
Mendengar pertanyaan Dareen, Lyonne menjawabnya dengan senyuman. "Aku mengantar keponakanku. Dia akan pindah sekolah kesini karena tinggal bersama dengan neneknya."
"Keponakan? Kapan kamu punya kakak?" beo Dareen.
Lyonne bersiap membuka bibirnya kembali, sampai sebuah suara bernada datar khas anak kecil membuat mereka menoleh.
"Paman."
Ada seorang anak laki-laki yang lebih tinggi dari Aileen, mengenakan seragam putih-putih dengan membawa tas gendong samping. Rambutnya berwarna coklat dengan sepasang manih biru yang jernih. Kedua telapak tangannya disembunyikan dibalik saku celananya, dan dari auranya mengatakan jelas bahwa dia adalah anak yang dewasa.
Namanya James Julliano Erestio. Keponakan Lyonne dari kakak tirinya. Setelah ibunya dan ayahnya bercerai, ayahnya, Yuran Maximilium menikah kembali dengan seorang janda yang memiliki seorang putri yang lebih tua empat tahun darinya. Sementara ibunya menikah dan sekarang ini telah memiliki seorang putra berusia 8 tahun. Hubungan mereka cukup baik, meski telah bercerai dan memiliki masing-masing keluarga baru, mereka masih sering bertukar kabar sekedar menyapa. Dan anak berusia 10 tahun itu adalah anak pertama dari kakak tirinya.
Karena kakak tiri dan suami kakak tirinya sering berpindah-pindah tempat dalam pekerjaannya, Julliano memilih tinggal bersama dengan neneknya dan menetap disini.
Dareen memandang Lyonne seakan meminta penjelasan.
"Reen, kenalkan keponakanku. Namanya Julliano, dan sekarang dia berusia 10 tahun." Kata Lyonne memperkenalkan Julliano.
Ia masih menambahkan, "Beberapa tahun setelah aku pergi kedua orangtuaku bercerai. Dan Julliano adalah anak dari kakak tiriku."
Dareen sedikit terkejut. Namun dengan cepat mengerti, mengangguk dan sedikit menundukkan kepalanya untuk menyapa Julliano. "Halo, Jullian. Kamu terlihat sangat tampan."
"Jullian, dia adalah bibi Dareen. Teman paman." Kata Lyonne.
Julliano sedikit membungkukkan badannya, "Halo bibi."
"Sangat sopan," puji Dareen.
"Aileen, kenapa bersembunyi? Ayo, berkenalan dengan kak Jullian." Kata Dareen tenang, sembari menarik pelan Aileen yang memeluknya sembari menyembunyikan dirinya.
"Aileen pasti malu karena habis menangis ya? Pasti hidungnya penuh ingus~" ledek Lyonne membuat Aileen membalas tanpa menunjukkan dirinya.
"Aileen tidak ingusan papa Lyon! Itu papa Lyon yang punya ingus!"
Mendengar itu Lyonne tertawa, sementara Julliano mengerutkan dahinya bingung.
"Papa?" beonya sembari memandang Lyonne yang turut memandangnya.
Melihat senyuman pamannya, Julliano memandang bergantian pada Dareen dan pada akhirnya mengerti satu hal. Menormalkan wajahnya, Julliano melihat manik hijau menawan mengintip dirinya dari balik tubuh Dareen. Dan bersembunyi ketika melihatnya.
Untuk beberapa alasan, Julliano menganggapnya lucu.
Anak laki-laki acuh itu untuk pertama kalinya berinisiatif melangkah mendekati Aileen dan mengulurkan tangannya. "Halo, kamu Aileen bukan? Aku Jullian. Aku akan mulai bersekolah disini, kuharap kita bisa akrab."
Melihat uluran tangan didepannya, Aileen mengangkat wajahnya. Perlahan melepaskan pelukannya pada Dareen dan membalas uluran tangan Julliano. Sedetik kemudian, wajah tersenyum Aileen terlihat oleh mereka. Membuat Dareen juga Lyonne tak tahan untuk tidak tersenyum.
"Halo, kak Lian!"
...***...
"Anak-anak selalu cepat akrab ya?" kata Lyonne sembari meletakkan cangkir kopinya diatas tatakan piring.
__ADS_1
Dareen membalasnya dengan senyuman. Beralih memanang Aileen dan Julliano yang tengah bermain-main dengan daun-daun kering yang berguguran. Meski terlihat bahwa Aileen yang lebih banyak bergerak dan berbicara panjang lebar, namun sesekali Julliano nampak menyahutinya dengan tenang.
"Kak Lian, lihat yang Aileen pegang! Sangat keren, ada bentuk kapal disini. Lihat, lihat! Ini layarnya dan ini badan kapalnya~" ucap Aileen.
Seakan teringat sesuatu, dalam sedetik topik pembicaraan berganti. "Apa kak Lian pernah naik kapal? Aku pernah dua kali naik kapal, dan itu sangat besar. Kapalnya kadang bergoyang dan membuatku pusing~"
Julliano mengangguk, "Pernah."
"Benarkah? Kemana kak Lian pergi? Saat itu aku naik kapal bersama dengan mama saat akan menuju kepulau yang katanya akan dijadikan sebagai objek penelitian atau apa itu. Kakak sendiri kemana?" tanya Aileen dengan keantusiasan.
"Mencari serangga dipulau seberang." Jawab Julliano.
"Serangga? Ihh, apa itu tidak menakutkan? Mereka itu kecil dan menggelitik, sangat menggelikan~" ucap Aileen sembari memeluk tubuhnya sendiri dan merinding.
Julliano memungut daun kering dari atas kepala Aileen dan berkata ringan, "Tidak juga."
