
Dareen menyandarkan bahunya kedinding yang ada disampingnya. Diarea parkiran yang tidak begitu ramai, sepasang iris miliknya terpaku menatap Aileen yang tengah tertawa riang sembari mengejar Lyonne. Ada rona merah muda dikedua pipi anak itu, menunjukkan jejak bahwa beberapa saat yang lalu ia masih menangis.
"Papa Lyon! Jangan lari terus! Aileen capek!" Anak itu mengeluh, tetapi tak kehilangan senyuman diwajahnya.
Lyonne yang berdiri jauh darinya berkacak pinggang dan tersenyum meremehkan Aileen. "Ayolah~ Apa Aileen benar-benar laki-laki? Begitu saja sudah lelah?"
Kedua pipi Aileen menggembung, sebelum berteriak dan kembali mengejar Lyonne yang berlari dengan kecepatan ringan. "Ahhh!! Aileen akan menangkap papa Lyon!"
Semuanya tertangkap dipenglihatan Dareen. Sepasang manik terkunci menatap objek yang terus bergerak, sama seperti hatinya yang saat ini bergerak oleh emosi. Dareen mengusap wajahnya kasar.
Tidak, itu hanya emosi sesaat, bukan amarah ataupun kegembiraan.
"Lupakan, Reen. Lupakan," lirihnya pada dirinya sendiri.
"Mama!" Sebelum Dareen menyadarinya, Aileen telah menghambur memberi Dareen sebuah pelukan erat. Anak laki-laki itu menggosokkan wajahnya keperut Dareen dengan senyuman semerekah bunga.
"Sayang," wanita itu berjongkok dan memeriksa Aileen. "Bagaimana kamu bisa menghilang sayang? Mama sangat khawatir."
Aileen tidak berkata apa-apa selama beberapa saat. Tepat ketika Lyonne menyusulnya bersama dengan Jullian, anak itu baru membuka mulutnya untuk mengeluarkan sebuah kalimat yang membuat semua yang mendengarnya tertegun. "Saat kak Lian pergi membeli balon untuk Aileen, ada seekor kucing yang mendekati Aileen."
Aileen memiliki wajah yang hampir menyedihkan. "Mama tahu, kan? Aileen sangat takut pada kucing! Jadi, Aileen tanpa sadar lari dan tersesat sampai kebangunan tua yang Aileen tidak tahu."
Dareen mengusap pipi Aileen dan menatapnya dengan sepasang mata berkaca-kaca, sebelum menarik Aileen kepelukannya. "Anak mama pasti takut sekali, kan? Tidak apa-apa. Sekarang mama sudah memeluk Aileen."
Aileen menganggukkan kepalanya. "Mn! Aileen sayang mama!"
Dareen memejamkan matanya dan berbisik pelan dibawah tatapan Lyonne yang dalam. "Mama juga sayang Aileen."
...***...
__ADS_1
"Lyon, maaf merepotkanmu." Dareen berucap sembari sedikit membungkuk, mengungkapkan rasa terimakasih dan permintaan maafnya karena merasa telah merepotkan Lyonne.
Lyonne menahan bahu Dareen dan menggeleng. "Jangan berkata begitu. Sebagai sahabat, sudah kewajibanku untuk membantumu. Kamu tahu, aku sudah menganggap Aileen sebagai putraku juga. Jadi, kalian bisa mengandalkanku. Sebagai sahabat, dan sebagai seorang ayah."
"Itupun, jika kamu merasa tidak keberatan, Reen." Lanjutnya.
Dareen segera menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak! Aku hanya, huh.. Aku hanya merasa tidak enak padamu, Lyon. Kamu pasti memiliki banyak pekerjaan disaat kamu berada disini."
"Hei, aku memiliki asisten yang sangat kompeten. Jangan dipikirkan~" bangga Lyonne.
