
New York, 2007
"Mulai hari ini, kamu akan tinggal bersama dengan Marvolo."
Dareen memiliki plester disisi wajahnya. Ada luka sobekan disudut bibitnya, namun tatapannya tetap tajam dan mengandung tatapan malas yang hampir ketara. Lucas memandang cucunya dengan tatapan tegas, namun Dareen balas menatapnya dengan tegas. "Aku tidak mau, grandpa."
"Tidak ada bantahan, Reen."
"Ayahmu mengatakan kepadamu bahwa sikapmu benar-benar tidak mencerminkan seorang wanita. Bertengkar dan berkelahi, bahkan tidak sedikit ibumu bercerita sambil menangis kepada nenekmu, mengatakan bahwa kamu tidak pernah mendengarkan mereka." Perkataan Lukas membuat manik Dareen melebar.
Ia menunduk sebelum mendongak, memasang senyuman lebar diwajahnya dengan ekspresi samar yang tertutup telapak tangannya. "Sangat menakjubkan." Gumamnya.
"Apa yang kamu katakan?" Mendengar pertanyaan dari sang kakek, Dareen menggelengkan kepalanya. "Aku tetap tidak mau."
Lucas memincingkan matanya, "Jangan membantah, Reen!"
"Bagaimana dengan Kary?!" Dareen bertanya. "Jangan membandingkan Kary denganmu Reen. Dia tidak ada hubungannya dengan kelakuanmu."
"Bukan itu!!" Dareen menjerit dalam hati. "Mengapa aku harus tinggal bersama dengan orang yang bahkan tidak aku kenal?!"
"Dia adalah cucu sahabat nenekmu, Reen! Nenek mengatakan sudah mengabarinya, kamu bisa langsung kesana, mendatanginya." Lucas berkata lagi. "Jika kamu tidak merubah sikapmu, kamu seharusnya lebih bisa menghargai Kary. Dengan sikapmu yang seperti ini, bukan hanya kamu yang mendapatkan masalah, tapi Kary juga!"
Dareen diam selama dua detik, sebelum menganggukkan kepalanya dengan tangan yang terkepal. "Baik. Baiklah, aku setuju untuk tinggal dengan Marvolo."
Lucas mengangguk. "Kalau begitu kemasi barang-barangmu dan grandpa akan menyuruh Stevan mengantarmu."
__ADS_1
Dareen menggeleng, "Tidak. Berikan saja alamatnya, dan aku akan pergi kesana sendiri."
Lucas hendak berkata sebelum anak perempuan berusia 14 tahun itu menyela perkataannya. "Tidak ada tapi-tapi, grandpa. Aku sudah setuju untuk tinggal bersama dengan Marvo atau siapapun itu. Tapi aku akan kesana sendiri. Jika grandpa tidak percaya aku kesana, grandpa bisa menelpon orang itu ketika aku sampai."
Melihat tatapan tak terbantahkan cucunya, Lucas menghela napas dan mau tak mau mengizinkan Dareen untuk pergi sendiri ke tempat tinggal Marvolo. "Berhati-hatilah saat kesana. Jaga makanmu dan perbaikilah tingkah lakumu."
"Marvolo adalah pria muda yang bertata krama tinggi dan sangat santun. Kamu pasti bisa mendapatkan pelajaran yang benar jika tinggal bersamanya. Setidaknya, grandpa harap ayah dan ibumu tidak akan lagi kerepotan menghadapimu." Ungkap Lucas membuat Dareen terkekeh aneh.
Sebelum berbalik, dan melangkah pergi.
...***...
Amsterdam, Setelah Perjalanan Udara
Setelah sepeninggal keduanya karena kecelakaan mobil, Marvolo tanpa saudara kandung hidup dengan keras, memperebutkan warisan orangtuanya melawan kerabat-kerabatnya yang gila harta dan gila kekuasaan. Tetapi kecerdasan dan kemandirian yang sejak kecil telah ditanamkan padanya, berhasil membuatnya bertahan dan memenangkan posisi puncak.
