Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 23: Information From Chisa


__ADS_3

Note: Huruf tebal miring artinya percakapan dengan bahasa asing




"Nona sarapan anda sudah siap."


Gadis itu tak repot untuk sekedar menoleh. Pandangannya tetap tertuju pada pemandangan yang ada diluar jendela kamarnya yang ada dilantai dua bangunan megah bercat moca itu. Ada jendela-jendela besar yang mengambang. Dan aroma bunga tercium berbarengan dengan aroma sup yang mengepul hangat disampingnya. Sup hangat yang biasanya menenangkan, selalu terasa memuakkan bagi gadis berdarah Amerika-Belanda itu.


Wajahnya ayu seperti boneka, manis dan memiliki karakteristik yang unik. Semakin manis oleh lesung pipit dikedua pipinya yang sepucat porselen. Setidaknya, dia benar-benar mirip dengan boneka porselen. Bermata kelabu yang menyorot kemisteriusan, ia hampir bisa menakuti dan membuat takjub setiap anak yang melihatnya.


"Selamat makan, nona muda." Pelayan itu segera pergi setelah menjalankan tugasnya, dan kembali melakukan pekerjaannya yang lain. Dia bahkan mungkin tidak peduli apakah nona mudanya akan memakan sarapan yang setiap hari disediakan itu. Toh, semua orang di mansion itu tepatnya, sudah tahu bagaimana karakter nona muda mereka.


Chisa Cleopatra.


Gadis keturunan Belanda-Amerika itu menyandarkan kepalanya dikepala ranjangnya. Menatap sup disampingnya, mengulurkan tangannya dan membalik mangkuk itu. Ia membuka bibirnya dan berkata, "Berikan aku burger dan spagetti, ah!!"


"Jangan hanya beri aku makanan lembek ini, kakek tua sialan!" Ia bahkan sampai mengutuk.


"Jaga bahasa anda, nona Chisa." Bersamaan dengan kutukan itu, pintu terbuka. Seorang pria tua dengan rambut setengah putih muncul dan berjalan mendekati Chisa yang menatapnya dengan sepasang manik tajam. "Anda kedatangan tamu."


"Siapa?!" Sarkas Chisa.


Pria itu menyunggingkan senyuman, membiarkan seseorang di belakangnya mengambil alih. "Aku, kau tidak lupa, kan?"


Mata Chisa melebar, namun sepasang pupilnya menyempit. Detik berikutnya, dahinya berkerut dan teriakannya menggema di seluruh mansion. "ALEXA!!"


Dareen berdiri diambang pintu. Perlahan melangkah mendekati Chisa yang masih terduduk di ranjang kamarnya mencoba meraih Dareen dengan tangannya. "Lexa, kamu—"

__ADS_1


"Cough! Cough!" Sebelum bisa menyelesaikan perkataannya, Chisa terbatuk. Gadis itu segera menutup bibirnya dan membiarkan batuk yang menyerangnya segera berlalu. "Cough!"


"Han, ambilkan air hangat!" Dareen menatap pria disampingnya—Han van Beerg, yang segera diangguki kepala. "Akan segera saya ambilkan, nona."


Beberapa waktu berlalu, Dareen membiarkan Han pergi meninggalkannya bersama dengan Chisa. Dareen segera duduk di tepi ranjang, menatap Chisa yang segera berkata dengan suara yang hampir seperti bisikan, "Dia disana karena bisnis dengan Xamelon Corp, Xa. Dia tidak tahu bahwa 'dia' adalah cucunya, tapi dia curiga bahwa anaknya mungkin memiliki keturunan. Kamu tahu siapa yang aku maksud. Kamu harus berhati-hati Xa, dia disana juga untuk menyelidiki kejadian enam tahun lalu."


"Xamelon .. Diego?" Sepasang manik Dareen melebar untuk sesaat.


Tap.. Tap.. Tap..


Keduanya menoleh bersamaan, menatap pintu. Suara langkah kaki itu pasti Han. Chisa segera menutup bibirnya dan berakting kembali, seakan dia memiliki penyakit batuk yang parah. "Cough!! Cough!!"


Dareen membantunya untuk berakting lebih alami dengan menyentuh punggungnya dan mengusapnya. "Aku pikir keadaanmu sudah membaik. Bagaimana kamu bisa semakin sakit seperti ini?"


"Cough!" Chisa tersenyum sedih bersamaan dengan pintu yang terbuka. "Mana aku tahu? Mungkin aku juga akan mati dalam waktu dekat."


