
Dareen meletakkan semangkuk spagetti diatas meja, menghadapnya dengan sepasang alat makan dikedua tangannya. Dengan garpunya, dia melilit mie dan menyendokkannya kedalam mulutnya. Ketika Dareen mengangkat matanya, ia melihat Marvolo juga memandangnya, atau lebih tepatnya, kearah spagetti buatannya.
Ia kembali menyendok, sebelum menghela napas. "Masih ada dipanci. Itupun, jika kau mau."
Marvolo mengulas senyuman lebar, bangkit berdiri dan meraih piring untuk menaruh spagetti dengan daging kepiting buatan dan udang yang kemerahan sempurna. Aroma harum menyeruak, dan pria itu menyuap dengan anggun dan layaknya bangsawan sesungguhnya. Dareen menyipit dan membatin.
"Benar-benar seorang bangsawan."
Marvolo tersenyum, "Sangat lezat!" Dan tidak pelit akan pujian. Dia mengatakan dengan jujur, karena masakan Dareen memang lezat. Ayolah, dia bahkan tidak bisa merebus mie dengan benar, bagaimana bisa dibandingkan dengan mie bertekstur sempurna seperti yang ada dihadapannya sekarang?
Marvolo pikir Dareen yang berpenampilan urakan ini——tentu, Dareen sekarang menggunakan celana selutut bahan jeans dengan kaos tanpa lengan yang menampilkan lengannya yang memiliki samar sedikit lebam. Apalagi dengan rambut model wolfcut-nya. Nenek Dareen menelponnya dan mengatakan kepadanya bahwa Dareen sering membuat masalah dengan sering bertengkar. Tentu saja dilihat dari luka-luka dan lebam juga laporan yang dikatakan orangtuanya. Dengan mata kepalanya sendiri, Marvolo pikir Dareen anak yang benar-benar sulit diatur. Namun dalam beberapa waktu interaksinya dengan Dareen dimeja makan ini, ia pikir anak ini tidak seburuk itu.
Dia makan dengan tenang, tidak bersuara dan sopan. Dia juga menggunakan alat makan dengan baik, dengan posisi duduk yang baik, seperti yang ibunya——ibu Marvolo, ajarkan padanya sejak kecil. Lebih pentingnya lagi, yang Marvolo perhatikan sejak tadi adalah sepasang tangan Dareen.
Jika Dareen benar-benar senang berkelahi dan bahkan kekerasan, mengapa tangannya begitu halus?
Jika diperhatikan lebih detail lagi, hanya ada jejak samar kapalan kecil dijari tengahnya. Seperti, dia menghabiskan banyak waktu untuk memegang sesuatu——pena.
__ADS_1
"Apa kau suka belajar, Lexa?" Pertanyaan itu membuat Dareen menghentikan gerakan makannya selama sepersekian detik, sebelum dia kembali makan.
Dia berkata, "Belajar? Apakah kau bercanda?"
Pernyataan Dareen membuat Marvolo sukses membuat kesimpulan. Dareen berbohong, dan dia nampaknya menyembunyikan beberapa rahasia. Marvolo menatap Dareen, sebelum menyunggingkan senyuman. Oh, dia penasaran dengan gadis didepannya itu.
"Aku sudah selesai." Dareen mengatakan hal itu sembari bangkit berdiri. Makanan di piringnya sudah habis. Marvolo juga tahu, porsi makannya sedikit karena dia mengambil sedikit.
"Lanjutkan makanmu." Dareen berbalik tanpa mengatakan apapun lagi.
He, dia sudah tambah penasaran saja dengan Dareen.
Melangkah keluar dari kamarnya, Marvolo dengan setelan hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Sepasang manik hitamnya memandang kearah ruang utama apartemennya, dan sedikit mengerutkan kening kala melihat Dareen tengah berbaring santai di sofa dengan kaki yang terangkat. Tangan kanannya memegang buku dengan telinganya tersumbat oleh earphone. Melihat penampilan gadis itu, Marvolo menggelengkan kepalanya.
Tentu saja, bagaimana tidak. Gadis itu mengenakan baju tanpa lengan dengan kerah yang cukup pendek. Baju itu hampir bisa disebut sebagai tanktop——mungkin. Bawahannya, dia menggunakan hotpants hitam yang memamerkan paha tipisnya. Tentu itu terhias sedikit lebam. Sungguh, mengapa tubuhnya penuh dengan lebam samar seperti itu?
Jangan bilang kekerasan dalam rumah tangga??
__ADS_1
Namun, jika benar, kenapa Dareen tidak mengatakannya? Lagipula, untuk menuduh orangtua Dareen, dua orang itu adalah orang yang terkemuka di publik, dan berasal dari keluarga terpandang. Mereka terkenal ramah dan sangat baik, menjadi pasangan paling fenomenal karena keserasian dan kehangatan mereka. Bagaimana mungkin melakukan kekerasan?
Ide jahil melintas di benaknya, dan Marvolo melangkah mendekati Dareen. Ia berdiri didekat Dareen, dan membungkuk, meletakkan tangannya disisi wajah Dareen dan mendukungnya dari atas. Kedua pasang manik itu saling bersinggungan dan Dareen sedikit mengangkat alisnya. Seolah mempertanyakan sikapnya.
Dia dengan nada main-main berkata, "Apa kamu mencoba menggodaku?"
"Hah? Apa maksudmu?"
Marvolo menyeringai, "Berpakaian seperti ini, dalam posisi ini ketika kamu tinggal bersama seorang pria yang tidak memiliki hubungan darah denganmu. Apa kamu mencoba menggoda atau sesuatu yang lain?"
Wajah Dareen memerah emosi, "Apa kau gila?"
Marvolo mendekatkan wajahnya, "Aku pria asal kau tahu. Dan pria selalu memakan apapun yang disuguhkan didepan mata."
Ada jejak kepanikan dimata Dareen, namun gadis itu tetap mencoba tenang dan memasang wajah dingin. Seakan membangun tembok setinggi dan sepanjang tembok China. "Berhenti atau kau akan dalam masalah." Katanya ketika wajah Marvolo mendekat.
"Berhenti!!" Dareen panik, dan memejamkan matanya. Tak tahan melihat wajah itu mendekatinya.
__ADS_1
Cup~