Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 19: A Mother's Request


__ADS_3

Azraell menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya sebelum berdecak didalam hatinya. "Mereka terlalu lama."


"Eri, tetaplah disini dan kabari aku jika mereka sudah menemukan Aileen. Aku akan mencarinya juga." Perkataan Azraell membuat alis Eri menukik, "Hah?"


"Maksudmu aku harus berpanas-panasan disini menunggu anak yang bahkan aku tidak mengenalnya? Apa kamu bercanda, Zra? Aku ada pemotretan besok. Aku kemari hanya untuk bertemu denganmu! Bukan menunggu anak kecil yang menghilang." Ucap Eri.


Azraell terus mendesak Eri. "Sayang, hanya sebentar. Kamu bisa berteduh dibawah pohon ini. Aku akan segera kembali, dan aku akan pergi bersamamu."


Ia melanjutkan meyakinkan wanita itu, "Aku berjanji."


"Baik, baiklah! Akan kulakukan." Eri menghentakkan kakinya sekali sebelum akhirnya berbalik dan mendudukkan dirinya dibangku dibawah pohon.


"Tetapi aku harap kamu menepati janjimu, Zra."


Azraell mengangguk. "Terima kasih, sayang. Aku akan segera kembali."


Setelah mengatakan itu, Azraell berlalu pergi mencari keberadaan Aileen. Meninggalkan Eri yang duduk bersilang kaki sembari memainkan ponselnya. Ia tidak sadar berapa lama itu, tetapi setelah ia menurunkan ponselnya, ia melihat petugas kebun binatang yang sempat dilihatnya bersama Azraell tadi berjalan mendekatinya dengan seorang anak dalam gandengannya.


Anak itu menundukkan kepalanya, tetapi wanita itu memiliki firasat bahwa dia adalah anak yang dimaksud oleh kekasihnya.


"Kalian sudah menemukannya? Dimana dia ditemukan?" Tanya Eri tanpa berdiri menyambut keduanya.


Petugas itu menjelaskan dengan jujur. "Kami menemukannya bersembunyi dibelakang gedung terbengkalai diselatan kebun binatang, nona. Setelah melakukan pengecekan CCTV. Untungnya dia tidak terluka."


Eri menatap Aileen dan menyuruh petugas itu pergi bahkan tanpa memandangnya. "Kalau begitu, pergilah. Tugasmu sudah selesai."


"Tapi nona—"


"Tapi apa lagi? Kau butuh uang imbalan?" Mendengar pertanyaan Eri, petugas itu sedikit mengerutkan alisnya sebelum menjawab dengan tegas. "Kami membantu dengan tulus nona. Jika bantuan kami kurang berkenan untuk anda, kami minta maaf!"


Dan pergi dengan gerutuan kesal didalam benak dan bibirnya. "Sungguh wanita yang sombong!"


Bahkan meskipun Eri mendengar gerutuan pria tadi, ia hanya meliriknya sekilas sebelum menatap Aileen yang masih setia menunduk ditempatnya. Eri memerintahnya dari balik masker dan kacamatanya. "Angkat wajahmu."


Aileen tidak mengangkat wajahnya, dan bahkan tidak bersuara. Anak yang biasanya selalu ramah dan menampilkan wajah ceria untuk siapa saja itu hanya tertunduk diam. Tetapi keterdiamannya tanpa sadar membuat Eri merasa cukup kesal didalam benaknya.

__ADS_1


"Apa kau tidak dengar?" Eri meninggikan suaranya satu oktaf lebih tinggi. Dan kembali memerintah. "Angkat kepalamu!"


Tak kunjung mendapat jawaban, emosi Eri yang setipis benang tertarik dan putus. Membuatnya berdiri mendekati Aileen dan mencengkram bahunya kuat, hingga membuat anak itu meringis. "Hiss!"


"Kubilang angkat kepalamu!"


PLAK!


"Akh!" Merasa tamparan keras mendarat ditangannya yang ditepis, Eri memekik dan menjerit. Hampir mengundang perhatian beberapa pengunjung kebun binatang.


"Beraninya kau?!"


"Jika kau berani menyakiti putraku, kau akan berurusan denganku!" Dareen menarik Aileen untuk berlindung dibelakangnya dengan tatapan tajamnya tak lepas mengunci Eri.


...***...


Azraell mengusap peluh yang tercetak dipelipisnya. Setelah hampir mengelilingi kebun binatang yang amat luas itu, tidak mungkin baginya untuk tidak merasa lelah. Dia baru saja akan melanjutkan penyisirannya jika saja ponselnya tak berdering.


"Halo?"


Istrinya? Mungkin yang dimaksud adalah Eri yang menunggu ditempat tadi.


Azraell menjawab. "Baiklah, terima kasih."


Segera setelah mendapatkan jawaban, Azraell menyimpan ponselnya dengan lega dan berbalik untuk kembali ketitik dimana ia meninggalkan Eri. Tetapi yang ditemukannya adalah pemandangan dimana Dareen yang berstatus istrinya, tengah mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan diwajah Eri yang berstatus kekasihnya. Dibelakang Dareen, ada seorang pria yang tidak dikenal olehnya, tengah menggendong Aileen yang memeluk leher pria itu dengan erat.


Azraell bereaksi dengan cepat, menahan tangan Dareen dan berdiri memblokir Dareen dari berhadapan dengan Eri. "Zra! Hiks, akhirnya kamu kembali!"


Azraell menatap Dareen lama, sebelum angkat bicara. "Bisa kau jelaskan?"


Dareen balas mengunci tatapan keduanya. Tak mengucapkan sepatah katapun saat Eri menyelanya. "Bukankah kau sudah melihatnya? Dia akan menamparku. Apa yang perlu dijelaskan, Zra?!"


Dareen menoleh menatap Lyonne yang masih mencoba menenangkan Aileen yang makin mengeratkan pelukannya pada Lyonne. "Lyonne, bisakah kamu membawa Aileen pergi dulu."


Lyonne menganggukkan kepalanya. "Tentu, aku akan membawanya bertemu Jullian. Mungkin dia bisa menenangkannya walau sedikit." Dan berlalu setelah melirik tajam Azraell dan Eri yang turut beradu pandang dengannya.

__ADS_1


"Bisakah aku menyebut bahwa kamu telah melanggar kontrak?" ucap Dareen tenang sembari memandang Azraell.


Azraell mungkin sedikit melupakannya, hingga Dareen berucap. "Aku akan membantumu mengingatnya. Pasal kelima, tidak akan membiarkan Aileen bertemu dan tahu hubunganmu dengan Eri."


"Dia tidak tahu. Aku tidak pernah memberitahunya atau membiarkannya melihat kami." Kata Azraell membela diri.


Dareen menggeleng tegas. "Tidak, dia melihatnya. Dia melihat kalian, dia melihatnya."


Dareen menghela napas. "Aku tidak pernah menuntut apapun mengenai perjanjian kita Zra. Tapi kumohon satu hal padamu. Jangan menyakiti Aileen."


"Dia satu-satunya yang berharga dalam hidupku."


...***...


"Aileen, apa Aileen sudah merasa baikan? Sudah merasa ingin bercerita pada papa Lyon?" Lyonne bertanya kepada Aileen yang menyembunyikan wajahnya didada kecil Jullian.


Anak sepuluh tahun itu sesekali menepuk punggung tipis Aileen, menyalurkan kenyamanan dan perasaan aman. "Paman, menjauhlah! Paman menakutinya dengan wajah jelek paman."


"A-Apa? Pa-Paman tidak percaya kamu bisa berkata seperti itu? Yang setampan paman, menakuti si kecil manis ini?!" Drama Lyonne membuat tubuh Aileen sedikit bergerak.


Suaranya teredam Jullian, namun jelas terdengar. "Papa Lyonne memang jelek."


"Aileen~ Bagaimana kamu bisa mengkhianati papa Lyon begitu saja? Papa bisa membelikanmu es krim, Jullian tidak~" tangis palsu Lyonne.


"Itu karena paman sudah tua." Ledek Jullian.


Lyonne menatap Jullian dengan syok. "Tua? Paman tua? Anak nakal! Siapa pamanmu, biarkan aku menendang pantatnya menggantikanmu!"


Aileen mendengus dan terkikik. Ia mengintip selama beberapa detik sebelum kembali menyembunyikan wajahnya dengan semburan tawa. "Haha! Papa Lyonne sangat lucu! Papa mau menendang pantat papa Lyonne sendiri.. Haha!"


Lyonne mengulas senyuman dan menatap Jullian yang menaikkan sebelah alisnya padanya. "Itu selalu berhasil."


Ia mengangguk, "Tentu saja." Membiarkan tempat itu dipenuhi gelak tawa Aileen.


Untuk sesaat, biarkan dia melupakan kesedihannya. Bahkan meskipun Lyonne harus terlihat konyol, itu bukan masalah besar. Senyum anak itu lebih berharga dari rasa malunya.

__ADS_1



__ADS_2