
Malam itu, setelah sesi latihan mereka selesai, Max membawa Jena dan Juno ke ruang keluarga untuk istirahat dan berbicara tentang pentingnya kedisiplinan dan keberanian.
Max mengambil posisi duduk di antara Jena dan Juno, merangkul mereka berdua. "Hari ini, kalian berdua telah menunjukkan semangat dan tekad yang luar biasa. Daddy sangat bangga melihat kalian berusaha keras dan fokus dalam latihan."
Jena mengulas senyuman di bibirnya. "Terima kasih, Daddy. Kami berdua ingin menjadi kuat dan siap menghadapi apa pun yang akan terjaadi." ucap gadis kecil itu dengan percaya diri.
"Tapi, kita harus bisa melindungi diri kita sendiri dulu, baru bisa melindungi Mommy, Daddy, Jena, Uncle-uncle yang banyak." ucap Juno tak mau kalah.
Max terkekeh melihat tingkah dua buah hatinya yang terasa terlalu cepat untuk dewasa. Ia akhirnya mengangguk pertanda setuju pada ucapan para bocah kesayangan. "Tepat sekali, anak-anak. Tapi ingat, keberanian bukan hanya tentang kekuatan fisik. Itu juga melibatkan kebijaksanaan, pengendalian diri, dan penggunaan kekuatan dengan bijak."
Jena mengernyitkan dahi tidak memahami apa yang dikatakan ayahnya barusan. "Apa maksudmu, Daddy?"
__ADS_1
Max mengambil napas dalam-dalam mencoba memberi pengertian kepada anak yang masih duduk di bangku prasekolah ini. "Ketika kita memiliki keterampilan beladiri, begitu juga keterampilan bersenjata, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menggunakan kekuatan itu dengan bijaksana. Kita hanya boleh menggunakan kekuatan kita untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang lemah, yang membutuhkan bantuan. Kekuatan itu harus menjadi perlindungan, bukan sebagai alat penindasan."
Juno menyimak kata-kata yang diucapkan oleh sang ayah dengan baik. "Aku mengerti, Daddy. Kekuatan harus digunakan dengan hati yang baik."
Max mengusap punggung kedua anaknya dengan lembut. "Bagus! Kalian berdua sudah mulai memahami arti hidup yangsebenarnya. Yang paling penting, jangan pernah lupa bahwa keluarga kita adalah hal yang terpenting. Kita belajar beladiri dan menggunakan senjata untuk melindungi satu sama lain."
"Kami akan melindungi keluarga kita, Daddy." ucap Jena dan Juno bersama-sama.
Malam itu, keluarga Maximo menghabiskan waktu bersama, mengobrol dan saling mendukung.
Setelah kedua bocah itu terlelap karena rasa lelah yang luar biasa, Max pun menarik Silka yang sedari tadi sibuk membenahi peralatan di rumah baru mereka. Meskipun istrinya itu telah jago dalam bela diri judo, sepertinya ia tidak tertarik dengan segala hal yang berbau dunia yang digeluti oleh Max.
__ADS_1
"Sayang, malam ini adalah giliran bagi kita untuk bertempur. Rasanya sudah cukup lama kamu kuangguri karena dua bocah yang kamu rawat itu, tak pernah memberikan kesempatan untukku melepaskan kepenatan ini. Ah, mereka sungguh tak memahami perasaan Daddynya," ucap Max seraya mulai mengecup bibir Silka.
"Ah, masa segitu saja kamu tidak tahan? Lalu, selama kita berpisah, apa yang kamu rasakan?"
"Hmmm, akuu—"
"Kamu meniduri wanita lain?" tebak Silka memasang wajah menyelidik.
"Hmmm ...."
Raut wajah Max yang misterius itu membuat Silka merasa panas. "Ternyata semua laki-laki sama saja! Jika tak ada wanita di dekatnya, dia bisa sesuka hati menyikat yang lain meskipun ia mengaku tak cinta!" Silka bangkit, entah mengapa ia merasa marah sendiri membayangkan semua itu.
__ADS_1
Namun, Max menahan tangan Silka dan kembali menarik Silka ke atas ranjang. Ia menjepit Silka di bawah tubuhnya. "Ternyata, semua wanita sama saja. Bisa cemburu tanpa alasan karena tebakannya sendiri."