
Silka menatap pria yang menggendong anak-anaknya dengan wajah kawatir. "Mengapa mereka tidak mau ikut? Apa yang terjadi?"
Salah satu pria berpakaian hitam menjawab dengan nada datar, "Sepertinya, mereka mengatakan bahwa mereka takut dengan wajah kami. Apalagi, sebelumnya mereka belum pernah melihat kami. Saya rasa, karena itu lah mereka takut."
Silka memeluk Juno dan Jena erat-erat, mencoba menenangkan mereka. "Nak, jangan takut. Daddy dan Mommy ada di sini, dan kami pasti akan menjaga kalian. Lagian, mereka itu adalah orang-orang yang bekerja pada Daddy kalian. Jadi, kalian tidak perlu khawatir."
Jena dan Juno masih menangis, takut melepaskan pelukan ibu mereka. Max mencoba mendekati mereka dengan hati lembut. "Nak, lihatlah di sini juga ada Daddy. Mereka tidak akan berani pada kalian. Kalian tidak perlu takut pada mereka atau siapa pun yang ada di dunia ini. Semuanya telah ada dalam genggaman tangan Daddy."
Meskipun masih menangis, Jena dan Juno mulai mereda sedikit. Mereka melihat ke arah ayah dan ibu mereka dengan wajah penuh keraguan.
Silka mengusap lembut pipi anak-anaknya. "Nak, percayalah pada Mommy dan Daddy. Kami tidak akan membiarkan siapa pun yang menyakiti kalian."
__ADS_1
Perlahan, Jena dan Juno melepaskan pelukan mereka dan memandang ibu dan ayah mereka dengan mata penuh kerinduan. Mereka merasa sedikit lega dan mengerti bahwa ibu dan ayah mereka tidak akan meninggalkan mereka.
Pria yang menggendong anak-anak tadi meletakkan mereka dengan lembut di lantai. "Apakah kalian bersedia ikut bersama kami sekarang?"
Jena dan Juno saling memandang sejenak, lalu menganggukkan kepala mereka dengan ragu. Mereka meraih tangan ibu dan ayah mereka, siap untuk pergi bersama.
Silka dan Max memberikan senyuman hangat kepada anak-anak mereka. "Bersiap lah, kita akan meninggalkan tempat ini. Aku tidak tega melihat kalian tinggal di tempat ini. Aku akan memberikat tempat yang jauh lebih nyaman dari rumah ini," kata Max dengan lembut.
Mereka berjalan menuju pintu dengan hati-hati, tetapi tiba-tiba terdengar suara ledakan di luar. Semua orang terkejut dan ketakutan. Mereka berusaha mencari perlindungan di dalam rumah.
Silka memeluk anak-anaknya erat-erat, air mata mengalir di pipinya. "Kita harus pergi dari sini, mencari tempat yang lebih aman."
__ADS_1
"Apa yang terjadi Mommy?" tanya Jena ketakutan.
Max memberi kode kepada anak buahnya untuk mengecek situasi di luar sana. Max memeluk Silka dan si kembar. "Kalian jangan takut! Aku akan melindungi kalian."
Setelah itu, Max mengajak mereka untuk mengikutinya di belakang. Dengan sikap waspada, Max berdiri pada posisi paling depan, sebagai tameng pelindung keluarganya.
Tak lama kemudian, Tom tergopoh mendekati Max dan keluarganya. "Boss, Klan Blackorchid mengetahui rahasia keluarga Anda, Boss!"
"Mereka mengetahui keberadaan keluarga Anda di sini dan mungkin akan membawa mereka. Beruntung, Anda telah bersama mereka, jadi kita bisa membawa Nona Silka dan Si kembar ke tempat yang lebih aman," terang Tom.
"Bagaimana kendaraan kalian? Aman?" tanya Max memastikan keadaan.
__ADS_1
"Kendaraan yang kami bawa tadi rusak parah kena bombardir mereka. Itu lah yang tadinya meledak, Boss. Sepertinya kita harus memanggil anggota lain untuk memberi pengamanan kepada keluarga Anda."
Max mengangguk. "Cepat hubungi mereka. Aku akan melindungi mereka semampuku."