Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
9. Di Antara 2 Pilihan


__ADS_3

Silka menatap Jodi dengan ekspresi campuran antara kebingungan, kesedihan, dan kegelisahan. Dia merasa terjebak dalam konflik emosional yang rumit.


"Jodi, aku... Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu," kata Silka dengan suara lirih. "Aku tidak marah, tetapi aku sendiri merasa bingung dengan perasaan yang sedang kurasakan. Ini bukan hanya tentang kamu atau siapa pun. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku, dan aku belum siap untuk melibatkan diri dalam hubungan apapun saat ini."


Jodi mendekati Silka dengan wajahnya menggambarkan sebuah kesenduan. "Silka, sepertinya kamu sedang mengalami masa sulit, tapi aku hanya ingin kamu tak menutup hati dengan sepenuhnya. Kita bisa saling mendukung dan memahami satu sama lain. Aku hanya ingin berada di sampingmu." Jodi alias Max, merasa tak ingin hal yang sama terulang kembali. Cukup satu kali Silka lari darinya sebagai seorang Max, tetapi jangan sampai jika telah menjadi Jodi pun, Silka kembali menjauh darinya.


Silka membayangkan wajah Jodi di dalam pikirannya. Dia merasakan ketulusan yang dalam lewat ucapan Jodi barusan. Akan tetapi, ia juga merasa takut akan konsekuensi yang mungkin terjadi jika dia membiarkan perasaannya berkembang. Ia masih sadar diri, saat ini masih memiliki status menjadi istri seorang pria bernama Max.


"Jodi, kamu tidak mengenalku dan segala hal tentangku. Aku ini bukan lah orang baik seperti yang kamu pikirkan. Aku juga tidak ingin membawamu ke dalam kekacauan itu. Aku takut melukaimu." Ia kembali teringat bagaimana watak Max yang tidak begitu ia kenal. Baginya, Max hanya lah pria keji yang selalu membuat perasaannya berdebar karena rasa takut yang luar biasa.


Jodi menyandarkan dirinya di balik pintu di mana Silka juga tengah bersandar di sana. "Kita semua memiliki masa lalu dan kesalahan, Silka. Tapi itu tidak menghalangi kisah di antara kita. Kita bisa mencobanya dan mungkin bisa menjadi lebih baik. Biarlah aku mengambil risiko dan memahamimu sepenuhnya. Aku siap menerima kamu apa adanya."


Silka terisak pelan, terenyuh oleh pernyataan Jodi yang membuat hati Silka luluh hingga tak bisa untuk lebih tegar lagi. Namun, dia masih merasa terbelenggu oleh pernikahannya yang belum usai dan ketakutan pada orang-orang yang ada pada masa lalunya yang terus menghantui.


"Jodi, aku tak ingin melibatkanmu dalam konflik ini. Aku tak ingin mencampuri hidupmu dengan masalahku. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, seseorang yang bisa memberimu kebahagiaan sejati."


Jodi menghela napasnya yang terasa begitu berat. Ia ingin sekali mengatakaj segalanya kepada gadis yang sebenarnya adalah istrinya. Namun, ia merasa terjebak oleh situasi ini. Ia tak bisa juga untuk bersikap jujur demi Silka.


"Silka, kamu tidak bisa memutuskan apa yang terbaik untukku. Aku punya hak untuk memilih siapa yang ingin aku cintai dan mendampingiku. Biarkan aku memutuskan apa yang aku inginkan."

__ADS_1


Silka merasakan perasaannya terbelah antara keinginan untuk melindungi Jodi dan ketertarikan yang semakin dalam terhadapnya. Dia merasa terdorong untuk menjauh, tetapi juga takut kehilangan apa yang mereka miliki.


"Jodi, maafkan aku jika aku terlihat egois. Aku membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya dengan lebih jelas. Harap sabar menungguku dan berikan aku waktu."


Di balik pintu, Jodi tersenyum lembut dan menggenggam angan segala hal tentang Silka. "Tentu, Silka. Aku akan menunggumu. Aku siap mendukungmu selama kamu membutuhkannya. Kapan pun kamu siap, aku akan ada di sini."


Waktu terus berlalu, dan Silka menggunakan waktu itu untuk merenungkan perasaannya. Dia merasa terjebak dalam kebingungan yang tak kunjung reda. Di satu sisi, ada ketertarikan yang semakin kuat terhadap Jodi dan dukungan yang diberikannya. Di sisi lain, ada beban masa lalu dan pernikahan yang belum selesai.


