Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 9: Parents Call To School


__ADS_3

"Halo," suara Dareen yang lembut terdengar diruangan itu setelah sekian lama. Diseberang sana, ada suara datar bercampur setitik suara mekanis ponsel.


[Ada apa?]


"Apakah lusa kamu ada waktu?" tanya Dareen.


[Cukup sibuk, lusa aku harus mengantar Eri ke Paris.]


Mendengar itu, Dareen bergumam rendah tanda mengerti.


[Ada hal apa?]


Dareen menjawabnya tenang, "Nenekku berulangtahun dan kakak sepupuku memintamu datang. Tetapi, tidak apa jika tidak bisa."


Diseberang sana, Azraell jelas berpikir. Itu adalah acara dimana semua keluaga Dareen berkumpul. Jika dirinya tidak terlihat sama sekali, jelas bukan hal yang baik dipandang dalam sebuah hubungan pernikahan.


[Aku akan datang. Walaupun tidak bisa menginap, aku bisa untuk sekedar menyapa keluargamu.]


Jawaban Azraell membuat Dareen menghela napas lega dalam hati. Jika Azraell benar-benar tidak datang, entah alasan bagaimana yang akan digunakannya kepada kerabatnya. Urusan bisnis, apakah memang sesibuk itu hingga tak dapat menemani istrinya sebentar saja keulangtahun neneknya juga?


Dareen takut mereka akan curiga dan masalah pernikahan kontrak itu bisa menjadi masalah yang lebih besar.


"Baiklah kalau begitu." Ucapnya sembari mengakhiri panggilan teleponnya.


Tok .. Tok ..


Dareen menoleh dan melihat Anyelie melangkah mendekatinya setelah memberi tanda kedatangannya dengan mengetuk pintu. Wanita itu membawa berkas bermap merah ditangannya dan meletakkannya dengan asal diatas meja Dareen, diatas tumpukan berkas lain.


"Reen, ayo makan diluar~" ajaknya.


Dareen nampak menimang-nimang sebentar, sebelum tanpa kata diseret oleh sahabatnya itu keluar dari kantor.


"Sudah, banyak berpikir. Aku akan mentraktirmu kali ini, Reen." Kata Anyelie.


"Mn," gumam Dareen.


...***...


Mungkin karena merasa makanan disana enak dan suasananya nyaman, Anyelie sudah menetapkan bahwa Green Restourant adalah restourant makan favoritenya. Terlebih lagi, tempat makan itu dekat dengan Vita Corp. