Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
31. Jika Cinta, Tak Akan Membuat Khawatir


__ADS_3

...*Maaf ya pembaca semua. Aku Baru Up Lagi, Bulan Ini Kita Jumkat yaah, jadi dipastikan update tiap hari.*...


Di suatu tempat, sebuah kelompok mendapatkan informasi tentang wanita yang dekat dengan Max.


"Kalian sudah menemukan lokasi keberadaannya?" tanya sang pimpinan.


"Sudah, Boss," jawab anak buah serempak.


"Susul dan tangkap wanita itu!" ucap pimpinan klan jaguar.


Sementara itu, Silka masih duduk merenung di taman tempat ia berkuliah dulu. Ia menatapi kampusnya yang terlihat megah di luar dan dalam. Sungguh besar perjuangan para lecture yang bekerja di kampus ini, menutupi segala hal demi menjaga nama baik kampus ini.


"Baik lah, sepertinya tak ada lagi yang harus aku khawatirkan. Setidaknya aku tahu, suamiku benar-benar mencintaiku."


Silka bangkit dan beranjak untuk kembali menuju sekolah si kembar. Ia menengok jam pada pergelangan tangannya.


"Astaga, aku terlalu larus bernostalgia di tempat ini. Aku harus segera menjemput mereka."


Silka mempercepat laju jalannya, mencari kendaraan yang bisa ia tumpangi untuk membawa dirinya bisa ke lokasi sekolah si kembar. Ia baru menyadari bahwa ia telah sangat terlambat menjemput kedua bocah kesayangannya.


Di sisi lain, seorang wanita yang terlihat sangat seksi berjalan di pinggir jalan, area pertokoan. Ia sedang melirik pergelangan tangannya menatap sebuah gelang berlian yang ia dapatkan dari seseorang yang dulu pernah menggunakan jasanya sebagai wanita yang menemani pria kaya yang kesepian.


"Kapan aku memiliki pelanggan seperti itu lagi ya? Ah, ini sungguh tak datang dua ka— hmmmmmppp ...."


Tiba-tiba, mulutnya dibekap oleh orang yang tak dikenal. Ia mencoba memberontak, tetapi ternyata ia tak sendiri. Wanita itu diseret paksa memasuki sebuah van yang menunggu mereka di pinggir jalan.


Perlahan, pria yang memegangi sapu tangan yang telah dibubuhi bius tersebut dilepas. Wanita yang tadinya ia tangkap terus meronta.


"Lepaskan! Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" teriaknya terus meronta dalam genggaman pria-pria berpakaian serba hitam.


Namun, para lelaki yang berwajah beringas itu hanya memberikan senyuman liciknya.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" teriak wanita itu terus meronta. Namun, tak ada yang menanggapi kegaduhannya itu dan terus memeganginya.


Lama kelamaan, sang wanita merasa kepalanya semakin berat dan ia sangat mengantuk. Perlahan, ia mulai hening dan tertidur.


"Hahaha, akhirnya wanita berisik ini tenang juga. Sekarang, kita akan serahkan dia kepada boss!" ucap salah satu pria yang memeganginya.


Di tempat lain, Silka setengah berlari setelah turun dari taksi memasuki pekarangan sekolah anak mereka. Suasana sekolah itu terlihat sudah begitu sepi. Tak terlihat siapa pun yang menunggu di area sekolah.


"Di mana Jena dan Juno?" gumamnya.


Silka mencoba mencari kedua putra putrinya menuju ruang guru sekolah pre-school ini. Di sana, masih terdengar suara beberapa orang yang mengobrol.


"Spada? Permisi?" ucap Silka mengetuk pintu.


"Oh, ibu Jena dan Juno?" Miss Benedicta menyadari kehadiran orang tua siswanya itu pun mendekat. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang guru memasang wajah herannya.


"Maaf, Miss Benedicta. Apakah Anda melihat kedua anak saya?" tanyanya.


"Saya baru saja sampai. Siapa yang menjemput mereka? Kenapa Anda melepas anak saya begitu saja? Bukan kah sekolah sudah menjamin keamanan siswa di sini?" Silka mulai gusar, tak segan memarahi guru siswanya ini.


"Maafkan saya Nyonya Silka. Hanya saja, tadi mereka sudah pamit dengan riang mengatakan sudah ada yang menjemput. Maafkan kelalaian saya karena tidak mengecek langsung siapa yang tadinya menjemput mereka," sesal Miss Benedicta.


Wajah Silka merah padam. "Sepertinya saya harus segera memberikan laporan ke pihak kepolisian," ucap Silka.


