Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 13: Tears and Promise


__ADS_3

Makan siang dikeluarga Parvaita itu berjalan dengan penuh keharmonisan. Sesekali diselingi obrolan ringan antara mereka yang menambah kentalnya kekeluargaan Parvaita.


"Reen, apa kamu masih senang menggambar?" tanya Emily pada Dareen.


Dareen menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan singkat, "Masih nek."


Emily menganggukkan kepalanya dengan senyuman, "Sangat baik. Nenek sangat ingin dilukis oleh Reen~ Benar kan, kek?"


"Benar," jawab Lucas.


Dareen menjawab dengan senyuman, "Aku tidak sepandai itu nek. Bagaimana jika aku sampai mengurangi kecantikan nenek dan ketampanan kakek?"


"Mulutmu sangat manis, ya? Sudah, pokoknya besok kita berfoto dan Reen akan melukis kita. Mengerti?" kata Emily membuat Dareen terkekeh pelan dan mengangguk.


"Baik kek," jawab Dareen.


"Benar, Sely. Kapan kamu akan memiliki pasangan?" tanya Cassandra mengubah topik yang telah selesai.


Dareen menoleh pada Sellina yang sedikit memerah, dan tak bisa menahan senyumannya kala menengar perkataan Elnos. "Jelas sudah punya calon~"


"Kak Elnos!" pekik Sellina.


Ia berdehem sebelum menjawab, "Aku belum memikirkan tentang pasangan. Tapi, seseorang yang kusukai, mungkin ada."


"Benarkan, apa yang kukatakan~" goda Elnos pelan.


Sellina memelototi Elnos, "Diam kak!"


Aileen menimpali, "Mama, wajah bibi merah. Apa bibi Sely demam?"


"Tidak sayang, lanjutkan makanmu ya~" kata Dareen lembut membuat Aileen mengangguk dan melanjutkan makannya.


"Sudah, sudah. Jangan terus menggoda adikmu, El." Kata Anessa membuat Elnos menyunggingkan senyumnya dan beralih menyuapi Isya yang duduk disebelah Aileen.


Obrolan mereka terus berlanjut, sampai sebuah suara membuat ruangan hening. Mendengar suara yang berdengung itu, Dareen secara langsung menghentikan alat makannya, menghentikan kegiatannya dan tanpa sadar menahan napas selama beberapa saat.


"Ibu, ayah."


Lucas terlebih dulu membuka suaranya, "Jason? Ana? Kalian datang kemari juga?"


Pria itu adalah Jason, ayah dari Dareen. Sementara wanita bersurai panjang disebelahnya adalah Roseana, ibu dari Dareen. Kedua pasangan setengah baya itu melangkah menuju Lucas dan Emily. Mencium tangan keduanya dan mengucapkan selamat ulangtahun pada Emily.


"Ibu, selamat ulangtahun." Kata Lucas membuat Emily menganggukkan kepalanya.


"Bu, selamat ulangtahun ya," ujar Roseana.


Emily mengangguk, "Terima kasih, nak."


Menarik tubuh mereka sedikit menjauh, keduanya menoleh dan menatap Dareen. Ketika pandangan mereka jatuh pada Aileen, sepasang mata itu menyendu.


"Reen," panggil Roseana.


Namun dengan tenang Dareen mengabaikannya dan bertanya kepada Aileen, "Aileen. Aileen mau ikannya lagi?"

__ADS_1


Aileen menganggukkan kepalanya. "Boleh! Aileen suka ikan!"


"Reen," Roseana mencoba memanggil Dareen kembali.


Suasana mendadak menjadi canggung ketika Dareen lagi-lagi mengabaikan Roseana dan kembali mengurus Aileen. "Hum, mama sangat tahu kalau Aileen suka ikan."


"Dareen," lirih Roseana.


"Kalau begitu berterima kasihlah pada bibi Cassandra dan bibi Ane yang sudah memasakkan makanan lezat untuk Aileen." Ujar Dareen mengabaikan panggilan Roseana.


