Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
16. Pendekatan Daddy


__ADS_3

Silka merasa hatinya teriris mendengar jawaban Jena. Dia merasa terhina dan terluka oleh tatapan sinis Max yang membuatnya merasa jatuh kembali. Air mata tak dapat lagi ditahan dan terus mengalir deras dari matanya.


"Daddy kalian masih hidup, Jena. Dan Daddy ada di sini," kata Max dengan lembut. Dia melihat betapa hancurnya Silka dan ingin memperbaiki kesalahannya.


Jena dan Juno saling memandang dengan kebingungan yang terpampang di wajah mereka. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka terlalu kecil bila disuguhi oleh masalah yang membuat orang dewasa lebih pusing.


Silka mencoba menguasai emosinya dan mengangkat wajahnya. Ia menarik kedua anaknya kembali mencoba meninggalkan Max yang terus berusaha merasuki pikiran putra putrinya.


"Tunggu!" ucap Max berusaha mengejar.


Namun, Silka tak mengubris dan terus menuju apartemennya. Jena dan Juno setengah berlari mengikuti langkah seribu yang dilakukan oleh ibu mereka.


"Silka, tunggu! Mereka anak-anakku juga! Jika kau banyak menemukan kesulitan saat merawat mereka, serahkan saja padaku! Aku tak akan menyiakan mereka lagi seperti dulu. Aku memang membencimu, tetapi tidak untuk anak—"


Brak


Pintu apartemen telah ditutup oleh Silka. Tak ada lagi kicauan Max yang bisa mereka dengarkan. Jena dan Juno menatap ibunya dengan wajah bingung.


"Mommy, kata Tuan tadi, dia adalah Daddy kami?" tanya Jena.


Silka mencoba menenangkan dirinya sendiri sejenak sebelum menatap kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia merasakan kebingungan dalam dirinya, tetapi tak ingin mengabaikan perasaan anak-anaknya.


"Ya, Jena. Tuan itu memang mengatakan bahwa dia adalah Daddy kalian," jawab Silka terpaksa mengatakan sejujurnya.


Jena dan Juno saling memandang dengan kebingungan yang semakin memuncak. Mereka mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka terima.

__ADS_1


"Mommy, apa itu berarti Daddy masih hidup?" tanya Juno dengan ragu.


Silka mencoba mengatasi kebingungan dan emosi yang bergejolak dalam dirinya. Dia menatap Jena dan Juno dengan perasaan campur aduk.


"Ya, Jena, Juno, Mommy juga bingung bagaimana harus mengatakannya. Namun, dia sudah mengaku bahwa dia adalah Jodi, orang yang membuat kalian hadir di dunia ini lewat rahim Mommy," jawab Silka dengan suara ragu.


Jena dan Juno terlihat bingung dan terkejut. Mereka mencoba memproses informasi baru yang mereka dengar.


"Mommy, apakah itu berarti Daddy masih hidup?" tanya Juno dengan tatapan penuh harapan.


Silka menggelengkan kepala, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Hufft ...." Silka mencoba menarik napas panjang sebelum memulai untuk menceritakan sebuah kenyataan yang akan diberikan kepada dua bocah kembar berusia lima tahun.


Silka mengajak mereka duduk di sofa agar bisa lebih santai lagi. "Jena, Juno, Mommy akan memberitahukan sebuah kenyataan yang Mommy sendiri cukup kaget menerimanya."


Kedua kembar itu memperhatikan Silka dengan seksama.


Dua wajah polos itu terlihat semakin kebingungan. "Maksudnya dia Max, Max itu Jodi Evans, tapi Mommy tidak tahu Jodi adalah Max, Tuan tadi?" ucap Juno yang lebih cepat memahami.


"Ya, intinya dia memang ayah kandung kalian. Dulu, Mommy mengira Jodi meghilang dan Mommy anggap dia telah mati. Namun, nyatanya sungguh membuat Mommy sangat terkejut. Max itu adalah Jodi dalam sisi berbeda."


"Huufftt, jadi orang tadi ingin membawa kalian untuk ikut bersama kalian."


Juno mengalungkan tangannya pada lengan Silka. "Nggak mau, Juno cuma mau sama Mommy. Orang tadi udah jahatin Mommy. Dia udah pergi. Berarti dia tidak boleh ada lagi."


Jena menggelengkan kepalanya. "Juno jangan berkata begitu. Daddy adalah ayah kita. Mommy adalah ibu kita. Bukan kah Miss Andrey sudah mengatakan bahwa setiap manusia punya pasangan? Jadi, Daddy itu pasangannya Mommy. Oleh sebab itu Juno dan Jena bisa terlahir di dunia ini," ucap Jena mengingat apa yang pernah diceritakan oleh guru di sekolahnya.

__ADS_1


Jena menatap ibunya dengan ekspresi campur aduk. "Mommy, apakah kita bisa kembali bersama Daddy? Bukan kah dia Daddy kami?"


Silka merasakan kebingungan dan keraguan dalam dirinya sendiri. Hatinya masih terluka penipuan yang dilakukan Max terhadap dirinya. Namun, ia juga sadar bahwa anak-anaknya juga membutuhkan sosok ayah mereka.


"Kita harus berbicara lebih lanjut tentang ini, Jena, Juno. Mommy tidak bisa langsung dekat begitu saja menyerahkan kalian kepadanya. Tetapi, ingatlah bahwa Daddy kalian telah melakukan kesalahan yang tidak bisa Mommy maafkan hingga seumur hidup. Kita harus berhati-hati dan memikirkan baik-baik sebelum membuat keputusan."


Jena dan Juno saling bertatapan, mencerna kata-kata ibu mereka dengan serius. Mereka tahu bahwa ini adalah keputusan yang besar dan penting dalam hidup mereka.


"Mari kita bicarakan bersama-sama dan mendengarkan hati kita masing-masing. Kita akan menemukan jalan yang tepat untuk keluarga kita," ucap Silka dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan kepada anak-anaknya.


Keesokan harinya, setelah Jena dan Juno pulang sekolah, mereka terkejut melihat pria yang kemarin mengejar mereka sedang menunggu mereka di depan gerbang sekolah. Wajah mereka mencerminkan campuran antara kegembiraan dan kebingungan.


Kepala mereka mulai liar mencari satu sosok. "Mommy mana ya?" tanya Jena. "Atau, Mommy meminta Daddy untuk menjemput kita?" tanya Jena kembali.


"Gak mungkin. Mommy udah bilang akan menjemput kita sedikit terlambat kan?" ucap Juno mengingatkan.


"Tu-Tuan?" Jena memanggil dengan ragu.


Max tersenyum lembut. "Halo, Jena, Juno. Bolehkah Daddy bicara sebentar dengan kalian?"


Jena dan Juno saling berpandangan, mencari tahu arti akan semua ini. Akhirnya, mereka mengangguk dan mendekati Max dengan hati-hati.


Max mengambil napas dalam-dalam. "Daddy tahu ini semua sangat membingungkan bagi kalian. Tapi, Daddy ingin menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang telah terjadi."


Jena menatapnya penuh harap. "Benarkah Tuan itu Daddy kami?"

__ADS_1


Max mengangguk. "Ya, aku adalah Daddy kalian. Maafkan Daddy tak pernah hadir bersama kalian selama ini. Tapi, Daddy hanya ingin kalian paham, bahwa semua yang diceritakan oleh Mommy belum tentu benar. Daddy ingin kalian juga mempercayai Daddy."


Juno masih terlihat skeptis. "Mommy bilang Daddy telah menyakitinya. Bagaimana kita tahu Daddy tidak akan melakukannya lagi?"


__ADS_2