
Saat Silka mulai menjauhi sekolah, batinnya merasajan sesuatu yang tak lazim bagai udara yang sengaja membisikan sesuatu padanya. Dia mulai merasa waspada dan mengawasi keadaan sekeliling dengan hati-hati.
Silka terus berjalan dan tiba-tiba, beberapa orang muncul dari sudut yang buta dari penglihatan, bergerak cepat mendahului jalannya. Mereka berpakaian hitam dan wajah mereka tertutup oleh topeng. Silka langsung merasakan ancaman yang mengintai dan mengambil ancang-ancang. Mereka tak tahu bahwa Silka adalah ahli bela diri judo.
"Diam!" suara seseorang memerintah dengan tegas. "Jangan bergerak!"
Silka menahan napasnya, mencoba untuk tetap tenang dan nyatanya ia tidak takut sama sekali. "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanyanya dengan suara bergetar pura-pura takut.
"Kami ingin membicarakan sesuatu denganmu, Nyonya Silka," ujar salah satu dari mereka dengan suara bariton.
Silka mencoba menunjukkan ketakutannya, meskipun dia tak gentar sama sekali. Dalam keplanyanya sibuk untuk memikirkan cara untuk melindungi diri dan memberikan sinyal bahaya kepada Max.
Tiba-tiba, seorang anggota kelompok itu mendekat dan mencengkeram lengan Silka dengan kasar. "Kau tidak berpikir bahwa kau bisa melarikan diri, kan?"
Silka merasa sakit dan berjuang untuk membebaskan dirinya. Dia mencoba menarik tangan lawan yang telah membuat ia merasa sakit, lalu menghempaskan tubuh pria bertubuh besar itu.
Namun, tanpa ia duga, tiga orang yang berdiri di belakangnya bersiap untuk mendekat.
Hap
Kedua lengan Silka digenggam erat oleh dua orang. Dan, satu orang lagi membekap mulut Silka dengan sapu tangan yang telah dibubuhi obat bius.
Sementara itu, di dalam rumah, Max merasakan gelombang kecemasan yang tak biasa. Meskipun tubuhnya masih lemah karena luka-luka yang dideritanya usai kecelakaan, nalurinya sebagai pria yang melindungi keluarga pun segera bangkit. Dia merasa bahwa ada bahaya yang mengancam Silka dan anak-anaknya.
__ADS_1
"Boss, apa yang terjadi?" tanya anak buah yang menjaga, merasakan kecemasan yang tergambar dari raut wajah Max.
Max berusaha untuk bangkit dan mengabaikan rasa sakitnya. Dia tahu bahwa dia harus melindungi keluarganya, tidak peduli apa yang terjadi. Dengan niat yang teguh, dia memanggil kekuatan terakhirnya untuk bergerak.
"Kalian semua, ikut aku. Sampaikan pada Tom dan anggota lain yang berjaga di sekolah untuk terus menjaga si kembar," ucap Max kepada anak-anaknya dengan suara mantap.
"Baik, Boss." Mereka mengangguk, dan bergerak mengikuti langkah Max di belakang.
Dengan hati-hati, Max bergerak menuju pintu dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Dia merasa tak sabar dan tegang, tetapi dia tahu bahwa dia harus tetap tenang dan berpikir dengan jernih.
Di suatu tempat, berbentuk gudang yang sangat besar, Silka tergeletak dengan keadaan terikat oleh rantai dan mulut dikunci oleh lakban. Perlahan, ia mulai membuka mata, sadar dari b1us yang baru saja diberikan padanya. Ia mulai sadar, tetapi ia tahu bahwa ia tak bisa apa-apa.
Silka mulai memutar otaknya. Kali ini, ia merasa sungguh sangat terdesak. Lalu tiba-tiba, Silka bergerak meronta hingga rantai yang mengikat tubuhnya berbunyi. Saat rantai itu berbunyi, membuat para musuh menyadari bahwa t4wanan mereka telah sadar. Dengan cepat, mereka segera bergerak mendekat melihat Silka bergerai bagai cacing atau ul4r.
"Uuuh uuuhh uuhhh!" Silka berusaha untuk berbicara, tetapi lakban yang ada di mulutnya menghalangi itu.
Salah satu dari mereka segera membuka pengunci mulut Silka.
"Tolong lepaasss ... Aku kebelet pipis," rengeknya.
Para algojo itu saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala. "Tahan!" bentaknya.
"Kalian ini bener-bener tak berperikemanusiaan ya? Kalian menyuruhku menahan air seni, sedangkan kalian saja tidak bisa menahannya. Ini sama saja kalian memb*nuhku dengan perlahan! Kenapa tidak kalian t3mbak aja aku sekalian?" sungutnya.
__ADS_1
Para algojo kembali saling lirik. Akhirnya mereka sepakat untuk membuka kunci rantai, melepaskan ikatan pada tubuh wanita itu.
"Cepat selesaikan! Sebelum boss kami datang!" bentaknya sembari mendorong Silka yang sudah bersiap untuk berjalan.
"Ke arah mana?" tanya Silka.
"Sana!" tunjuk pria itu dan Silka bergerak sembari melirik ke segala arah sembari mencari celah untuk kabur.
Silka melangkah dengan hati-hati, berusaha untuk menemukan kesempatan untuk melarikan diri. Dia memperhatikan setiap detail sekelilingnya, mencari kelemahan musuh dan mencari tahu tempat keberadaan anak-anaknya.
Saat mereka melewati koridor yang gelap dan berliku, Silka tiba-tiba melihat celah kecil di salah satu dinding. Dia tahu inilah kesempatannya. Tanpa ragu, dia melompat dan menyusup ke dalam celah itu, mencoba bersembunyi dan mencari cara untuk menghubungi Max.
Sementara itu, Max dan para anak buahnya telah mengetahui apa yang terjadi dengan Silka. Tidak sulit baginya mendapatkan informasi dengan cepat. Saat ini, mereka telah berada pada lokasi Silka di s3kap. Mereka memasuki gudang yang gelap dan beralih ke mode serangan. Mereka bergerak dengan cepat dan hati-hati, mencari jejak Silka dan musuh yang mengancamnya.
Max merasakan adrenalin mengalir dalam dirinya, dia merasa tekadnya semakin kuat. Tidak ada yang bisa menghalanginya untuk melindungi keluarganya. Dia tahu bahwa waktu sangat berharga, dan dia harus menemukan Silka secepat mungkin.
Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari sisi lain. Max dan para anak buahnya bergerak lebih dekat, menggunakan keahlian mereka untuk melacak sumber suara. Mereka menemukan sekelompok orang yang terlibat dalam perkelahian.
Max menyadari bahwa salah satu dari mereka adalah Silka, yang sedang berusaha melawan para musuhnya. Dia merasa sangat marah melihat istrinya dikeroyok oleh banyak orang. Dia harus bertindak cepat untuk menyelamatkan Silka.
Dengan gerakan yang gesit dan terampil, Max dan anak buahnya menyerang para musuh dengan kekuatan dan kecepatan yang memukau. Mereka menghadapi musuh dengan mem*kul dan melayangkan tend4ngan, tidak membiarkan apapun menghentikan mereka.
Sementara itu, Max berlari menuju pada lokasi di mana Silka yang masih terjepit dalam duel melawan orang yang banyak. Dia melawan para musuh dengan kemampuan tempur yang luar biasa, memastikan bahwa tidak ada yang akan menyakitinya lagi.
__ADS_1