
Green Restourant, adalah restourant baru yang didekat Vita Corp, perusahaan besar yang ada dibawah perusahaan Leviano Corp, yang bekerja dibidang resort dan tergnologi itu. Restourant itu memiliki 2 tingkatan dengan bangunan didominasi kaca tebal sebagai dinding. Direstourant itu, ada resto indoor dan outdoor, tinggal memilih ingin menikmati makanan lezat didalam ruangan nyaman dan tenang atau diluar yang cerah sembari menikmati pemandangan kendaraan yang berlalu lalang.
Sesuai perkataannya menyetujui ajakan Anye, keduanya melangkah memasuki restourant bergaya modern-sederhana itu dan mendudukkan dirinya disalah satu meja didekat jendela sebelum pelayan datang dengan papan menu. Mengucapkan pesanan mereka selepas membaca menu, pelayan meminta mereka menunggu dan bergerak kebelakang untuk memberitahu pesanan sebelum bergerak kemeja lain.
"Jadi, Reen. Gimana kabar Ai? Sudah lama tidak melihatnya, aku jadi kangen." Kata Anye.
"Baik." Jawab Dareen.
Anye menopang wajahnya dengan satu tangan, "Azra bagaimana?"
Dareen hanya menganggukkan kepalanya, bersamaan dengan pelayan yang datang membawakan makanan pembuka dan minuman dingin. Dareen dan Anye meraih sedotan dan memasukkannya kedalam bibirnya untuk merasa dan menelan cairan manis dan segar dari gelas.
"Kau dan dia .." untuk sesaat Anye nampak ragu. Ia mendongak dan menatap Dareen dengan serius. "Mengapa tidak hentikan saja ini, Reen?"
Anye menghela napas dan mengulurkan tangan menyugar surainya kebelakang bersamaan dengan pelayan yang datang membawa makanan utama.
"Kau benar-benar sulit. Tapi, kapanpun kau membutuhkanku, kau tahu kalau sampai kapanpun aku ada untukmu." Kata Anye membuat Dareen tersenyum.
Dareen bergumam samar, "Aku tahu."
Keduanya mulai mencicipi makanan dan menikmatinya dengan senang hati. Restourant ini memang pantas disebut restourant dengan menu makanan yang lezat, itu tidak bohong dan memang enak.
"Dareen?"
Panggilan itu membuat Dareen dan Anye bersamaan menoleh. Suara familier dan wajah yang jelas diingatan itu membuat Dareen sedikit terhenyak.
Anye bereaksi lebih cepat, "Siapa? Temanmu, Reen?"
Lyonne Reganzio Maxilium, adalah sahabat masa kecil Dareen. Keduanya dulu sangat dekat sampai keduanya kehilangan kontak ketika Lyonne terpaksa pergi keluar negeri bersama orangtuanya ketika berusia 10 tahun. Pada awalnya mereka masih saling berkirim pesan, sampai Lyonne kehilangan kontak dengan Dareen yang pernah mengganti nomornya karena suatu masalah yang dihadapinya.
"Lyon?" beo Dareen.
Pria bersurai hitam dengan manik kelabu itu tersenyum dan menampilkan dua lesung pipi dikedua pipinya.
"Aku sudah pulang, Reen." Kata Lyonne membuat Dareen tak bisa berkata-kata ketika ia masih dilingkupi keterkejutan.
...***...
Selama beberapa waktu mengobrol, Anye berpamitan lebih dulu ketika mendadak mendapatkan urusan penting. Kini, direstourant yang hangat dengan suasana yang damai, keduanya duduk berseberangan dan tak bisa tidak mengungkapkan kerinduan yang mereka rasakan. Keduanya sangat dekat dan seperti saudara dulu, selalu melakukan banya hal bersama.
__ADS_1
Dan setelah terpisah, bohong jika Dareen ataupun Lyonne tak pernah memikirkan satu sama lain.
"Jadi, kamu sudah menikah?" tanya Lyonne setelah keheningan selama beberapa saat.
Dareen sedikit menundukkan matanya, dengan bibir tipisnya dia menjawan. "Iya, aku sudah menikah."
Bohong jika Lyonne tak sakit hati mendengar ini. Pasalnya, sejak lama ia telah menyukai bahkan mencintai sosok Dareen yang bercahaya dan hangat. Meski entah kenapa, sekarang senyuman dan wajah hangat tak lagi terpancar diwajah cantik wanita yang dicintainya.
Namun karena tuntutan sang ayah yang mengharuskannya pindah keluar negeri membuatnya berjauhan dengan Dareen bahkan harus kehilangan kontak dengan Dareen selama bertahun-tahun lamanya. Dia sangat frustasi.
Dan setelah memegang perusahaannya sendiri, barulah Lyonne kembali ketanah airnya untuk mengurus usahanya dan menemui Dareen. Siapa sangka direstorannya, dia akan bertemu langsung dengan Dareen. Seperti sebuah kebetulan nyata.
