Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 33: He Is My Papa


__ADS_3

2 tahun kemudian


Gadis itu melangkah memasuki bangunan didepannya dengan langkah tegap dan seirama. Dentingan dari sepatu hak tingginya berbenturan dengan lantai yang berwarna lembut. Helaian surai pirang sepunggung itu melewati koridor setelah menaiki tangga dan membuka sebuah pintu.


"Kamu datang kan?"


Marvolo yang tengah membalik dokumen diruang kerjanya menoleh dengan cepat ketika pintu terbuka dan menyunggingkan senyuman sebelum meringis dengan rasa bersalah. "Maaf, Alexa. Ada pertemuan mendadak yang harus aku datangi minggu depan bersamaan dengan acara disekolahmu. Aku akan datang, namun aku akan terlambat. Acaranya dimulai jam delapan pagi, kan?"


"Aku akan kembali dari luar kota menggunakan pesawat pribadi secepatnya dan menemuimu."


Dareen menyilangkan tangannya dan menghela napasnya. "Jika kamu tidak bisa tidak usah memaksakan diri. Aku akan meminta ditemani Arsein seperti biasanya saja."


Marvolo menyunggingkan senyuman lembut. "Jangan marah, ya? Aku berjanji akan datang."


Dareen terdiam selama beberapa saat sebelum menganggukkan kepalanya. Ia meraih sesuatu dari mantelnya dan dengan tenang meletakkannya diatas meja Marvolo. Sebuah amplop dengan cap sekolah ternama, yakni sekolah menengah atas dimana Dareen bersekolah. Gadis berusia enambelas tahun dengan penampilan yang menawan dan semakin cantik itu melangkah menuju pintu.


"Jangan lupa bawa undangannya."


Setelah Dareen berkata demikian, ia segera menutup pintu dan melarikan diri dengan langkah cepat. Marvolo memandang kearah pintu dan mendengus geli dengan senyuman lembut diwajahnya. Sudah dua tahun berlalu semenjak dia membiarkan Dareen tinggal bersamanya setelah dia berusaha meyakinkan Emily dan Lucas untuk membiarkan Dareen tinggal bersamanya demi mengubah Dareen menjadi pribadi yang lebih baik. Dua tahun berlalu dengan cepat, dan dia berhasil membantu Dareen menjadi gadis yang lebih anggun dan menawan, seolah dia berubah menjadi pribadi yang berbeda dengan gadis yang pertama kali dia temui dua tahun yang lalu.


Selama dua tahun itu, Johan dan Roseana yang akhirnya Marvolo ketahui sebagai orangtua Dareen dan Careen beberapa kali mendatangi Dareen dan menanyakan keadaannya dan saling bertukar sapa.


Namun atas apa yang dia ketahui tentang Lucas dan Roseana. Marvolo cukup memperlakukan mereka seperti orang asing.


"Bagaimanapun, mereka sudah kehilangan kepercayaan Alexa. Dan bagaimanapun, yang bisa kulakukan hanya mendukungnya." Gumam Marvolo.


...***...


Satu minggu kemudian


Membuka matanya, Dareen sedikit menguap dan meregangkan tubuhnya. Cahaya matahari menembus tirainya yang sedikit terbuka, dan ia sedikit mengusap matanya sebelum bangkit berdiri dan mengikat rambutnya menggunakan ikat rambut kecil dan melangkah keluar setelah memakai sandal rumah. Dareen melangkah menuju ruang bawah dan menemukan sosok Arsein tengah menyiapkan sarapan. Gambaran apron berwarna biru yang melekat ditubuh Arsein yang pada saat itu mengenakan setelan jas membuat Dareen sedikit geli, namun fokusnya segera teralihkan.

__ADS_1


"Selamat pagi, Arsein. Marv dimana?"


Dareen bertanya karena pada biasanya, sebelum berangkat bekerja, Marvolo akan duduk disofa ruang utama sembari menikmati secangkir teh dan membaca dokumen ataupun majalah, bahkan koran. Namun tidak seperti biasanya, Marvolo tidak ada ditempatnya.


Arsein meletakkan hidangan terakhir diatas meja dan menjawab sembari melepas arpoannya. "Tuan muda sudah berangkat sejak pagi sekali, nona."


"Berangkat pagi sekali, ya? Apa dia sudah sempat sarapan?"


"Tuan muda hanya sempat meminum sedikit teh, nona." Mendengar jawaban Arsein membuat Dareen mengerutkan bibirnya menjadi garis lurus.