Wanita itu, Roseana memanggil sekali lagi nama Dareen dengan air mata menggenang ditubuhnya dan tubuh yang bergetar, "Reen."


Namun sayang sekali bahwa Dareen seolah tuli dengan panggilan-panggilan itu. Suasana sangat canggung, selain ocehan Isya dan sikembar, tak ada yang berani membuka suara bahkan termasuk Lucas dan Emily yang tertua disana. Atau bahkan untuk sekedar mengingatkan Dareen tentang panggilan Roseana yang berulang itu. Aileen yang mendengar wanita yang diketahuinya adalah neneknya memanggil nama mamanya berulang kali memandang Dareen dengan senyuman tidak nyaman.


"Mama, nenek terus memanggil mama." Ujarnya.


Menyunggingkan senyuman sopan, Dareen pada akhirnya menoleh, "Apakah ada sesuatu?"


Roseana tak kuasa menahan air matanya yang tengah menggenang, bersuara sambil gemetar. "Nak, kamu .. kamu bagaimana keadaanmu?"


Dareen tersenyum tenang, "Seperti yang terlihat. Sangat, baik."


Jason yang sedari tadi diam juga akhirnya membuka suaranya, "Aileen sudah besar ya? Terakhir kali kami melihatnya, dia masih berusia 3 tahun. Kamu, kapan akan pulang Reen?"


Menunduk, Dareen menahan tawanya dan berkata dengan senyuman sinis. "Untuk apa?"


"Reen, maafkan mama. Mama benar-benar bersalah. Maafkan mama karena tidak tahu bahwa Kary akan," perkataan Roseana terpotong.


"Jangan bicarakan tentang dia!" Dareen berkata sembari memukul meja dengan telapak tangannya.


Bangkit dari duduknya, sepasang manik Dareen memerah karena amarah, dan sedikit berkilat tajam karena kilau air mata. Mengusap wajahnya, Dareen berbalik tanpa kata dan meninggalkan Aileen yang mencoba memanggil Dareen.


"Ma! Mama!" panggil Aileen.


Mereka dengan jelas menyaksikan Dareen menaiki tangga dan mendengar suara bantingan pintu. Hanya ada keheningan dan isakan tangis Roseana sebelum Aileen membuka suaranya.


"Paman, sebenarnya mama kenapa?" tanya Aileen bingung.


Elnos terlihat ragu sebelum Yusa, istrinya menyela perkataannya, "Ini. Mama Dareen sedang kelelahan, Aileen jangan khawatir ya. Nanti kalau mama Dareen sudah pulih dan kembali bersemangat, mama Dareen akan menemani Aileen lagi. ya?"


Mendengar itu, Aileen ragu sebelum menganggukkan kepalanya dan melirik Jason dan Roseana yang tengah dalam pikiran kalut mereka masing-masing.


"Duduklah." Perintah Lucas membuat Roseana dan Jason menurutinya.


Keduanya duduk dibangku kosong sembari larut dalam pikiran mereka. Sembar sesekali menimpali percakapan ditengah acara makan yang menyimpan sedikit ketegangan dan kecanggungan.


Disisi lain, disebuah kamar luas bernuansa putih itu, Dareen duduk diam ditempat tidur. Memandang langit biru melalui jendela besar yang nyaris memenuhi satu sisi dinding itu. Tak ada riak emosi didalamnya, dan tak ada tanda bahwa dia marah atau sedih atau mungkin senang. Semuanya datar, tanpa ekspresi.


Mengambil sesuatu dari balik pakaiannya, sebuah liontin berbentuk air mata jernih dengan helaian benang hitam didalamnya, tergantung apik dikalung peraknya. Dareen memandangnya kosong sebelum bergumam dengan samar.


"Itu adalah pilihanmu untuk bersama dengannya. Tapi kamu juga menghancurkanku, dan melihat mereka kembali, sungguh menyakitkan." Lirihnya dengan sendu.


"Masih begitu menyakitkan."

__ADS_1


...***...