Lyonne dengan ragu bertanya, "Apakah .. ada cinta dipernikahan kalian?"
Dareen terdiam. Cinta?
Omong kosong dengan cinta. Pernikahan yang dijalaninya selama sebulan ini tak lebih dari pernikahan kontrak yang akan berakir setelah 2 tahun. Untuk apa adanya cinta, ketika keduanya memiliki kehidupan pribadi masing-masing? Bahkan Azraell, masih memiliki kekasih, seseorang yang dicintainya.
Pernikahan ini tak lebih dari pernikahan bisnis yang ditujukan untuk membuat kedua orangtua mereka tidak kecewa. Ah, ralat. Mungkin hanya Azraell yang berpikiran begitu. Hanya saja Dareen tak merasa nyaman untuk melihat wajah kecewa Veryana ketika ia menolak pernikahan. Bayangannya akan merasa bersalah, jadi dia menyetujuinya.
Dan juga dengan pernikahan, setidaknya Aileen yang mengharapkan bagaimana sosok ayah dapat merasakannya walau untuk waktu yang sebentar. Sebelum Dareen bercerai dengan baik-baik, dan memutuskan untuk sendiri sampai tua.
Keduanya hidup seperti teman sekamar, begitu saja.
Bulu matanya bergetar sebelum dia mengangkat pandangan ke Lyonne, "Aku .. ingin memberitahumu sesuatu. Bisakah, kamu berjanji merahasiakannya?"
Lyonne awalnya kebingungan, sebelum dalam hati benar-benar menyetujui untuk merahasiakan apapun yang akan dikatakan Dareen.
...***...
Angin berhembus semilir. Ketika sore yang cerah memunculkan semburat kemerahan dilangit barat. Bahkan tak ayal, beberapa bintang terlihat. Dan bintang pertama yang paling terang, terlihat dengan mata telanjang. Daun-daun tak luput berguguran, dan aroma dedaunan khas tercium. Tapi, sore itu dingin.
Didalam mobil mewah berwarna hitam yang berhenti diparkiran luar NES, Dareen duduk dibangku penumpang sementara dibangku pengemudi, Lyonne duduk disampingnya. Keduanya beberapa kali mengobrol ringan sembari menunggu kedatangan Aileen.
"Berapa lama kamu akan disini?" tanya Dareen.
"Untuk waktu yang lama. Aku sangat merindukan Manhattan, dan sudah terlalu lama di Amerika. Aku juga masih merindukanmu untuk pulang beberapa minggu saja~" kata Lyonne.
Dareen menerbitkan senyuman tipis, "Kamu masih sama."
__ADS_1
"Kamu yang berbeda." Ucap Lyonne membuat Dareen terdiam selama beberapa saat sebelum menggeleng.
"Aku tidak berbeda." Katanya.
Lyonne memandang serius Dareen, "Kalau begitu biarkan aku melihat ketidakberubahanmu, Reen."
Mengabaikan ucapan Lyonne, Dareen membuka pintu dan memanggil Aileen yang sudah keluar dari NES.
"Mama!" pekik Aileen saat melihat Dareen.
Melihat seorang anak laki-laki berlari menghampiri Dareen, Lyonne melangkah turun dan dengan ramah tersenyum pada Aileen. Membuat Aileen kebingungan dan bertanya-tanya.
"Halo Aileen," sapa Lyonne.
"Ha .. halo," balas Aileen sembari bersembunyi dibelakang Dareen.
Dareen menepuk lembut kepalanya, "Tidak papa. Ayo kenalan dengan paman."
Aileen menurut dan mengulurkan tangannya yang dibalas Lyonne yang berjongkok untuk menyamakan tingginya. "Namaku, Aileen paman. Paman sendiri siapa?"
Lyonne menjawab dengan senyuman, "Nama paman Lyonne. Aileen bisa panggil, paman Lyon."
Aileen menatap Lyonne dengan tatapan lama Dan tersentak ketika mendengar pertanyaan Aileen. Begitupun dengan Dareen.
"Apa paman papa kandungnya Aileen? Soalnya mama bilang papa itu orang yang punya senyum yang mirip Aileen. Dan mama tidak pernah membawa laki-laki dewasa untuk bertemu Aileen selain papa Azra." Ucap Aileen.
Dareen mengatupkan bibirnya sementara Lyonne yang sadar dari keterkejutannya kembali tersenyum.
"Paman bukan papanya Aileen." Kata Lyonne membuat Aileen menunduk kecewa.
Lyonne mengusap pancak kepala Aileen dan berkata dengan hangat.
"Kalau Aileen mau panggil paman papa juga gak papa kok~ Paman justru senang~" kata Lyonne membuat Aileen tersenyum cerah.
"Benar?"
Dexelt menganggukkan kepalanya membuat senyuman Aileen makin cerah.
"Papa Lyon!"
__ADS_1