
Seperti kata pepatah, dunia itu sempit. Dan Dareen merasakannya ketika dia bertemu dengan salah satu dari sekian banyak orang yang dia kenal, dan ingin dia hindari.
"Sudah lama saya tidak melihat anda, nona. Bagaimana kabar anda?" Pertanyaan itu terucap dari bibir Arsein yang membuat Dareen menggulung senyuman, menjawab sekenanya. "Seperti yang terlihat, baik saja. Tapi aku sedikit terganggu karena aku tidak bisa naik."
Arsein memandang ragu Dareen sebelum mengungkapkan apa yang dipendamnya selama beberapa waktu tadi. "Apakah, anda sudah siap untuk bertemu dengan tuan, nona?"
Dareen mengabaikan pertanyaan Arsein dan memandang kepada pengawal yang masih berjaga didepan lift. "Minggir."
Pria itu tahu bahwa identitas wanita didepannya tidaklah sederhana, apalagi dia bisa memanggil tuannya dengan namanya saja, dan bahkan Tuan Arsein yang terkenal dingin, menampakkan kehangatan pada wanita itu. Ia segera menggeser tubuhnya, memberikan akses Dareen untuk menggunakan lift setelah mengkonfirmasi bahwa Arsein tidak berkomentar apapun atau menyuruhnya menghalangi Dareen.
Dareen mengulurkan tangannya, menekan tombol lift dan menunggu pintu tertutup, tepat ketika Arsein berucap, "Anda tidak perlu merasa bersalah, nona."
Ting!
Dareen mengepalkan tangannya, memandang kebawah dengan tatapan tajam. Ada kilatan dari air yang samar menggenang disudut matanya. Arsein, mengapa dia bersikap seakan dia tahu segalanya?!
Itu menyebalkan!
"Dasar menyebalkan! Arsein menyebalkan!" gumamnya samar dalam hatinya.
Tak lama, lift berdenting. Dareen melangkah keluar dari lift. Ia berhenti selama beberapa saat, sebelum melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu yang ada diujung lorong. Setiap langkahnya membawa Dareen pada kenangan masa lalu, dan jantungnya berdentum lebih dan lebih keras setiap kali dia mendekat.
__ADS_1
"Jangan takut, Reen~"
"Kary?"
...***...
Amsterdam, 2010
Kendaraan berlalu lalang, dan sepasang manik itu mengawasi dari ketinggian di atas gedung pencakar langit setinggi 18 lantai. Sebuah suara jatuh, dan membuat helaian surai hitamnya bergoyang kala ia menoleh. "Apa yang kamu lakukan disini?"
Dareen meletakkan sebuah buku sembari menggerutu. Gadis dengan surai pirang sebahu itu menampilkan mimik wajah yang tidak puas, dan alisnya bahkan menukik dengan tajam. "Sungguh menyebalkan! Setiap hari hanya marah, marah dan marah!"
"Dia pikir dia siapa? Menggunakan wajahnya dan sifat centilnya untuk mendesakku. Padahal aku sudah bekerja keras. Tahu tidak, bahkan Justin ikut mendukungnya dengan mengatakan kepada Drigory jika aku salah menginput materi. Bukankah itu menyebalkan?" Menghentakkan pena miliknya diatas bukunya, Dareen memicingkan matanya.
"Ahh, haha! Tapi anak-anak tidak menyukainya sama seperti anak-anak tidak menyukai roti jahe." Dareen nampak puas setelah menemukan alasan tepat.
Ia menoleh, meletakkan jarinya di dagunya. "Hei, Kary. Menurutmu, lebih baik aku membalasnya atau diam?"
Yang sedari tadi diam menyunggingkan senyuman geli. Betapa manisnya Dareen. "Ayolah, kamu tidak perlu bertanya untuk pertanyaan yang sudah kamu ketahui jawabannya, Reen."
Dareen mengulas senyuman, setelah mendengar perkataannya selanjutnya. "Itu bukan kesalahanmu, Reen. Kamu bisa membalas mereka yang memperlakukanmu dengan buruk, tapi kamu tentu tahu bagaimana cara terbaik untuk membalas mereka."
__ADS_1
Dareen tertawa dengan binar cerah dikedua maniknya, "Menjadi lebih dan lebih baik dari mereka tentu saja!"
"Aku sayang kamu, Kary!!"
...***...
"Sampai kapan kamu akan berdiri mematung disana, Alexa?" Pertanyaan itu berhasil menarik Dareen dari selaman ingatan masa lalunya. Hanya sedikit, namun mampu membuat sepasang maniknya memerah dan berkilat oleh air mata.
Dareen mendongak, untuk menemukan sepasang manik hitam memandangnya dengan dalam. Hampir mampu menenggelamkannya dalam lautan emosi yang selama ini telah dia pendam. Bibirnya bergetar, namun dia tetap mengepalkan tangannya, menahan keinginannya untuk menerjang pria dihadapannya. "Hampir 6 tahun aku hanya bisa mengawasimu, Alexa. Melihatmu dari jauh, sembari berpikir. Apakah kamu benar-benar masih membutuhkanku dan masih menginginkanku dalam hidupmu."
"Aku selalu menahan keinginanku untuk datang kepadamu, mendekapmu sama seperti dulu. Mendukungmu dalam segala hal dan dalam keadaan apapun. Tapi kamu yang menjauhi dan menghindariku. Dan ketakutanku, yang akan membuatmu menjauh dariku menahanku, dan aku hanya bisa mencoba untuk mengerti bahwa itu semua pilihanmu." Pernyataan itu membuat air mata luruh membasahi kedua pipi Dareen.
Tangannya terulur, mengusap air mata Dareen dengan lembut. "Itu bukan salahmu, sayang. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Itu juga sangat menyakiti hatiku."
Wanita itu tak sanggup membendung air mata yang telah ia tampung sejak tadi. "Papa.."
"Kemari, Xa. Biarkan papa memelukmu."
Tanpa kata, Dareen menghambur memeluk pria yang tampak berusia 40 tahunan itu, memeluknya dengan erat, dan menangis dengan raungan keras, menumpahkan segala keluh kesah dan air mata yang telah dipendamnya selama lebih dari 6 tahun, seorang diri. "Hhaaaaa!!! Papaaa!! Alexa minta maaf! Hikss.. Hiks.."
"Maafkan Lexa!"
__ADS_1