"Aku harus mengomelinya ketika dia pulang."


^^^***^^^


Leiden, Belanda


"Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan anda, sir Eugenne."


Melirik jam dipergelangan tangannya, Marvolo sedikit menahan napasnya dan kembali tersenyum profesional.


"Sekali lagi terimakasih, sir Eugenne. Saya dapat meyakinkan bahwa kerjasama kita ini akan sangat menjanjikan. Sekertaris saya akan menghubungi anda untuk mengirimkan kontraknya." Ia mengangkat jam tangannya dan berpura-pura meliriknya.


"Nampaknya saya harus undur diri terlebih dahulu karena masih ada yang perlu saya lakukan. Semoga hari anda menyenangkan, sir Eugenne."


Pria berambut pirang itu menganggukkan kepalanya. "Silakan, sir Reiver. Semoga hari anda menyenangkan juga."


Setelahnya, keduanya berpisah untuk melanjutkan urusan masing-masing. Marvolo bersama dengan sang sekertaris bergegas memasuki mobil. Ia berkali-kali melihat jam ditangannya. "Ke stasiun kereta api."


"Baik, pak." Sang supir dengan tenang menganggukkan kepalanya, dan menjalankan mobil menuju stasiun kereta yang terdekat. Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di stasiun kereta. Marvolo segera bergegas turun dan meninggalkan tasnya didalam mobil bersama dengan sang sekretaris.


"Bawa tas saya dan atur waktu saya sampai saya menghubungi."

__ADS_1


Sang sekretaris mengangguk dan membungkuk. "Baik, mohon berhati-hati dijalan, pak."


Marvolo segera melangkah dengan cepat memasuki stasiun dan mencari keretanya yang beberapa menit lagi akan berangkat. Berlari memasuki kereta, Marvolo menghela napas dengan lega ketika dimenit berikutnya pintu kereta tertutup dan kereta mulai berjalan perlahan setelah aba-aba dari sang penjaga. Marvolo mencari bangkunya dan mendudukkan dirinya dibangku.


Naik kereta lebih bisa menyingkat waktu perjalanan menuju Amsterdam. Marvolo tidak ingin lebih terlambat menuju sekolah Dareen jika terjebak macet, jadi dia memilih opsi naik kereta untuk mempersingkat waktu perjalanan dan tidak akan mengalami kemacetan. Marvolo mengecek ponselnya dan menemukan beberapa pesan dari Dareen.


[Alexa]


Acaranya sudah dimulai lho


|| 08.21


Marvolo membalas pesan Dareen dengan cepat yang mengatakan bahwa dia akan segera sampai dalam setengah jam. Tidak ada balasan dari Dareen dan Marvolo menduga bahwa Dareen marah atau acara sudah mengharuskan Dareen untuk fokus dengan apa yang terjadi.


Marvolo sebenarnya masih tidak tahu acara apa itu, namun Dareen mengatakan bahwa dia harus datang. Jadi, Marvolo sebisa mungkin berusaha untuk datang meskipun harus terlambat.


Empat puluh lima menit kemudian, Marvolo sudah berhenti didepan gerbang sekolah menengah Dareen setelah menaiki taksi dari stasiun. Suasana depan sekolah sudah sangat sepi, dan tidak ada tanda-tanda orang di bagian depan sekolah. Marvolo bergegas masuk dan mencari ruang kelas Dareen sebelum mengetuk pintu dan menggeser pintu ruang kelas Dareen.


Ia sedikit menghentikan langkahnya, memandang orang-orang yang berada didalam kelas Dareen dengan sedikit bingung.


Ada remaja-remaja seumuran Dareen, dengan sepasang orangtua yang duduk dikanan dan dikiri mereka. Ada yang nampak hanya bersama dengan sang ibu, sang ayah, nenek atau kakek. Dibelakang, Dareen yang duduk sendirian mengangkat kepalanya dan bersitatap dengan Marvolo yang tertegun ditempatnya berdiri.


"Anda orangtua murid juga?"


Seorang wanita yang merupakan wali kelas Dareen memandang kearah pintu, tersenyum ramah dan membuat Marvolo sedikit mengalihkan tatapannya. Maniknya melebar ketika Dareen mengangkat tangannya dan berkata kepada sang guru.


"Dia papa saya, miss."


Dareen menatap Marvolo dan tersenyum kecil. "Papa."


__ADS_1


__ADS_2