
Tubuh lelah Silka yang berada di dalam pelukan Max, terkulai tak berdaya karena mereka baru saja menyatu dalam indahnya cinta dan kerinduan.
"Ah, kenapa kali ini kau begitu buas?" ringis Silka, tubuhnya ringkih seakan tak bertulang.
"Sepertinya, benar apa yang dikatakan orang. B3rc1nta setelah sebuah pertengkaran akan terasa lebih bermakna. Apalagi, kita sudah sangat lama tak melakukannya lagi. Jujur, selama ini aku sangat merindukan itu. Tapi, aku dikekang rasa benci yang tak bertepi karena kau berani sekali menerima Jodi, di saat kau masih istrin seorang Max."
Silka membuang muka. "Maaf, kala itu seorang Jodi mampu mencuri segala perhatianku akan segala sikapnya. Akan tetapi, seorang Max hanya seorang dingin yang tak mau menemuiku sama sekali setelah memaksaku menikah dengannya."
Max menarik tubuh Silka yang membelakanginya. "Apakah kamu tahu, aku sudah jatuh cinta padamu semenjak kamu masih berusia tujuh tahun?"
Silka menatap mata Max dengan dalam. Ia tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh pria ini.
"Apa kamu ingat, seorang siswa yang terluka? Kamu membawanya ke rumahmu dan mengobati semua luka yang ada pemuda itu."
Silka memejamkan matanya, ia mencoba mengingat semua kejadian itu. "Ah, seepertinya aku ingat. Seorang siswa yang bertubuh tinggi dan wajahnya terlihat tampan setelah lukanya dibersihkan." Silka mencoba mengingat kembali wajah pemuda itu.
Lalu, Silka menatap wajah Max dan keningnya bergerak seakan mengingat sesuatu. "Apakah pemuda itu dirimu?" Silka membelai wajah Max yang tak lagi memiliki jenggot dan kumis.
"Pemuda yang memiliki luka di wajahnya, bukan? Ya, itulah aku," jawab Max dengan lembut. Tangan Max mulai membelai wajah Silka, yang begitu terkunci di dalam hatinya.
Silka terdiam sejenak, mencerna semua informasi yang baru saja dia terima. Pikirannya melayang ke masa lalu, mengingat bagaimana dia merawat pemuda itu dengan penuh kasih sayang dan perhatian.
"Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?" tanya Silka dengan suara terguncang.
Max menatap Silka dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku takut. Aku takut aku akan menjadi beban bagimu. Aku takut kau tidak akan mau menerimaku dengan luka dan kekuranganku. Aku ingin menjadi lebih baik, menjadi seseorang yang bisa kau banggakan."
__ADS_1
Silka merasakan kehangatan dalam dadanya. Dia menggenggam tangan Max dengan penuh kasih sayang. "Max, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kita semua memiliki luka dan kekurangan. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling menerima dan mencintai satu sama lain dengan segala keadaan kita. Aku tidak membutuhkan versi sempurna dari dirimu, aku hanya membutuhkan seseorang yang ada di sampingku untuk mendampingiku."
Max tersenyum lembut, hatinya dipenuhi dengan perasaan lega dan bahagia. Dia merasa diterima oleh Silka apa adanya, tanpa syarat.
"Maksudku, ketika kau datang ke rumahku hari ini, aku merasa ada yang berbeda. Ada perubahan di dalam diriku. Aku merasa ada kekuatan yang menuntunku untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya," kata Max dengan penuh rasa syukur.
Silka menyentuh pipi Max dengan lembut. "Aku merasakan hal yang sama, Max. Aku merindukanmu, dan hatiku selalu terisi olehmu. Kita telah melewati banyak hal bersama, dan aku ingin kita melanjutkan perjalanan ini bersama-sama, membangun masa depan yang penuh cinta dan kebahagiaan."
Mereka saling tersenyum, merasakan getaran cinta yang tak terbendung di antara mereka. Satu kali penyatuan kembali terjadi hingga Silka merasa benar-benar tak bisa berkutik lagi.
"Kamu, benar-benar tak ada matinya, Max." Silka mengecup dada bidang milik Max.
Max dengan lembut, mengekspresikan kelembutan dan kehangatan hatinya yang tak terbatas. Keduanya terus menikmati momen intim mereka dengan penuh kelembutan dan keintiman.
Di dalam kamar yang masih benderang oleh cahaya mentari, mereka menggambarkan kisah cinta yang indah dan menggetarkan jiwa. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi ketidakpastian. Hanya ada kepercayaan dan ketulusan dalam setiap gerakan mereka yang saling mengisi dan melengkapi.
Mereka berdua mengalami puncak kebahagiaan bersama, menggenggam erat satu sama lain, menikmati ekstasi yang begitu intens dan mendalam. Mereka terpesona oleh keintiman yang mereka bagikan, dan dalam momen itu, mereka merasa seperti satu jiwa yang bersatu.
Setelah mencapai ******* yang memabukkan, mereka terbaring di atas ranjang dengan napas yang terengah-engah. Max memeluk Silka erat-erat, sementara Silka meletakkan kepalanya di dada Max yang hangat. Mereka saling berbisik kata-kata sayang dan saling menggenggam erat tangan satu sama lain, merasakan kehadiran yang begitu nyata dan tak tergantikan.
Dalam pelukan yang lembut, mereka merasakan ketenangan dan kedamaian yang luar biasa. Mereka tahu bahwa mereka telah menemukan tempat mereka yang sejati, tempat di mana mereka dapat mengekspresikan cinta mereka dengan bebas dan tulus.
🎵la la la🎵
Nada panggilan Silka berbunyi. Ia refleks menatap jam pada dinding. "Astagah!" Silka mencoba bangkit, tapi tubuhnya sunggu terasa tidak mampu lagi.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?" tanya Max membelai rambut Silka.
Silka meraba ponselnya yang masih berbunyi. Dalam layar ponsel tersebut tertulis nama guru sekolah si kembar. "Hallo Miss, ya maafkan saya. Saya akan segera menjemput mereka."
Silka melirik waktu yang telah menunjukan pukul 12 PM. "Ah, kenapa aku sampai tidak sadar kita bergumul sudah terlalu lama."
Silka mencoba melangkahkan kakinya yang masih terasa gemetar. Max melirik wanita yang menjadi istrinya kembali. Ia bergerak dan mengangkat tubuh yang kelelahan itu.
"Biarkan Tom yang menjemput mereka. Kita membersihkan diri dan menunggu mereka saja di sini." Max membawa Silka masuk ke dalam kamar mandi menempatinya di dalam bathup. Ia segera menghubungi Tom.
"Kamu jemput kedua anakku di sekolah mereka!"
"Siap, Boss!" ucap Tom bersemangat. "Sepertinya baru, Anda baru saja menyiapkan adik bagi si kembar ya, Boss?" canda Tom.
Max hanya menutup panggilan dan membantu Silka membersihkan diri.
Tak lama setelah mereka bersiap, terdengar suara tangisan yang sangat nyaring. Juno dan Jena terdengar meraung sejadinya membuat Silka refleks mengejar pintu mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Wajah Silka terperangah melihat kedua anaknya menangis dengan kejer di atas gendongan beberapa pria berpakaian serba hitam.
"Apa yang kalian lakukan pada anak-anakku?" Silka menyambut dua bocah itu dan memeluknya.
Max pun muncul dan berdehem. "Kenapa mereka menangis seperti itu?" tanya Max.
"Maaf, Boss. Mereka tidak mau ikut dengan kami. Jadi, dengan terpaksa kami menggendong mereka agar mau pulang bersama kami."
__ADS_1