
Wajah Veronica memerah dengan malu. Ia menunjuk Dareen. "Kau! Jangan-jangan kau yang sengaja merusak komputerku! Komputerku rusak tepat hari dimana kau terlihat disini!"
"Lagipula siapa kau sembarangan masuk ke perusahaan ini? Dimana para security!" Veronica memandang sekelilingnya sebelum kembali memandang Dareen. "Aku akan menghubungi keamanan dan menyuruh mereka membawamu."
Dareen tidak banyak merespon. Hingga sebuah suara mengalihkan atensi semua orang. "Ada apa ini?"
Marvolo melangkah diikuti sang asisten dan beberapa pria yang kemudian memandang kerumunan itu dengan penasaran. Marvolo mengerutkan kening selama beberapa saat ketika melihat Dareen dan hendak memanggilnya ketika Veronica terlebih dahulu angkat bicara. "Pak CEO."
"Anak perempuan ini tiba-tiba menerobos masuk kedalam perusahaan. Saya baru saja akan memanggil keamanan."
Veronica mungkin melupakan apa yang baru saja terjadi karena dalam sekejab dia sudah menyunggingkan senyuman centil dan memandang Marvolo dengan tatapan penuh kekaguman. Tentu saja siapa yang tidak akan kagum dengan pesona Marvolo yang luar biasa menawan dan menarik?
Marvolo melirik Dareen yang melangkah mendekatinya. "Kamu membuat masalah?"
"Masalah apa?" Dareen menyeringai, "Ngomong-ngomong aku mau cola."
Marvolo mengkode Dareen untuk mengikutinya ketika dia berkata kepada yang lain. "Lanjutkan pekerjaan kalian lagi."
Setelahnya, dia berbalik dan melangkah bersama dengan sang asisten dan Dareen yang masih melangkah dengan kedua tangan didalam saku jeansnya. Dibawah tatapan semua orang, Dareen dan Marvolo masih mengobrol dengan suara yang masih cukup untuk beberapa orang yang dekat untuk mendengar. "Jangan lupa tambahkan beberapa strobery kedalamnya."
"Cola tidak baik."
"Lalu kau akan memberikan susu kepadaku? Kau bercanda, kan?"
"Susu coklat sebenarnya tidak terlalu buruk, lho. Lagipula terlalu banyak minum soda tidak bagus untuk tubuhmu."
Dareen melirik Marvolo. "Sekarang kamu semakin mirip dengan seorang ayah yang selalu mengomel tentang apa yang berkaitan dengan anaknya. Haruskah aku memanggilmu papa mulai sekarang, huh?"
Marvolo menatap Dareen dengan berkedip selama beberapa detik sebelum menyunggingkan senyuman dan menepuk bahu Dareen yang tidak lama kemudian ditepis. "Papa bangga padamu putriku."
"Ayo ke psikiater nanti. Dan pokoknya aku mau soda."
Dareen tetap kekeh dengan pendiriannya yang membuat Marvolo memutar otaknya untuk membiarkan Dareen minum minuman lain selain soda. "Bagaimana dengan jus buah? Apapun yang mau kamu minta kamu bisa mendapatkannya. Selain soda. Soda itu tidak bagus untuk tubuhmu."
Veronica dan beberapa karyawan lain dan melihat kedua orang itu dengan tatapan yang begitu penasaran. Sementara Veronica juga panik dan cemas karena baru mengetahui bahwa Dareen adalah kenalan dari pemilik tempat dia bekerja. Bagaimana jika Dareen mengadu macam-macam dan mengganggu pekerjaannya bahkan sampai dia dipecat?
Wajah Veronica memucat, sementara dua orang yang masih berdebat tentang minuman itu telah melewati pintu lain dan masuk kesebuah lorong yang nampak lebih pribadi setelah naik lift menuju lantai paling atas.
"Buah apa saja yang ada?"
"Apa saja ada."
Dareen nampak berpikir sebelum membuka suaranya. "Kalau begitu aku ingin jus alpukat dengan tambahan madu dan kacang almon diatasnya."
Marvolo menoleh kepada sang asisten. "Arsein, segera hubungi bagian dapur dan suruh mereka membuat segelas jus dengan tambahan madu dan kacang almon diatasnya. Minta untuk langsung dibawa keruangan dalam keadaan dingin."
