
Max menatap Silka dengan senyuman penuh kasih. "Tapi kamu tahu, kamu adalah satu-satunya wanita yang membuat hatiku berdetak dengan keras. Hanya ada kamu dalam pikiranku, Sayang."
Silka berusaha untuk tetap tegar, tapi senyum Max membuatnya meleleh. Ia mencoba untuk menutupi perasaannya dengan wajah datar. "Kamu pikir senyummu bisa mengubah segalanya?"
Max mendekatkan wajahnya ke telinga Silka, berbisik dengan lembut, "Senyumku hanya sebagian kecil dari cinta dan kerinduan yang kurasakan untukmu. Jangan ragu, kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hatiku."
Dengan kata-kata itu, Silka tidak bisa menahan senyumnya lagi. Ia mencium Max dengan penuh kasih sayang, merasakan cinta yang meluap di antara mereka.
Setelah itu, Max dan Silka melanjutkan dalam kehangatan dan keintiman mereka.
"Mommy ... Mommy ...."
Terdengar suara anak perempuan dari arah pintu sembari mengetuk kamar itu.
"Haiisshh ...." Max yang masih belum mencapai puncak kenikmatannya tak ingin menghentikan aktivitasnya.
"Mommy! Monny! Jena membutuhkan bantuan ...." Juno berteriak beriringan dengan ketukan pintu.
"Max ... Kasihan mereka," ucap Silka dengan kepala sedikit terangkat.
"Biarkan saja mereka, sekarang kita perlu memberikan perhatian pada mereka. Sulit sekali bagiku untuk mendapat waktu berdua denganmu." Max tetap memeluk Silka dengan penuh kasih.
"Mommmyyy ...." Jena berteriak dalam tangisnya.
Silka mencoba untuk bangkit, akan tetapi Max memberikan isyarat agar ia tetap berbaring, dan mengusap lembut punggung Silka. Mereka berdua memutuskan untuk menunda keintiman mereka dan memprioritaskan kebutuhan anak-anak.
Sementara itu, dari luar dua anak menunjukkan ekspresi cemas. "Jun, ini pertama kalinya Momny tak menjawab panggilan kita," kata Jena dengan sedih, menatap celana basahnya.
"Mungkin kah mereka sudah tidur? Kamu sih, udah besar masih saja ngompol, Jena. Kapan kamu tidak ngompol lagi kalau tidur?" kata Juno dengan lembut.
Sementara Max dan Silka yang sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi, akhirnya menyudahi permainan mereka. Max melepaskan pelukannya terhadap Silka mengenakan pakaian mereka secepatnya. Setelah itu, pintu dibuka disambut wajah cemberut kedua anak mereka.
"Ada apa ni?" tanya Silka berjongkok menyamaratakan tinggi mereka.
__ADS_1
"Moom, celana Jena bocor karena pipis. Aku tidak tahu harus bagaimana," keluh Juno dengan raut wajah cemas.
Silka tersenyum dan memeluk Jena dengan penuh kelembutan. "Tenang, Sayang. Mommy ada di sini. Tidak apa-apa kok, kita akan menyelesaikannya bersama-sama."
"Tapi kenapa Mommy dan Daddy tidak menyahut saat kami panggil?" rajuk Jena dengan bibir membulat.
"Maaf, kami tertidur dengan sangat pulas," ucap Max melirik Silka mengedipkan satu matanya.
"Tapi, Jena kan membutuhkan Mommy," rajuknya kembali.
"Sudah, biar Daddy aja yang menyelesaikannya."
Max juga ikut membantu membersihkan dan mengganti baju Jena. Dia memberikan senyuman menghibur pada anak-anaknya. "Jangan khawatir, Daddy dan Mommy selalu ada untuk kalian. Ini bukan lah masalah yang besar."
Setelah semua urusan selesai, Max dan Silka mengajak si kembar untuk tidur di kamar mereka. Mereka duduk di sisi tempat tidur dan mengelus lembut rambut anak-anak mereka.
"Kalian berdua adalah anugerah terbesar dalam hidup kami," kata Max dengan penuh kasih. "Keluarga kita adalah yang terpenting, dan kita akan selalu bersama. Kalian bertumbuh lah dengan hebat."
Jena dan Juno menatap kedua orang tua mereka dengan penuh cinta dan kepercayaan. Mereka merasa aman dan dicintai di dalam pelukan mereka berdua.
*
*
*
Keesokan harinya, Silka dengan gayanya seperti biasa, menggandeng kedua bocah itu.
"Mom, Miss Benedicta pasti bingung kenapa ada orang aneh menjemput kami ke sekolah kemarin," ucap Jena kala berpisah dengan ibunya.
"Kalian bilang saja itu paman jauh yang belum pernah bertemu sebelumnya," ucap Silka mengajarkan berbohong.
"Mommy, kata Miss Benedicta, kita itu tidak boleh berbohong. Sekali berbohong, seumur hidup orang tak akan percaya," ucap Juno.
__ADS_1
Silka mengatupkan bibirnya, sadar bahwa putra putrinya ini bukan lah anak-anak biasa yang mudah diperdaya.
"Nah, kalau guru kalian itu tidak bertanya, kalian tidak perlu cerita apa-apa," ucap Silka kembali.
Juno mengusap dagu mengerutkan alisnya. "Aku rasa, Miss tak akan mungkin tak bertanya. Karena, setelah dijemput oleh Tom, kami tidak masuk selama beberapa hari—"
"Kamu jangan memikirkan itu! Belum tentu dia akan bertanya," sela Silka ingin mengakhiri obrolannya.
"Tapi, Mom—"
"Sudah, kalian masuk dulu! Kalau ada yang nanya, bilang saja mereka adalah saudara jauh Daddy, oke?" Silka segera membatasi obrolannya.
"Oke, Mom," ucap Jena dengan polos.
"Bagaimana denganmu Juno? Bisa ikut mengatakan hal yang sama?" tanya Silka.
"Baik lah," ucap Juno pasrah.
"Nah, setelah ini Mommy mau menyiapkan perlengkapan dapur kita yang sudah habis. Nanti, Mommy akan menjemput kalian. Jika Mommy tak sempat menjemput kalian, mungkin anak buah Daddy-mu yang akan menjemput kalian." Silka melambaikan tangannya.
"Nggak mau, aku mau dijemput Mommy. Gak mau Tom, maunya Mommy!" rajuk Jena.
"Sudah lah Jena, kamu jangan manja!" ucap Juno.
Pipi Jena mengembang dan bibirnya membulat. Ia memutar badan berjalan menuju kelasnya.
"Mommy pulang saja! Jangan mengkhawatirkan Jena, di sini ada aku," ucap Juno.
Silka terkekeh menggelengkan kepala melihat putranya yang baru lima tahun itu bersikap sok dewasa. Ia melambaikan tangan kembali tetapi Juno tidak membalas lambaian tangan sang ibu.
Silka beranjak dan menuju pusat perbelanjaan. Ketika sibuk memilih buah dan sayur, tiba-tiba ada tangan yang mendorong Silka hingga terjatuh.
"Halo culun, sudah lama sekali kita tidak bertemu!"
__ADS_1