Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 14: A Letters


__ADS_3

"Selamat ulangtahun nenek. I love you .."


Pelukan hangat diterima Emily dari Dareen. Wanita tua itu membalas pelukan Dareen dengan senyuman yang terkembang dibibirnya. Menampilkan lebih jelas keriput dibawah matanya. Aileen yang melihat turut memeluk Emilly.


"Selamat ulang tahun grandma! Aileen harap nenek bahagia selalu~" ujar Aileen dengan senyuman.


"Terima kasih sayang, nenek sangat bahagia!" Kata Emilly sembari mengecup kedua pipi Aileen yang terkikik.


Suasana perayaan ulangtahun nyonya besar keluarga Parvaita itu penuh dengan kegembiraan dan kemeriahan, meskipun tidak mengundang orangluar dan hanya dirayakan oleh keluarga besar tanpa mengundang kerabat lainnya, itu sudah cukup untuk membuat suasana tetap hangat. Orangtua berkumpul dan saling mengobrol tentang keluarga masing-masing. Entah itu pekerjaan hingga mengurus pekerjaan rumah.


Yang muda sesekali ikut menimpali, tetapi mereka sering berinteraksi dengan sesama yang muda. Bercanda dan membicarakan tentang hal yang kekinian. Termasuk Dareen yang duduk diantara Elson, Sellina dan Yusa, istri Elson.


Sementara anak-anak sibuk menikmati kue ulangtahun yang telah terpotong beberapa waktu lalu. Mereka saling melempar tawa dan candaan, dan bahkan sesekali mereka saling mengejar.


Benar-benar suasana yang baik.


"Bagaimana pekerjaan kak Yusa disana? Apakah berjalan baik?" Dareen bertanya kepada wanita cantik berdarah campuran itu karena penasaran.


"Syukurlah semuanya baik-baik saja. Usaha toko kue kakak bahkan sudah memiliki lebih dari seratus pegawai." Kata Yusa.


Dareen mengulas senyuman. Kakak ipar sepupunya itu memang senang membuat kue sejak masih muda. Dia mendirikan sebuah toko kue yang diberi nama, Rakīisha yang dalam bahasa Jepang memiliki arti "Isya Yang Beruntung." Isya adalah nama putri mereka, dan Dareen menerka nama itu mungkin untuk mendoakan agar putri mereka selalu diberkahi keberuntungan.


"Oh, bagaimana dengan pekerjaanmu sendiri, Reen? Terkadang aku memikirkan, betapa sulitnya bekerja disebuah perusahaan sembari mengurus anak." Kata Yusa.


Dareen bahkan menyembunyikan fakta bahwa dia adalah CEO Vita Corp dari keluarganya. Dareen hanya tidak ingin memberitahu mereka, dan dia terus menyimpannya sampai sekarang. Keluarganya hanya tahu bahwa Dareen bekerja sebagai karyawan di Vita Corp.


Dareen menjawab, "Untungnya semua baik-baik saja. Aku masih bisa membagi waktuku untuk pekerjaan dan mengurus Aileen. Meski terkadang ada waktu dimana aku sedikit lelah bekerja."


Elnos menimpali, "Yah.. Semua pekerjaan pasti akan ada saatnya dimana kita lelah. Tapi entah bagaimana, saat melihat senyuman orang yang dikasihi, kita akan selalu kehilangan rasa lelah itu. Sama seperti aku saat melihat senyum Yusa dan Isya."


Ia menoleh menatap Yusa dan menaik turunkan alisnya, "Kan sayang?"

__ADS_1


Yusa mencubit pinggangnya, "Jangan menggombal."


"Tapi apa yang dikatakan kak Elnos itu benar. Rasanya semua rasa lelahku terbayarkan saat melihat senyuman Aileen." Dareen tak kuasa menahan senyuman melihat Elnos dan Yusa.


"Ekhm! Permisi, ada yang belum menikah disini. Mohon tahan kemesraan tingkat dewa ini." Kata Sellina mengundang tawa mereka bertiga.


"Makanya segera menikah.." Ingat Elnos pada adiknya.


Sellina cemberut, "Aku masih kuliah kak. Masih menunggu beberapa tahun lagi sampai aku menyelesaikan S3 ku."


"Maka kau akan terus melihat kemesraan kami. Jangan protes, ambil kue saja sana." Kata Elnos membuat wajah Sellina makin terlipat.


Ditengah obrolan mereka, suara seseorang membuat mereka menghentikan obrolan seketika. Dareen menoleh dan mendapati Roseana berdiri disampingnya dengan tatapan enggan. Dareen membuka bibirnya dan bertanya dengan tenang. "Ada apa?"