__ADS_1
Arsein dengan tenang menganggukkan kepalanya dan mengirim pesan kepada seseorang untuk menyampaikan pesanan dari Dareen. Ketiganya kemudian beriringan melangkah menuju sebuah ruangan yang berada di ujung koridor. Dareen sesekali mengedarkan pandangannya, menatap foto dan lukisan yang tertempel didinding sebagai hiasan sebelum mengikuti Marvolo dan Arsein untuk masuk kedalam ruang kerja Marvolo.
Ruangan itu luas, dengan sofa nyaman dan meja kerja yang formal. Dareen segera mendudukkan dirinya disofa, memandang kesampingnya, dimana dia langsung bisa menghadap kepemandangan Belanda yang megah dan bersandar untuk mengambil beberapa foto dirinya karena bosan.
Arsein dan Marvolo membahas beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan membiarkan Dareen menunggu. Lima menit kemudian, minuman Dareen diantarkan dengan segera dan dia menunggu sembari menyesap jus alpukatnya menggunakan sedotan putih polos.
"Alexa."
Mendengar panggilan Marvolo membuat Dareen menoleh. "Apa?"
"Hanya ingin tahu apa yang terjadi setelah kita berpisah tadi. Sepertinya kamu melakukan hal yang menyenangkan."
Dareen menggigit sedotannya, menatap kembali keluar jendela dan berkata, "Aku tidak suka dengan karyawanmu tadi. Jika virusnya tidak dihentikan, mungkin semua komputer yang ada di ruangan tadi akan terganggu karena mereka satu saluran."
"Oh, jadi kamu bisa teknologi?" tanya Marvolo penasaran.
Dareen mengedikkan bahunya, tidak menjawab dan memilih memainkan ponselnya dan berkirim pesan dengan seseorang yang membuat senyuman Dareen tumbuh dan lebar. Marvolo yang sedang membalik halaman dokumen dimeja menatap Dareen dengan penasaran. Siapa yang dia kirimi pesan sampai dia sesenang itu sekiranya adalah pertanyaan yang terbesit dibenak Marvolo.
...***...
Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa. Dua manusia yang semula asing dengan cepat menjadi akrab dan dekat. Dareen dan Marvolo dengan cara mereka sendiri mulai menjadi akrab, saling bercerita dan banyak bercanda satu sama lain.
"Besok aku akan kembali. Sudah sebulan juga."
Dareen tengah membereskan barang-barang yang dia gunakan selama sebulan ini di kediaman Marvolo. Jujur saja Dareen cukup sedih akan meninggalkan rumah itu, karena mau tak mau Dareen harus mengakui bahwa dia nyaman dan merasa tenang tinggal dirumah Marvolo. Pria itu tidak pernah menanyakan apapun padanya dengan cara yang memaksa dan menganggapnya apa adanya dan tidak banyak berkomentar akan dirinya.
Marvolo bergaya dengan dramatis di ambang pintu, memegang dada kirinya dan bersandar dengan lemah di ambang pintu yang jelas saya mendapatkan tanggapan abai dari Dareen yang masih sibuk melipat baju.
"Lebay."
Marvolo tersenyum. "Jangan lupakan papa ya nak, saat kamu ada diluar sana. Ingat papa akan selalu menunggumu dirumah."
Dareen mendengus geli, namun senyumnya tidak bisa ia tahan. "Menggelikan dan membuatku jijik saja."
Beberapa jam kemudian, Marvolo memandang bangunan rumahnya yang kosong. Sama seperti sebelum kedatangan Dareen. Ia menghela napas dan sedikit tersenyum sedih. Bagaimanapun juga, sudah lama dia tidak merasakan perasaan kehadiran orang dirumah itu. Marvolo juga manusia biasa yang bisa merasakan perasaan sepi, jadi dia benar-benar merasa harinya cukup berwarna dengan kehadiran Dareen selama sebulan ini. Meski awalnya Dareen nampak seperti gadis yang acuh, sulit disentuh dan sulit dimengerti, setelah sebulan tinggal bersama, Marvolo mulai bisa menebak dan mengerti keadaan gadis itu, meski Dareen masih tidak mau bercerita apapun.
"Jadi sepi lagi."
Gumamnya sebelum menutup jendela.
...***...
Beberapa hari kemudian
Plak!
__ADS_1
Suara tamparan itu bergema diruangan dimana Dareen berdiri. Pria didepannya masih mengangkat tangannya dengan tatapan tajam, menggenggam selembar kertas ditangannya yang menampilkan coretan tinta merah bertuliskan angka sembilan puluh enam.
"Mengapa nilaimu turun?"
