Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
17. Pilih Mommy apa Daddy?


__ADS_3

Max cukup terkejut oleh pertanyaan yang begitu frontal terlempar dari mulut putranya ini. Namun, setelah itu dia terkekeh dan mengusap kepala Juno.


"Sepertinya, sifat Daddy turun seratus persen padamu, kamu benar-benar anak Daddy." Max mencoba memeluk Juno, tetapi bocah laki-laki itu menolak pelukan darinya.


"D-Daddy, aku... masih bingung. Aku takut kalau Daddy akan membuat Mommy terluka lagi. Aku ingin Mommy bahagia," ucap Juno dengan suara kecil, wajahnya tampak penuh keraguan.


Max merasa hatinya terenyuh mendengar ucapan putranya yang begitu jujur. Dia ingin meyakinkan Juno bahwa dia akan berusaha menjadi ayah yang lebih baik. Hanya saja, hatinya benar-benar tertutup untuk Silka. Tak ada lagi celah baginya untuk mencintai wanita, yang tak pernah mencintainya.


"Juno, Daddy tak bisa mengatakan isi hati Daddy tentang bagaimana Mommy. Namun, kalian harus tahu bahwa Daddy akan selalu ada untuk kalian berdua. Tidak hanya itu, Daddy berjanji tidak akan mengganggu Mommy lagi. Daddy ingin melihat kalian bahagia, sebagaimana seharusnya sikap seorang ayah."


Juno memandang Max dengan tatapan mencari kebenaran. Dia mencoba memahami perkataan Daddy-nya. Setelah sesaat berpikir, akhirnya dia menganggukkan kepalanya dengan hati-hati.


"Baiklah, Daddy. Aku memberikan kesempatan kepada Daddy untuk membuktikan bahwa Daddy bisa menjadi ayah yang baik bagi kami. Tapi, Daddy harus berjanji, agar tak lagi membuat Mommy menangis," ucap Juno dengan ekspresi perlahan membaik.


Max tersenyum terpaksa berjanji kepada anak-anaknya. "Terima kasih, Juno. Kamu telah memberi kesempatan kepada Daddy." Max memahami bahwa membangun kepercayaan tidak akan mudah, tetapi ini adalah langkah awal yang penting.


"Daddy akan bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan kalian. Daddy berjanji akan selalu ada untuk kalian dan menjaga keluarga kita dengan baik," ucap Max dengan suara penuh harap.


Jena, yang selama ini diam memperhatikan percakapan antara Daddy dan Juno, akhirnya ikut angkat bicara. Dia ingin menyampaikan perasaannya juga.


"Daddy, Jena... Jena ingin Mommy bahagia. Tapi, Jena masih sedih dengan apa yang terjadi. Jena mau Daddy tinggal bersama kami," kata Jena dengan tulus.


Max menyadari bahwa Jena juga sangat menyayangi ibunya, tetapi juga merindukan dirinya yang merupakan ayah mereka. Dia merasakan tanggung jawab untuk memperbaiki hubungan dengan putrinya.


"Tentu, Sayang. Daddy memahami perasaanmu. Daddy akan mencoba bicara pada Mommy agar kalian bertiga tinggal bersama Daddy," ucap Max dengan penuh perhatian.

__ADS_1


Jena mengangguk, menunjukkan bahwa dia menerima kata-kata Daddy-nya. Kedua anak itu masih memiliki keraguan dan rasa sepi tanpa kehadiran ayah. Akan tetapi mereka memberikan kesempatan pada Max untuk memperbaiki kesalahannya dan mereka berdua saling bertatapan.


'Kami akan menyatukan kalian kembali,' batin mereka serempak.


Silka, yang sejak awal mengamatinya dari jauh, menghampiri mereka dengan perasaan campur aduk. Dia masih merasakan luka dari perilaku Max, tetapi melihat upaya yang dia lakukan untuk merebut kembali cinta anak-anak mereka, dia merasa sedikit lega.


"Jena, Juno, Mommy juga ingin kalian tahu bahwa Mommy mencintai kalian dengan segenap hati. Kita semua butuh waktu untuk memperbaiki hubungan ini. Tetapi, mari kita berusaha saling mendengarkan, memahami, danmembangun kembali kepercayaan satu sama lain," kata Silka dengan suara lembut.


"Max, aku pikir kau akan benar-benar membawa kabur mereka jauh dariku. Tapi, syukur lah kamu tak melakukannya." Jeni kembali menggandeng tangan kedua buah hatinya.


