Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 10: Aileen's Problem Resolved


__ADS_3

Mendengar perkataan Lyonne, Sully membuka bibirnya dengan terbata. "Apa, apa hubungan anda dengan anak ini? Di-Dia bukankah bukan keluarga anda?"


Lyonne menatap datar Sully dan menjawab. "Anda tidak akan cukup bodoh dan tuli nyonya Armendes. Saya bahkan mendengar perkataan anda yang sangat jelas tidak semestinya diucapkan oleh orang dewasa kepada anak kecil. Jadi, apakah anda ingin menjelaskan sesuatu, nyonya Armendes?"


Sully menyeka keringatnya dan menggeleng, "Itu-Itu adalah kesalahpahaman. Tuan tidak mengetahui inti dari masalah ini. Anak liar, ah! Maksud saya Aileen telah menyakiti putra saya sampai mengalami keretakan tulang dikakinya! Tolong tuan ketahui bahwa anak ini memang nakal karena didikan yang salah!"


Aileen membebaskan dirinya dan mencoba mendorong Sully meskipun dirinya sendiri yang terpental, sembari berteriak. "Bohong! Vero mengatakan hal buruk tentang mama! Dia mengatakan jika aku adalah anak haram, dan dia menghina mama dengan mengatakan mama adalah perempuan tak berpendidikan yang hamil diluar pernikahan!! Vero mengatakan kepada semua teman-temanku agar tak berteman dengan anak perempuan tak baik-baik sepertiku. Aku benci ada yang menghina mama, aku benci!!!"


Mendengar luapan emosi Aileen, wajah Lyonne menggelap. Menghina Dareen? Siapa yang berani menghina seseorang yang dicintai dan bahkan sama berharganya dengan ibunya?


"Jangan mengatakan kebohongan! Putraku tidak mungkin mengatakan kata-kata kasar seperti itu! Kami adalah keluarga berpendidikan tinggi, tidak seperti anak ini!" bentak Sully mengabaikan alasan keterdiamannya selama beberapa waktu setelah kedatangan Lyonne.


Aileen sendiripun tak mau kalah, "Aku tidak berbohong!! Vero sangat buruk dengan mengatakan itu, aku membencinya dan marah, karena itu aku mendorongnya agar berhenti bicara buruk tentang mama!"


Sully yang tersulut emosi mengangkat tangannya hendak memukul Aileen, sebelum sebuah tangan menahannya dan menghempaskannya dengan anggun kebelakang. Lyonne berdiri disana dengan wajah yang dingin.


"Tolong jaga kelakuan anda nyonya Armendes! Melihat perilaku anda yang seperti ini, bagaimanapun saya merasa bahwa kerjasama Dexelt Corp dengan Armendes Corp tidak akan bisa berlanjut."


Sully yang tidak pernah sudi menurunkan arogansinya berkata dengan penuh keangkuhan, "Bahkan tanpa kerjasama dengan perusahaanmu, Armendes Corp masih menjalin hubungan kerjasama dengan Vita Corp dan Mendhelain Corp!" Bangganya.


Tentu saja Lyonne menggunakan itu bukan sebagai gertakan atau ancaman. Perusahannya tidak akan lagi bekerjasama dengan Armendes Corp. Bukannya Armendes yang tidak akan mengalami masalah, namun Dexelt Corp akan membuat perusahaan itu secara perlahan kehilangan keuntungan, kehilangan investor dan bangkrut. Jangan meremehkan perusahaan terbesar kelima didunia.


"Tidak lagi nyonya Sully." Suara Dareen membuat mereka semua menoleh.


Dareen dengan seorang pria berdiri disampingnya menutup pintu dengan tenang. Sepasang manik hijau dingin itu menyorot tajam pada Sully yang mengerutkan keningnya. Aileen melepaskan pelukannya pada Lyonne dan beralih memeluk Dareen.


"Mama," gumamnya samar.


"Kau, kau pasti ibu dari b*engsek kecil ini bukan?! Hey, bagaimana kau mengajari anakmu hah?!" bentak Sully.


"Nyonya Sully tidak perlu memperdebatkan masalah ini. Saya juga sudah meminta pak Kepala Sekolah untuk membantu meluruskan masalah ini." Kata Dareen.


Pria yang adalah kepala sekolah itu segera bereaksi, "Benar sekali. Miss Arina,"

__ADS_1


"Ya pak?" Sahut Arina yang sejak tadi gelisah mencoba mendinginkan suasana panas diruangan itu.


"Tolong periksa rekaman kamera pengawas dikelas 1-A." Perintahnya membuat Arina seketika membelalakkan matanya.


Rekaman kamera pengawas? Ya, bagaimana dia bisa melupakan bahwasannya NES adalah sekolah elite yang memiliki fasilitas termasuk kamera pengawas kualitas tinggi yang ditempatkan ditiap-tiap kelas dan tempat yang strategis.


"Miss Arina, tolong cepat." Perintah kepala sekolah membuat Arina tersadar dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Ya, maafkan saya. Akan segera saya putar!" kata Arina.


Beberapa menit berjalan, Arina bergerak cepat menyalakan laptope dan mengakses video rekaman kamera pengawas yang dimaksud. Mereka semua termasuk Sully yang tetap pada keangkuhannya mendekat dan melihat pada layar laptope itu.