"Senang bisa bertemu denganmu sebelum aku mati karena penyakitku ini." Ungkap Chisa mengundang mata berkaca-kaca Dareen.


"Memang, Chisa Cleopatra. Patut diberi Grammy Awards untuk akting terbaik." Lanjutnya dalam benaknya.


"Ini air hangat yang anda minta, nona."


Han menyerahkan air hangat yang diterima Dareen. Segelas air hangat itu diberikan kepada Chisa, menggunakan tangannya, ia menempelkan mulut gelas ke bibir Chisa dan membiarkan Chisa meminumnya. Ketika Chisa mengangkat tangannya memberi tanda, Dareen menarik gelasnya dan meletakkannya diatas nakas meja disamping tempat tidur itu. "Apakah tenggorokanmu sudah lebih baik?"


Chisa mengangguk, "Terima kasih."


"Apa yang membawamu kemari?" Tanyanya kemudian setelah memasang ekspresi tenang. Dareen menggulung senyuman, "Berkunjung. Aku memiliki pekerjaan yang harus aku lakukan disini, dan berpikir bahwa sudah beberapa tahun aku tidak mengunjungimu, aku mampir."


"Sudah lama sekali. Sudah berapa tahun?" Chisa tertawa dan bertanya.

__ADS_1


Wanita 24 tahun itu diam selama dua detik sebelum menjawab, "Sepertinya hampir 8 tahun."


"Kamu masih berusia 16 tahun saat itu. Aku ingat bertemu denganmu di jembatan saat kamu mendorong anak laki-laki itu begitu saja ke sungai. Tidakkah kamu masih merasa kesal pada anak laki-laki itu?"


"Lebih tepatnya, setelah dewasa, aku mulai berpikir bahwa aku seharusnya mendorongnya dari lantai dua, bukan hanya kekolam." Ucap Dareen sembari mengingat kejadian lampau.


Saat itu sedang musim semi. Bunga berterbangan terbawa oleh angin, jatuh ke tanah dan memberikan perasaan bahwa setiap musim semi dihati para muda akan tumbuh. "Aku menyukaimu."


Satu kata yang terucap dari bibir anak laki-laki didepannya. Dia tampan. Memiliki rambut kecoklatan dengan sepasang mata keabuan yang alami. Ada semburat kemerah mudaan dikedua pipinya, dan wajahnya semakin menjadi merah kala sepasang manik permata Dareen menatapnya tanpa kata. Gadis itu memiliki rambut sebahu yang dipotong dengan gaya wolfcut. Seragam sekolah melekat ditubuh rampingnya. Seragam sekolah yang harusnya dimasukkan kedalam roknya,dikeluarkan begitu saja bahkan tak terkancing. Membiarkan baju polos warna hitam terpampang begitu saja. Ada plester kecil disisi wajahnya yang jelita.


"Aku! Aku sungguh menyukaimu, Lexa."


Dareen mengungkapkan senyuman. "Oh, terimakasih untuk rasa sukamu, Mike."


"Ja—Jadi, apa—apakah?!"


Dareen mengangguk dan menyunggingkan senyuman. Wajah Mike, memancarkan cahaya yang hampir membutakan setiap mata yang melihatnya. Menunjukkan berapa bahagianya dirinya saat Dareen menerika ungkapan cintanya. Ia bahkan bersorak dan tak merasa malu saat banyak mata memandanginya.


"Terimakasih, Lexa!"


Beberapa hari kemudian, berita bahwa pangeran di seluruh Orlen Highschool berpacaran dengan gadis paling bar-bar di Orlen, segera menyebar seperti parasit. Hampir seluruh orang tahu, dan mereka bahkan tidak habis pikir mengapa keduanya bisa bersama dan berkencan.


...***...


"Kamu serius berpacaran dengan anak itu, Reen?"


Pertanyaan itu membuat Dareen yang sedang menyuap makanannya menahan gerakan tangannya dan mengangguk. "Mn, kami sedang berkencan."


"Apa yang membuatmu mau berkencan dengannya, Reen?!" Emma bertanya karena merasa penasaran dengan apa yang membuat sahabatnya yang dikenal karena sikapnya yang hampir membuat semua orang geleng-geleng kepala itu mau berkencan dengan Mike Angelio yang sikapnya layaknya malaikat. Emma tahu jika Mike bukanlah tipe seseorang yang bisa dipacari oleh Dareen, karena Mike bukanlah tipenya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Mengapa aku tidak mau berkencan dengannya?"



__ADS_2