Hari ini, dia kedatangan tamu.
Tamu yang sebenarnya tidak diharapakannya, namun dia tidak bisa menolak karena keadaan.
"Hai, aku Alexa. Kupikir nenekku sudah memberitahumu kedatanganku hari ini. Aku tidak akan berbasa-basi dan akan langsung kekeintinya. Jalani saja kehidupanmu seperti biasa dan anggap aku tidak ada. Ini hanya sebatas formalitas mengerti? Aku sama sekali tidak berniat untuk menerima petuah atau ajaran darimu yang kata mereka 'sempurna', paham?"
Dareen melangkah melewatinya dan menyeret kopernya masuk. Marvolo, mematung didepan pintu apartemen mewahnya setelah mendengar penuturan dari tamunya. Dia menoleh dengan senyuman aneh, "Betapa menariknya!"
Marvolo menutup pintu, melangkah menghampiri Dareen yang entah sejak kapan sudah berbaring diranjang di sebuah kamar kosong yang nampak tertata dengan rapih dan tanpa debu sedikitpun. Remaja tanggung itu berbaring dengan kaki tergantung, dan tangan memegang ponselnya, nampak memainkannya tanpa kata.
__ADS_1
"Halo Alexa. Ini menjadi sedikit tidak adil karena aku belum memperkenalkan diriku. Aku Marvolo, kamu bisa memanggiku Marv. Sekilas info, karena kamu menarik, aku jadi ingin mengajarimu seperti yang diminta oleh nenekmu." Tatapan tajam Dareen terabaikan kepadanya, namun pria itu menyunggingkan senyuman.
"Senang bertemu denganmu, Lexa."
Mendengar itu, Dareen hanya mendengus dan mengabaikan Marvolo. Ia kembali memandang ponselnya dan bergerak memunggungi Marvolo yang tetap memasang wajah tersenyum. "Sangat menyebalkan! Wajahmu membuatku tidak nafsu untuk makan, padahal sedari tadi perutku meronta-ronta minta makan."
Marvolo tersenyum ramah, "Makan malam akan segera siap. Nyamankan dirimu disini~"
Dareen mencebik. "Pergilah!"
...***...
"Permisi, apakah ini layak disebut sebagai makanan?" Dareen berkomentar setelah ia menyuap sesuap nasi dan lauk yang entah apa disajikan oleh Marvolo diatas meja makannya. Dareen memiliki wajah aneh setelah menyuap, namun Dareen memasang kembali wajah tenangnya dan hanya sedikit mengerutkan keningnya.
Marvolo telah hidup mandiri sejak lama. Orangtuanya yang sibuk, hampir tidak pernah memasak untuknya, dan dia telah dilayani oleh koki rumah. Namun semenjak kejadian dimana dia hampir meninggal karena keracunan, dia memecat semua bawahannya dan tinggal sendiri. Memulai pelatihan memasaknya, dan hidup dengan makanan saji dan makanan yang dibuatnya sendiri. Dia mengakui makanannya tidak begitu enak, namun setidaknya, bisa dimakan.
"Maafkan aku, nona muda. Bagaimana jika kita memesan pizza atau spageti saja?" Tawarnya karena merasa bahwa jika dia memaksa Dareen memakan makanannya atau membiarkan Dareen tidak makan, dia sama-sama jahat.
Dareen mendengus, mengabaikan tawaran Marvolo dan melangkah ke pantry. Dia membuka kulkas dan menemukan beberapa bahan memasak. Dia meraih bangku kecil, membuka kabinet tinggi dan menemukan kotak mie spagetti. Tangannya terulur meraih panci yang segera mengundang atensi Marvolo.
"Kau bisa memasak?"
Dareen mengedikkan bahunya. "Entah, tapi setidaknya, lebih baik dari milikmu."
__ADS_1