
"Serius saja, Reen! Apakah dia termasuk dalam tipemu? Kamu pernah bilang kalau kamu suka dengan tipe yang ceria dan se frekuensi denganmu?" kata Emma mencoba menjelaskan agar tak membuat Dareen salah paham.
Gadis itu menyunggingkan senyuman sembari menenggak air mineralnya. "Apakah aku harus benar-benar mencari seseorang yang seperti tipeku? Jika dia menyukaiku dan aku menyukainya, apakah aku harus memaksakan seseorang yang sesuai tipeku? Itu aneh~"
Emma hendak mengatakan sesuatu, namun logika Dareen memang masuk akal. Jika keduanya saling menyukai, mengapa harus memaksakan seseorang hanya berdasarkan tipe ideal? Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, memiliki tipe ideal tidak menjamin bahwa seseorang juga akan memiliki kekasih atau pasangan yang sempurna dengan tipe idealnya. Pada akhirnya, Emma bergumam, "Yah. Benar juga."
Dia memiringkan badannya. "Tapi berita tentang kalian berkencan adalah topik panas di sekolah, Reen. Tidak ada yang tidak membicarakan kalian berdua."
Dareen menyugar rambutnya kebelakang, menggigit sedotan dengan cara yang agresif, "Mereka bisa menantangku jika tidak terima."
Emma tertawa dan menangis. "Siapa yang berani menantang ketua eskul taekwondo sepertimu, Reen? Kupikir mendengar namamu saja, semua orang disekolah sudah tahu bahwa mereka harus menghindari mencari masalah denganmu. Aku yakin jika Mike sudah berguru kepada penghuni pohon tua dibelakang gedung gudang agar diberi keberanian mengungkapkan perasaannya padamu."
Dareen tertawa lepas. "Omong kosong apa yang kamu katakan!"
Dareen mengaduk makanan di piringnya dan tersenyum. "Aku menyukainya."
...***...
"Sudah dengar kabarnya?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir seseorang.
Yang lain segera menanggapi. "Ada apa?"
__ADS_1
"Pangeran sekolah dan Alexa putus." Dengan nada sok tahu, gadis berkuncir dua itu menyuarakan apa yang dia dengar dari orang lain pula. Yang lain hampir menampilkan ekspresi yang berbeda. Ada yang terkejut, ada yang senang, ada yang sedih, ada yang biasa saja.
"Yah, aku sudah menduganya. Mereka dari awal memang tidak cocok, bukan? Keduanya seakan dari dunia yang berbeda. Mike seperti malaikat dan Alexa seperti iblis. Bagaimana mereka bisa bersama?"
"Benar, wajar saja mereka putus."
"Memang kenapa mereka bisa putus?" Pertanyaan itu segera disusul jawaban. "Kudengar Alexa berselingkuh dengan Jeremy. Kalian tahu, kemarin, wajah Mike memiliki lebam dan nampak memiliki plester. Mungkin itu hasil dari pertarungannya dengan Jeremy."
"Wahh~ Sadis sekali. Pangeran sekolah bisa juga berkelahi."
"Eh, itu Alexa. Stt!"
Dareen melangkah dengan tenang di koridor sekolahnya yang sedang ramai membicarakannya beberapa waktu yang lalu sebelum kedatangannya. Kini mereka nampak diam-diam meliriknya, namun apa yang mereka bicarakan adalah hal-hal tak penting yang Dareen bahkan tak perlu repot untuk mendengarnya.
Dareen bergumam, "Aku hanya ingin melindunginya."
"Dengan memutuskannya? Ayolah Reen, kamu benar-benar kekanak-kanakan." Ucap Emma membuat Dareen menendang bagian belakangnya.
"Jangan mengolokku! Aku hanya tidak ingin dia mengalami kesulitan karena berpacaran denganku. Aku memikirkannya dan aku sadar bahwa aku terlalu impulsif menerimanya menjadi kekasihku. Mereka yang tidak menyukaiku memanfaatkannya dan menyerangnya. Aku tidak bisa melihatnya terluka karena diriku." Ucap Dareen pelan.
Emma menatap Dareen sebelum tersenyum. "Dareen kita sangat bijaksana~"
__ADS_1
"Apa yang kau maksud dengan kita. Cari anak sendiri sana!" Perkataan Dareen mengundang semburan tawa dari Emma, yang diikuti oleh Dareen. Dareen mengakhiri tawanya lebih awal dan berkata, "Tidak, Emma. Bantu aku, cari si br*ngsek yang berani memukuli Mike."
"Kau ingin membalas?"
Dareen menyeringai, "Kau tahu bagaimana aku."
...***...
"Jadi saat itu kau benar-benar berakhir dengan Mike?" Setelah Dareen selesai mengenang dan bercerita.
Dareen menganggukkan kepalanya. "Dia mengajakku berbicara empat mata, dan aku memintanya untuk mengakhiri perasaannya padaku. Setelah membalas dendam pada Dega, aku pindah dan sampai sekarang belum pernah bertemu dengannya lagi."
Chisa tertawa, "Kisah cinta monget yang berakhir menarik."
"Tentu saja cinta monyet. Aku bahkan hampir tidak ingat mengapa aku menyukainya." Gumam Dareen. Ia seakan mengingat sesuatu sebelum tersenyum dan bergumam, "Mungkin karena dia mirip dengan kakak."
"Seseorang yang seperti malaikat."
Chisa menatap Dareen. "Dia bukan malaikat, Reen. Jika dia malaikat, dia tak akan melakukan itu padamu."
"Membiarkan kamu, mengambil tanggungjawab yang harusnya dia lakukan."
__ADS_1