"Tunggu! Bagaimana jika Anda mencoba menghubungi keluarga lainnya? Barangkali saja suami Anda atau Nanny mereka yang datang menjemput." Tiba-tiba, Miss Anne mendekat karena tertarik oleh keributan yang dibuat oleh Silka. Miss Anne adalah kepala sekolah di tempat ini.


Silka langsung teringat pada Max. "Kalau begitu, saya akan mencoba menghubungi suami saya."


Silka beranjak sejenak mencoba melakukan panggilan terhadap Max. Setelah panggilan tersambung, di balik panggilan terdengar teriakan Jena yang sedang ribut dengan Juno.


"Max, kau tahu, aku sangat pusing karena anak-anak hilang dari sekolah mereka. Namun, sepertinya mereka sudah ada bersamamu. Kenapa kau tak memberitahukanku jika telah menjemput mereka?" Silka langsung memarahi suaminya.

__ADS_1


"Ya, ini salahmu sendiri. Kenapa kau terlambat menjemput mereka? Untung saja Tom selalu siap sedia menjaga mereka. Jika tidak—"


"Jika tidak apa?" bentak Silka. "Harusnya kau memberitahu aku jika mereka sudah dijemput! Kau tidak mengerti bagaimana paniknya aku karena mereka sudah tidak ada di sekolah? Lalu, kenapa kau selalu menyuruh anak buahmu mengawal mereka? Mereka tak butuh pengawal! Biarkan mereka menjadi anak-anak biasa, sama halnya seperti anak-anak lain yang bersekolah di sana!" bentak Silka dengan penuh amarah.


"Kenapa kau malah menyalahkanku? Harusnya kau senang saat anak buahku selalu menjaga mereka, agar mereka terhindar dari bahaya."


"Kau bilang terhindar dari bahaya? Bahaya apa? Mereka hanya lah anak lima tahun biasa! Guru sekolah mereka pun bisa menjaga mereka dengan baik! Aku—"


"Berhenti lah mengoceh! Pulang lah! Kita bicara di rumah!" potong Max dengan cepat menghentikan omelan Silka. Panggilan pun ia tutup, hingga membuat Silka merasa semakin jengkel.


"Jika kau memang cinta padaku, harusnya kau tak membuatku khawatir seperti ini!" gumam Silka kesal, memasukan ponselnya kembali ke dalam tas yang ia pakai.


Silka melirik ke arah pintu ruang guru. Ia baru saja memarahi guru si kembar. Ia mulai memikirkan bagaimana cara untuk mengucapkan maaf.


"Ck!"


Silka berjalan perlahan dengan rasa malu yang sangat besar. Ia mengintip melihat suasana yang ada di sana. Tampak wajah Miss Benedicta yang jelas menyiratkan kecemasan meskipun Silka melihatnya dari jauh.


"Permisi," ucapnya pelan.


Miss Benedicta datang mendekat dengan langkah cepat. "Bagaimana, Nyonya? Apakah Jena dan Juno benar-benar sudah berada di rumah?" tanyanya khawatir.


"Maafkan saya, Miss Benedicta. Saya terlalu emosional hingga membuat semua guru di sekolah ini ikut menjadi panik. Ternyata, mereka sudah berada di rumah," ucap Silka menyesal.


Wajah Miss Benedicta seketika berubah lega dan ia menarik napas dengan lepas tanpa beban. "Syukur lah, Nyonya. Saya turut senang mendengarnya. Jika mereka belum pulang juga, saya sungguh akan merasa sangat bersalah. Tapi, syukur lah jika memang masih pihak keluarga yang menjemput mereka," ucap Miss Benedicta.


Silka menganggukan kepalanya kikuk. "Sekali lagi saya mohon maaf kepada Anda, Miss Benedicta. Saya sudah menuduh Anda dan pihak sekolah sebelum mengecek kebenaran," sesalnya.


Miss Benedicta tersenyum tulus. "Saya mengerti bagaimana perasaan Anda, Nyonya. Menurut saya, reaksi Anda itu sudah sewajarnya. Jika saya menjadi Anda, mungkin akan berlaku sama," ucapnya.


"Sekali lagi saya ucapkan 'maaf' dan terima kasih atas pengertian Anda, Miss. Kalau begitu, saya akan langsung mengecek mereka di rumah."

__ADS_1


Setelah pamit, Silka segera pulang ke rumah barunya yang diberikan oleh Max. Setelah sampai, hal yang dilakukan oleh ibu muda satu ini adalah segera mencari Max ke ruang kerjanya. Di sana, ia melihat Max sedang berteleponan dengan seseorang.


__ADS_2