"Benarkah? Wahh, kak Lian sangat berani, Aileen saja tidak berani untuk sekedar mendekatinya!" kagum Aileen.
Tawa dan ocehan dari Aileen terus terdengar. Disepanjang siang hingga sore menjelang. Cahaya mentari yang terang menjadi keoranyean, megah. Cuaca makin dingin pada malam hari, membuat beberapa anak manusia menggunakan lebih dari satu lapis pakaian.
"Mama, kita akan pulang sekarang?" tanya Aileen.
Dareen menganggukkan kepalanya, "Kita masih harus mempersiapkan keperluan untuk menginap dirumah nenek Emi."
"Kerumah nenek Emi?" Beo Aileen.
Dareen memberitahunya, "Ulangtahun?"
Dareen mengangguk. "Mereka pasti datang."
"Reen, nenek Emily akan berulangtahun?" tanya Lyonne.
Dareen mengangguk, "Ikutlah dengan kami besok. Apakah kamu dan Jullian memiliki waktu?"
Lyonne menggeleng, "Sepertinya tidak bisa. Tapi aku titip salam pada yang lain ya. Pada kak Elnos, kak Riana, Axon dan Axia juga pada paman dan bibi yang lain."
Dareen mengangguk paham.
"Kak Lian, nanti kita main lagi ya~ Nanti aku akan menunjukkan tempat-tempat disekolah yang biasanya aku datangi~" kata Aileen.
Julliano mengangguk, "Mn."
Memasuki mobil terlebih dahulu, Dareen mengucapkan sepatah kalimat pada Lyonne. "Terima kasih untuk hari ini Lyon, dan maaf sudah mengikut sertakanmu dalam masalah Aileen. Armendes Corp, benar-benar ingin memutuskan hubungan dengannya?"
"Bagaimana denganmu?" Lyonne membalikkan pertanyaannya.
Mendengar itu, Dareen tertawa sangat ringan dan tipis, "Tentu saja melakukan apa yang seharusnya seorang ibu lakukan saat anaknya diganggu."
Lyonne mengangguk, "Aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Mn, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi Lyon. Jullian, jangan ragu untuk berkunjung kerumah Aileen ya?" kata Dareen.
__ADS_1
Jullian mengangguk, "Baik bibi."
Selepas Dareen menaiki mobilnya, Aileen menurunkan jendela dan melambai pada Lyonne dan Julliano. Melepas mobil yang ditumpangi Dareen dan Aileen pergi, Julliano melirik pamannya dan berkata dengan kedua tangan yang disimpan disakunya.
"Paman suka bibi Dareen ya?" tanyanya to the point.
Lyonne mengangkat satu alisnya dan bertanya. "Memang sejelas itu ya?"
"Tentu saja."
Julliano melanjutkan kata-katanya, "Mata adalah sesuatu yang tidak bisa berbohong."
"Anak nakal, belajar darimana kamu? Sok tahu sekali?" kata Lyonne.
Dareen menyunggingkan senyuman, "Oh~ Aku belajar."
Lyonne menghela napasnya, "Yah~ Anak genius memang berbeda. Baiklah, baiklah. Ayo pulang, janji rahasiakan ya?"
"Baiklah," kata Julliano.
"Jika aku ingat untuk merahasiakannya."
...***...
Diapartemennya, Dareen dan Aileen tengah menyiapkan beberapa pakaian dan keperluan lain yang akan dibawa untuk menginap selama dua hari dirumah nenek Emily. Dareen melipat beberapa pakaian kedalam kopernya dan sesekali membantu Aileen memeriksa apakah ada barangnya yang tertinggal.
Ditengah kesibukan itu, Aileen tiba-tiba memekik. "Astaga, Aileen lupa membeli hadiah untuk nenek Emi! Mama, bagaimana ini?!"
Melihat kepanikan Aileen, Dareen tersenyum sembari meletakkan potongan kain terakhir kedalam koper kecilnya. "Tidak perlu panik sayang, mama sudah menyiapkannya. Lagipula, seandainya kamu tidak membawanya, kedatangan Aileen kesana adalah hadiah untuk nenek Emi."
Aileen tersenyum cerah dan mengangguk, "Syukurlah kalau begitu."
"Ngomong-ngomong, apa papa Azra akan ikut kita, ma?" tanya Aileen.
"Karena papa Azra sibuk, papa Azra hanya bisa mengantar kita. Setelah itu papa Azra akan kembali." Jelas Dareen membuat Aileen menunduk sedih.
"Yah, padahal Aileen kan ingin mengajak papa Azra jalan-jalan bersama nenek dan yang lain kesana~" kata Aileen.
Mengusap surai Aileen, Dareen mencoba memberi pengertian pada Aileen. "Aileen, Aileen tahu kan kalau papa Azra itu seorang pengusaha? Nama papa Azra dikenal banyak orang, memegang tanggung jawab dan maka itu papa Azra sangat sibuk. Kasihan papa Azra jika pusing memikirkan Aileen yang sedih karena papa Azra tidak ikut."
Setelah keheningan selama dua detik, Aileen mendongak dan menunjukkan senyuman tulus pada Dareen. "Mama, Aileen mengerti kok. Aileen tidak sedih lagi, papa Azra kan hebat, jadi seorang pemimpin. Tapi kalau Aileen besar nanti, Aileen tidak mau menjadi pemimpin perusahaan seperti papa."
"Um? Kenapa?" tanya Dareen.
Aileen tersenyum manis, "Karena Aileen tidak mau melewatkan waktu sedetikpun tanpa mama~"
Mengatakan itu, Aileen juga memberikan pelukan kepada Dareen. Membalas pelukan Aileen, Dareen menempelkan pipinya dipuncak kepala Aileen dan tersenyum lembut.
"Anak mama, Aileen~"
__ADS_1