Berjongkok didepan pintu kamar Dareen, Aileen sesekali menggosok lengannya dan kadang bermain dengan jari kakinya. Mamanya tidak kunjung keluar setelah makan malam. Ya, bukan masalah dia akan tidur bersama Dareen. Untuk malam ini dia akan tidur bersama dengan paman kecilnya, namun Aileen khawatir sang mama menangis sendirian lagi.


Dulu, saat dia masih berusia 5 tahun, dia melihat sang mama menangis sendirian dikamarnya setelah bertemu dengan orang yang diketahuinya adalah neneknya. Neneknya entah mengatakan sesuatu sambil menangis, namun Dareen membalasnya dengan dingin. Sayang sekali bahwa setelah pintu tertutup, sang mama langsung terduduk dan menangis sembari menggenggam erat kalungnya.


Aileen sama seperti sebelumnya, tidak mengerti alasan mamanya tidak menyukai nenek dan kakeknya. Namun jika dekat dengan nenek dan kakeknya dapat membuat sang mama sedih, Aileen tidak ingin dekat dengan mereka walau sebenarnya Aileen ingin.


"Aileen," suara lembut datang dari arah samping, membuatnya menoleh dan mendapati Roseana mengenakan piyama memandangnya dengan senyuman.


Aileen meliriknya, sebelum menyembunyikan setengah wajahnya dilipatan tangannya. Memandang Roseana tanpa kata dan tanpa keinginan untuk membalas.


Roseana mendekati Aileen dan duduk disampingnya, "Aileen kenapa duduk disini? Disini dingin sayang, nanti kamu bisa demam. Ikut nenek ya?"


Aileen menggelengkan kepalanya. "Aileen mau disini."


Roseana mencoba membujuk, tak ingin cucunya itu kedinginan. "Kenapa sayang? Disini dingin, kemarilah. Ikut nenek."


"Aileen mau menunggu mama."


"Mama akan keluar nanti Aileen. Aileen ikut nenek saja ya?" bujuk Roseana.


Aileen menepis pelan tangan Roseana, "Aileen mau disini. Nenek tolong jangan ganggu Aileen."


"Aileen tidak tahu apa masalah antara mama dan nenek. Tapi Aileen mohon, jangan buat mama bersembunyi dari Aileen seperti ini. Nenek dan kakek selalu membuat mama bersembunyi dari Aileen. Aileen tidak suka," ujar Aileen sembari menarik pandangannya.


"A-Aileen.." Lirih Roseana.


Namun Aileen memeluk lututunya dan membenamkan wajahnya diantara tangannya. Dia hanya ingin menunggu hingga sang mama keluar, berhenti bersembunyi darinya dan datang memeluknya dengan senyuman yang hangat dan lembut.


Hanya itu yang diharapkan Aileen.


...***...


Dareen memandang dirinya dipantulan cermin. Matanya sedikit sembab, namun jika dia menutupinya menggunakan foundation, sepertinya tidak akan terlihat. Ini sudah menjadi pagi setelah acara makan malam, dan dia belum juga keluar dari kamarnya. Dareen sedikit merasa bersalah pada Aileen, namun Aileen juga sudah tidur bersama dengan Leaxon. Dareen hanya butuh waktu beberapa saat, hanya sebentar untuk menenangkan perasaannya dan menstabilkan pikirannya.


Keluar dari kamarnya, Dareen langsung disambut pekikan dan pelukan erat dari Aileen.


"Mama!"


"Mama lama sekali keluarnya~ Aileen sangat khawatir." Kata Aileen.


Dareen menyunggingkan senyuman tipis, merapatkan pelukannya dan Aileen sembari berujar tenang. "Maafkan mama membuat Aileen khawatir ya? Semalam mama kelelahan dan tanpa sadar tertidur pulas. Maaf ya?"


Aileen mengangguk, "Aileen maafin kok. Tapi lain kali, mama jangan begini."


"Mn, baiklah."


"Janji?" Ucap Aileen sembari mengulurkan jari kelingkingnya.


Tersenyum, Dareen membalasnya sembari berkata dengan senyuman. "Janji."


__ADS_1


__ADS_2