Selama beberapa minggu, Silka memilih untuk menjauh dari Jodi dan fokus pada dirinya sendiri. Dia merenungkan pilihan yang harus diambil dan mencoba mencari kekuatan dalam dirinya sendiri.


Saat akhirnya Silka merasa lebih tenang dan jernih dalam pikirannya, dia memutuskan untuk menghadapi Jodi dan mengungkapkan perasaannya dengan jujur.


Pada suatu sore, Silka mencari Jodi di tempat latihan mereka yang biasa. Dia menemukan pria itu duduk sendiri di sudut dojo, tampak sedikit khawatir.


Jodi menoleh dan tersenyum lega saat melihat wajah Silka, yang telah lama tak ia lihat. "Silka, akhirnya kamu datang. Aku merindukanmu, sangat."


Silka mendekati Jodi dan duduk di sampingnya. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Jodi, aku ingin meminta maaf atas kebingungan dan jarak yang aku ciptakan antara kita. Aku tahu kamu telah memberikan perhatian dan perasaanmu dengan tulus, dan aku menghargainya."


Jodi menatap Silka dengan penuh harap. "Apa kamu sudah menemukan kejelasan dalam pikiranmu?"

__ADS_1


Silka mengangguk perlahan. "Iya, aku sudah. Aku menyadari bahwa perasaanku terhadapmu semakin dalam dan sulit untuk diabaikan. Aku ingin mengatakan padamu bahwa ada sesuatu yang tidak kamu ketahui tentang aku dan masa laluku."


Jodi tersenyum mendengar ungkapan hati Silka. Dia sungguh merasa tidak sabar ingin mendengar secara langsung dari mulut istrinya itu, bahwa sebenarnya dia adalah istri dari seorang Maximo Gobzalez, yang tak lain adalah dia sendiri.


"Katakan lah, aku ingin mengetahui segala hal tentangmu begitu juga dengan masa lalumu."


Silka merasa oksigen seakan menghilang begitu saja. Ia merasa sesak jika harus jujur dan bersiap harus kehilangan Jodi. Namun, jika dia tak jujur, dia akan terus merasa terbebani.


"Jodi, kamu harus tahu, sebenarnya aku ini sudah menikah." Silka menunggu reaksi Jodi, tetapi sorot mata Jodi terlihat melepaskan sesuatu yang tak bisa ia mengerti.


"Kanu juga harus tahu bahwa masa lalu tentang pernikahanku belum berakhir hingga detik ini. Ini adalah beban yang harus aku hadapi. Namun, aku tidak ingin membiarkan ketakutan dan penyesalan menghancurkan apa yang kita miliki."


Silka masih menunggu reaksi terkejut dari pria bernama Jodi ini. Namun, Jodi hanya memberikan seaksi sebaliknya. Ia terlihat sangat tenang dan senang.


Jodi memegang tangan Silka dengan lembut. "Aku siap mendukungmu, Silka. Aku tahu tidak semua masalah bisa terselesaikan dengan mudah, tetapi jika kita bersama, kita bisa menghadapinya bersama-sama. Aku mencintaimu."


Silka merasa hatinya berbunga-bunga mendengar kata-kata itu. Dia merasakan kehangatan dan kepercayaan dari Jodi, dan dia tahu bahwa dia juga mencintai Jodi.


"Dalam keadaan apapun, aku akan berada di sisimu, Jodi. Aku juga mencintaimu," kata Silka dengan mantap.

__ADS_1


Jodi tersenyum tipis. Kali ini raut wajahnya terlihat tak menentu, apakah harus bahagia, atau marah? Istrinya, Silka, mencintai seorang Jodi, orang asing yang baru dikenalnya. Bukan Max, pria yang telah resmi dalam ikatan pernikahan dengannya. Jodi mencoba mengendalikan hatinya.


Mereka duduk bersama di dojo, dengan raut berbeda di wajahnya masing-masing. Baik Silka, maupin Jodi tahu bahwa perjalanan mereka yang baru saja dimulai itu tidak akan mudah. Meski ada rasa sakit dan sedih, Max terpaksa menjalani kisah cintanya dengan diam-diam sebagai kekasih gelap dari istri yang tidak mengenalnya dengan langsung.


__ADS_2