"Bisa kah kau memberikan salah satu dari mereka untuk aku gandeng juga?" pinta Max.


"Kau mau ajak anakku ke mana?" tanya Silka sinis.


"Dia anak Jodi! Bukan anak Max! Kalian memiliki pribadi yang berbeda!"


"Sudah lah Silka! Aku bosan berdebat denganmu masalah ini. Aku hanya ingin lebih dekat lagi dengan anak-anakku! Setidaknya kau beri aku kesempatan yang lebih leluasa!"


Silka memasang wajah datarnya. "Ya, terserah mereka sih." Silka bergantian menatap Jena dan Juno. "Hayo, siapa yang mau ikut dengan dia?" tanya Silka setengah tak ikhlas.


"Daddy!" ucap Max geram.


"Iya, maksud Mommy, Daddy kalian? Ada yang mau ikut dengannya?"


Jena tiba-tiba melepaskan tangannya. Sementara Juno semakin erat menggenggam tangan Silka. "Oke, Jena mulai hari ini jadi anak Daddy. Ke mana-mana kamu boleh minta ditemani oleh Daddy!" ucap Silka ketus.

__ADS_1


Mulut Jena membulat. Dia mulai ragu memilih antara ibu atau ayahnya.


"Sudah, kamu ikut Daddy aja!" ucap Juno. "Biar Mommy hanya mikirin aku aja," tambahnya.


Jena merasa terjebak dalam dilema antara memilih ibunya atau ayahnya. Dia melihat wajah ibunya yang kecewa. Perasaan bingung dan takut memenuhi hatinya. Setelah beberapa saat berpikir, Jena akhirnya berbicara dengan suara gemetar.


"Maaf, Mommy, Daddy. Jena tidak bisa memilih antara kalian berdua. Jena sayang pada kalian berdua dan ingin kalian berdua bahagia. Jena ingin kita bisa menjadi keluarga yang bahagia seperti dulu lagi," ucap Jena dengan hati yang bergetar.


Mendengar perkataan putrinya, Silka merasa sedih dan bersalah. Dia menyadari betapa sulitnya posisi Jena dan berusaha untuk memahaminya. Ia menyadari sikapnya yang barusan telah memberi ultimatum pada bocah yang belum memahami hal berat telah membuat Jena merasa cemas.


"Jena, Mommy maafkan Mommy. Kamu tidak perlu memilih antara Mommy dan Daddy. Sepertinya, Mommy dan Daddy harus bekerja sama untuk memperbaiki hubungan kita dan membuat kalian berdua bahagia. Kamu adalah anak yang sangat istimewa bagi kami berdua," kata Silka dengan suara lembut, mencoba menenangkan Jena.


Max, meskipun terkecewa dengan keputusan Jena, mengerti bahwa kebahagiaan dan kepuasan Jena adalah yang terpenting. Dia ingin menunjukkan dukungan dan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Silka.


"Jena, Daddy mengerti perasaanmu. Kita tidak harus memilih antara Mommy dan Daddy. Kita bisa menjadi keluarga yang bahagia bersama-sama. Daddy berjanji akan berusaha lebih baik lagi untukmu dan Juno," kata Max dengan suara tulus.


Jena melihat kedua orangtuanya yang berusaha memahami dan mendukungnya. Dia merasa sedikit lega mengetahui bahwa mereka berdua peduli dan siap untuk bekerja sama. Akhirnya, dia tersenyum kecil.


"Terima kasih, Mommy, Daddy. Jena berharap kita bisa memperbaiki hubungan kita dan menjadi keluarga yang bahagia lagi," ucap Jena dengan suara lembut.


Silka dan Max saling berpandangan, merasa lega dan bersyukur bahwa Jena memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki hubungan keluarga.


"Max, sepertinya aku terlalu egois pada mereka. Jujur, aku merasa berhak sepenuhnya terhadap mereka karena aku merasakan pahitnya sendirian mengandung mereka di negara asing tanpa siapa pun yang mengenalku selain kawab-kawan di dojo dulu. Seandainya kau lebih jujur semenjak awal, mungkin aku sudah membuka hati semenjak awal."


Max memejamkan matanya. "Jujur, aku merasa kecewa padamu. Rasa benci ini sungguh amat besar ...."

__ADS_1


__ADS_2