Suaranya meradang dan dia membentak dengan suara tajam. Didepannya, Dareen menutup pipinya yang memerah karena tamparan dengan tanpa perubahan ekspresi diwajahnya. Ia mendongak, menatap sang ayah yang masih menatapnya tajam, meremas kertas ulangan ditangannya dengan marah. "Bagaimana kau bisa dengan bangga menunjukkan senyumanmu hanya dengan nilai seperti ini? Setelah kau kalah dengan anak yang bahkan lebih muda darimu itu?"
Jason menunjuk dahi Dareen dan mendorongnya berulang dengan jarinya. "Gunakan otakmu. Bagaimana kau bisa kalah darinya yang selalu menjadi rangking dua? Apa kau tidak punya rasa malu, huh?"
"Bukan urusan papa."
Jason mendelik. "Apa?!"
"Aku yang menjalaninya, aku yang menjalani hidupku, mengapa papa yang begitu terobsesi untuk membuatku selalu mendpatkan nilai yang sempurna? Aku juga manusia pa! Aku bisa pusing, aku bisa lelah." Dareen menjawab dengan suara yang penuh dengan kekecewaan dan kemarahan yang selama ini dia pendam.
Manik Jason melebar dengan kemarahan dan ketidakpercayaan, sementara Roseana yang berdiri dibelakang Josua memandang Dareen dengan kerutan didahinya. Tidak tampak niatan baginya untuk menenangkan sang suami yang sebentar lagi akan meledak. Josua memang benar meledak didetik berikutnya.
"Berani menjawab?!"
Jason menarik lengan Dareen yang membuat Dareen meringis karena rasa sakit yang dialaminya. Dia dengan paksa diseret menuju sebuah ruangan dengan Roseana yang menghela napas dan membiarkan keduanya berlalu.
"Papa! Berhenti!" Dareen meronta, namun tenaganya sebagai seorang perempuan lebih lemah daripada sang ayah yang saat ini tengah berada diambang kemarahan yang luar biasa.
Jason membawa Dareen, mendorongnya masuk ke dalam ruangan kosong itu sebelum meraih sebuah tongkat rotan dari samping pintu yang ia tutup. Manik Dareen bergetar, dia menatap Jason dan melangkah mundur tanpa sadar. Tatapan ayahnya yang sudah memerah membuat jantung Dareen berdentum dengan sangat keras, terancam dan merasa tidak berdaya meski dia tahu bahwa dia bisa terluka dengan sangat parah.
"Kau harus dihukum agar tahu bagaimana bersikap sebagai seorang anak!"
Ketika tongkat rotan terangkat dan pintu terkunci, hanya mereka yang ada dirumah itu yang tahu apa yang dialami Dareen selama setengah jam itu. Ketika setengah jam berlalu, Jason melangkah keluar dari ruangan dimana Dareen berada, mengunci pintu dan melangkah menjauh untuk duduk disamping Roseana.
"Sayang, tidakkah kamu terlalu keras kepada Dareen?"
Jason menatap Roseana dengan tajam. "Anak-anakku harus sempurna. Bukankah kau juga menginginkan hal yang sama?"
Roseana menghela napas. "Benar juga. Anak itu terlalu membangkang. Apalagi setelah dia kembali dari luar negeri setelah disuruh oleh ibu, dia justru mengalami penurunan nilai."
Jason mendengus dengan dingin. "Jangan berikan makanan kepadanya sampai besok dan kurung dia dikamarnya selama seminggu penuh. Jangan berikan dia izin untuk memakai ponsel atau laptope-nya."
"Hah, baiklah."
Keduanya melanjutkan aktivitas mereka. Para pelayan berlalu lalang. Meski mereka mengetahui apa yang terjadi dirumah itu, mereka memilih diam untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari ancaman kehilangan pekerjaan. Meski mereka bersimpati atas kejadian yang menimpa Dareen, mereka hanya bisa tetap tutup mulut dan membantu Dareen hanya dengan bantuan kecil seperti menyelinapkan makanan ringan melalui celah pintu atau jendela dan kemudian berlaku seolah tidak melakukan apapun selain bekerja.
Dalam kegelapan ruangan, dengan hanya jendela sebesar telapak tangan yang berada disudut ruangan, Dareen berbaring miring dilantai dingin. Bercak darah tercetak dikemeja putih yang dikenakannya, lebam dan memar yang nampak mengerikan dengan jelas tercermin diwajahnya.
Sepasang manik zamrudnya memandang kearah cahaya kecil didepannya dan dia perlahan bangkit duduk dan bersandar di dinding dengan kepala menunduk.
Tubuhnya sakit semua.
__ADS_1