Roseana meremat ujung bajunya dan bertanya dengan pelan, "Bisakah kita bicara sebentar? Ada sesuatu, yang ingin mama katakan."


Dareen menghela napasnya. Sudah terlalu lama dia menghindari percakapan serius dengan orangtuanya. Selama bertahun-tahun dia tidak pernah ingin berbicara dengan orangtuanya. Dareen bangkit berdiri dan melangkah pergi, tanpa mengatakan sepatah katapun, tetapi itu bukan bentuk penolakannya.


Roseana terdiam sebelum mengangkat senyuman lemah, "Iya. Bibi mengerti."


Sepeninggal Dareen dan Roseana, Elnos menghela napasnya tanpa daya. Yusa yang berada disampingnya mengusap lengannya dan mengulas senyuman.


"Dareen pasti akan segera baik-baik saja. Dia adalah perempuan paling kuat yang pernah kukenal." Kata Yusa.


Elnos mengulas senyuman, "Dia memang kuat. Hanya, kami kadang-kadang merindukan sifatnya yang aktif itu. Bagaimana dia tersenyum riang dan tertawa tanpa beban. Seandainya saja dia tidak pergi. Bagaimanapun, kepergiannya, membuat Dareen sangat terpukul."


Sellina menginterupsi, "Sudah kak. Aku takut kak Dareen mendengarnya. Jangan membicarakan ini lagi."


"Aku akan menemani anak-anak bermain." Ia bangkit berdiri dan berlalu pergi, meninggalkan keduanya yang lagi-lagi menghela napas.


...***...

__ADS_1


"Jadi, apa yang harus kudengar?"


Dareen bertanya kepada Roseana yang ada didepannya. Wanita muda itu bersandar didinding sembari menatap kebawah. Tak berniat memandang lawan bicaranya.


Roseana hendak meraih tangan Dareen, sebelum berhenti ketika Dareen menghindarinya. "Mama .. Mama minta maaf, Reen. Mama tahu apa yang mama lakukan dulu salah, mama sudah berusaha untuk menebusnya Reen. Mama mohon katakan apa yang bisa mama dan papa lakukan untuk mendapatkan maaf darimu."


"Mama mohon Reen.."


Dareen mengangkat wajahnya. Hampir tak ada emosi yang bisa dibaca dari wajah tenang itu. Hanya ada sedikit rasa dingin samar.


"Aku ingat aku pernah memohon seperti itu." Katanya membuka suara.


Dia kemudian menggeleng, dan ada kilatan kemarahan dan rasa miris dimatanya, "Tapi kalian mengatakan apa yang kulakukan sia-sia. Dan hal yang kulakukan, adalah tindakan memalukan! Tolong ingat itu."


Air mata Roseana meluruh, dan melihat itu, Dareen mengerutkan alisnya. "Tolong berhenti membuatku menjadi seperti yang jahat disini. Itu benar-benar membuatku kesal."


Roseana mengusap air matanya, meskipun itu tak berpengaruh ketika bulir air mata terus meluncur dipipinya. "Mama tahu mama salah. Mama minta maaf. Mama .. Mama menemukan surat ini, didalam saku mantelmu."


Dia segera menggeleng, "Mama tidak membacanya. Mama menemukan surat itu dimantel bajumu beberapa minggu yang lalu, jadi mama tidak berani membacanya dan mama pikir itu sesuatu yang penting."


Dia mengeluarkan selembar kertas amplop bertuliskan nama Dareen didepannya. Dareen menerimanya dan menatap tulisan tangan yang lekat diingatannya itu dengan sepasang manik yang mengungkapkan sejuta emosi.


Dalam hatinya, Dareen merasa bahwa selembar kertas itu sama beratnya dengan memikul sepuluh ribu karung beras.


"Kalau begitu, mama akan kembali." Ucap Roseana pelan, sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Dareen yang masih ada didalam kamarnya itu.


Tangannya bergetar membawa selembar kertas itu. Ia memejamkan matanya, dan dadanya sesak karena semua emosi yang menekan didadanya. Dia sudah belajar menekan semua emosinya, semua perasaannya selama bertahun-tahun. Tetapi hanya karena selembar surat ini, dia hampir meledakkan seluruh emosinya. Dareen menipiskan garis bibirnya dan membuka matanya tegas. Sebelum akhirnya menyerah dan menyimpan surat itu kedalam tasnya.


"Aku belum siap untuk membaca surat darimu. Itu masih terlalu menakutkan bagiku. Kamu harus tahu, kalau aku bisa marah padamu." Gumamnya dengan suara nyaris seperti bisikan.


__ADS_1


__ADS_2