Didalam video rekaman, nampak kelas yang sedikit tidak teratur. Mereka mencari dan menemukan posisi Aileen berada dibangku terdepan dan sedang menggambar sesuatu diatas kertas. Selang beberapa saat, sosok anak laki-laki merebut gambar Aileen dan entah mengatakan apa sembari berpose menghina. Aileen didalam video masih diam, sementara anak laki-laki itu nampak berkata sesuatu sembari menghadap keteman-temannya yang lain dan menghadap kearah Aileen kembali setelah nampak berdebat singkat dengan seorang gadis.


Setelah itu, Aileen bangkit dari kursinya dan menerjang anak laki-laki itu hingga terdorong kebelakang.


Sully dengan bangga menunjuk Dareen, "Lihat! Anak itu duluan yang mendorong anakku!"


Aileen masih memeluk Dareen dengan erat. Dareen dengan tenang menatap Sully dan mendengarkan kata-kata kepala sekolah.


...***...


"Jadi, bisakah kalian menjelaskan tentang sebenarnya apa yang terjadi saat Aileen mendorong Vero?" tanya Arina.


Ada beberapa anak yang berdiri disamping Dareen, memandang kagum pada wanita disamping mereka itu.


"Wah, kakak ini terlihat seperti barbie!" Ucap yang satu.


Yang lain menimpali, "Mamanya Aileen memang sangat cantik!"


"Tapi siapa bibi gendut itu?"


"Mirip Vero, apa maminya Vero, ya?"

__ADS_1


"Hihi, badannya sangat gemuk! Sama seperti balon yang ada ditaman bermain~" Bisik seorang anak dengan samar, dan jelas membuat wajah Sully menghitam karena amarah begitu mendengarnya dari anak-anak itu.


Arina kembali bertanya dengan nada lembut, "Mika. Bisa Mika beritahu pada miss, sebenarnya kenapa pada saat itu Aileen mendorong Vero?"


Mika Serenia, gadis berkuncir kuda yang nampak berdebat dengan Vero direkaman kamera pengawas itu segera menjawab dengan kaya ekspresi. "Miss, Vero saat itu berbuat nakal. Aileen mendorongnya karena Vero berkata bahwa mamanya Aileen itu perempuan tidak baik dan menghina Aileen sebagai anak haram. Tapi, anak haram itu apa, miss?"


Anak laki-laki disampingnya menyahut, "Benar sekali! Vero mengatakan itu pada Aileen, kami tidak tahu artinya. Jadi apakah itu buruk miss? Karena Aileen selalu baik, aku pikir itu pasti sesuatu yang buruk sampai membuat Aileen mendorong Vero."


Mendengar itu, wajah Sully memucat, namun tetap berusaha menyanggah.


"Anak-anak ini pasti berbohong! Mulut mereka sangat busuk sampai mengatakan kebohongan dengan sangat baik! Vero anakku tidak mungkin mengatakan hal itu!" bentak Sully membuat beberapa anak itu ketakutan.


Berbeda dengan Mika yang menggembungkan pipinya, "Mama gajah! Apa yang Mika katakan itu benar! Vero sangat nakal, makannya banyak. Apakah mama gajah tidak pernah memberinya makan cukup sampai mencuri makanan milik kami disekolah? Dia bahkan sangat bau, tubuhnya sering berkeringat! Apakah dirumahnya tidak pernah disediakan sabun mandi?"


Omelan Mika membuat mereka termasuk Dareen berkedip beberapa kali, sementara Sully menampilkan wajah syok. Wajahnya berubah warna sebelum menampilkan wajah marah bercampur malu.


"Anak kecil, mulutmu begitu tajam!"


Sully memukul meja dengan tangannya yang berlemak, "Aku menyerah! Tidak ada untungnya aku mengurusi kalian sekumpulan orang bodoh dan orang dungu! Lupakan masalah ini, dasar sialan!" makinya.


Meraih tasnya dengan marah, Sully berjalan sembari menghentakkan kakinya dan menutup pintu dengan bantingan.


Brak!!


Memandang Arina, Dareen segera menundukkan kepalanya berterima kasih dan meminta maaf. "Maafkan Aileen sehingga harus merepotkan miss Arina didalamnya. Dan juga terima kasih telah membantu menyelesaikan masalah ini."


"Untuk pak kepala sekolah, mohon maaf atas keributan yang terjadi." Ujarnya pula pada kepala sekolah.


Arina membalasnya dengan senyuman malu-malu sementara kepala sekolah tersenyum cerah dan justru mengapresiasi Aileen. "Tidak, tidak! Aileen adalah anak yang baik, justru kami minta maaf atas kelalaian yang terjadi sehingga seorang anak justru dapat mengucapkan kata-kata tak sopan seperti itu."


Dareen memegang bahu Aileen, mengangguk dan keluar bersama Lyonne setelah meminta maaf dan berterima kasih pada Arina dan kepala sekolah.


"Lyon? Bagaimana kamu bisa ada disini juga?" tanya Dareen begitu mereka keluar dari ruangan dimana mereka berdebat tadi.

__ADS_1



__ADS_2