"Ya, dan pamanku ini hampir bisa disebut pengangguran, bibi." Sela Jullian tanpa mempedulikan Lyonne yang menatapnya dengan sepasang mata melotot.
Bagaimana anak kecil itu bisa begitu tidak menjaga rahasia pamannya sendiri?
"Jullian, bagaimana kamu bisa berbohong begitu?!" tanya Lyonne.
Jullian secara alami mengabaikan Lyonne dan melanjutkan kata-katanya dibawah tatapan Dareen yang menganggap bahwa yang terjadi didepannya adalah hal yang lucu. "Sebenarnya paman melimpahkan semua pekerjaannya pada paman Bastian, bibi. Kadang aku heran kenapa bukan paman Bas saja yang menjadi anak kakek."
"Hah! Jika papa Lyon pengangguran, siapa yang akan membelikan Aileen es krim nanti?!" kaget Aileen.
"Pft!" Tawa Dareen tertahan. Ia segera meminta maaf, "Maaf. Aku tidak sengaja. Aku sungguh tidak bermaksud mentertawakanmu, Lyon."
"Sebenarnya, itu sudah cukup membuktikan."
Dareen mengulas senyuman setelah tertawa ringan. Ia memandang Lyonne dan berkata dengan tulus. "Aku benar-benar bersyukur kamu kembali Lyon. Terima kasih banyak."
"Tentu saja, Reen." Ungkap Lyonne tanpa melunturkan senyumannya.
"Baiklah. Kami pergi dulu ya. Sepertinya jagoan kecil ini sudah kelelahan setelah menangis seharian." Kata Lyonne sembari mencubit hidung Aileen dan menariknya kekanan dan kekiri dengan kekuatan ringan. Sementara itu, Jullian juga berpamitan kepada Dareen yang kemudian mengusap rambutnya sesaat.
__ADS_1
"Uhh~ Papa Lyon! Hidung Aileen bisa hilang nanti~" rengek Aileen.
Lyonne terkekeh. "Baik, papa Lyon pulang dulu ya~"
"Sampai jumpa besok disekolah." Jullian turut berpamitan, melambaikan tangannya kepada Aileen.
"Sampai jumpa papa Lyon! Sampai ketemu besok disekolahan kak Lian! Jangan lupa main kerumah Aileen lagi lain kali!" kata Aileen sembari melambaikan tangan.
Dari kejauhan, Jullian menganggukkan kepalanya dan mengikuti Lyonne memasuki mobil sebelum berlalu setelah terdengar satu bunyi klakson mobil yang ditekan.
"Aileen, ayo masuk." Ajak Dareen membuat Aileen mengangguk riang. "Iya, ma!"
Sementara disisi lain, Lyonne masih fokus pada kegiatan menyetirnya sampai suara Jullian terdengar dipendengarannya. "Paman, sebenarnya Aileen berbohong."
"Hm? Bagaimana kamu tahu apakah Aileen berbohong atau tidak?" tanya Lyonne.
Jullian menjawab dengan wajah yang tetap disangga oleh sebelah tangannya. "Sejujurnya aku cukup penasaran. Aku memang tidak berniat untuk tahu atau mengetahui sesuatu. Namun sepertinya, hubungan bibi Dareen dan suaminya sedikit susah dijelaskan, ya, paman?"
"Interaksi yang mereka lakukan. Dan kemudian kejadian di kebun binatang tadi. Cukup sulit untuk mengatakan, jika sebenarnya Aileen tidak merasakan keanehan itu juga." Ungkap Jullian.
"Jangan sok tahu." Kata Lyonne membuat Jullian memiringkan kepalanya menatapnya.
"Paman tahu itu."
Ada keheningan yang melanda selama beberapa saat sebelum Lyonne kalah dengan pendiriannya. "Berbicara pada anak genius memang tidak bisa berakhir lama."
"Aku menyalahkan gen kak Rion."
"Memang paman berani?" Lyonne menyeringai dan menggeleng. "Tentu tidak."
__ADS_1