejak kita bertemu kembali dan membangun kehidupan ini bersama, aku belajar untuk memaafkan dan melupakan masa lalumu. Tapi, jika kau benar-benar terlibat dalam kematian Adel, aku tidak tahu apakah aku bisa menerimamu dengan segala kelamnya dunia yang kau geluti," ucap Silka dengan suara sumbang.


Max berusaha menjelaskan, "Silka, aku janji padamu bahwa aku akan memberikan penjelasan yang sebenarnya. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Kita harus bertemu dan membicarakannya secara langsung. Mari kita bicarakan semuanya dengan jujur."


Silka menghela nafas panjang. Dia tahu bahwa dia harus memberikan kesempatan kepada Max untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan, dia mencintai Max dan ingin memahami seluruh cerita.


"Baiklah, Max. Kita akan membicarakannya nanti. Tapi, aku harap kamu harus ingat bahwa kejujuran dan kepercayaan adalah hal yang sangat penting bagiku," ucap Silka dengan nada tegas.


Mereka bersepakat untuk bertemu di rumah mereka setelah Silka menjemput si kembar dari sekolah. Meskipun masih ada banyak pertanyaan yang membebani pikirannya, Silka memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Max untuk menjelaskan segalanya.


Saat Silka tiba di sekolah, dia melihat anak-anaknya sedang bermain di halaman. Mereka langsung berlari mendekati ibu mereka dengan senyum cerah di wajah mereka. Silka merasa hangat di hatinya melihat kebahagiaan anak-anaknya.


"Seru sekali, Mom! Kami belajar tentang binatang-binatang di kebun binatang," jawab Jena dengan antusias.


"Heleh, binatang aja udah seneng segitunya. Harusnya di sekolah itu ada pelajaran mengenal nama-nama senjata, nama-nama alat perang, jenis-jenis senjata yang ada dunia, bukan binatang," ucap Juno sewot.


Silka hanya bisa tersenyum mendengar jawaban berbeda antara kedua anaknya. "Juno, di sekolah tak ada pelajaran yang seperti itu. Kalau kamu aneh-aneh, nanti guru-gurumu akan menanyakan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain tentang kita. Apa kamu mau dikeluarkan dari sekolah ini?" ancam Silka.


Juno membulatkan mata menutup mulut dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku mau sekolah. Aku mau pintar. Aku mau menguasai dunia," ucap Juno beralasan.


"Jika kalian masih ingin sekolah, maka kalian berlakulah layaknya anak-anak biasa. Persis seperti kalian belum bertemu dengan Daddy dulu."

__ADS_1


Juno dan Jena mengangguk kalem. Mereka menundukan kepala berpegangan pada tangan ibu mereka.


Setelah sampai di rumah, mereka duduk bersama di ruang keluarga, menunggu Max pulang untuk membahas masalah yang menghantui kepalanya.


Tak lama kemudian, Max tiba di rumah. Wajahnya terlihat tegang, tetapi terlihat penuh jelas keinginan untuk memberikan penjelasan kepada Silka.


"Juno, Jena, kalian masuk ke kamar. Daddy dan Mommy ingin berbicara," pinta Max.


"Kenapa harus ke kamar? Jena kan ingin mendengar Daddy bicara juga," tolak Jena.


"Iya, kami mau ikut mendengar juga," ucap Juno setuju.


Silka tak banyak bicara. Ia hanya membelalakan mata menatap dua bocah itu bergantian. Sehingga, kembar laki-laki dan perempuan itu takut dan menundukan kepala.


Juno menarik tangan Jena. "Ayo, kita tidur saja," ajaknya.


Setelah memastikan si kembar tak lagi berada di sisi mereka, akhirnya Max menggenggam tangan istrinya.


"Silka, maksudku, Sayang, aku tahu bahwa masa laluku tidak mudah untuk kamu terima. Hanya saja, aku melakukan itu semua demi kamu. Aku tak ingin kamu disakiti oleh mereka," ucap Max dengan suara serak.


Silka menatap Max dengan penuh arti. Dia ingin mendengar penjelasan yang lebih dalam lagi, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan.


"Sayang, jika hanya karena itu kamu membenciku, maka aku tak bisa berkata lagi" kata Max lagi. "Jika rasa cinta yang aku miliki selalu salah di matamu, aku akan membiarkanmu untuk pergi lagi. Bagaimana pun, aku tak akan bisa merubahnya. Aku akan tetap menghancurkan siapa pun yang menyakiti bagian dari hidupku, termasuk itu kamu."

__ADS_1


__ADS_2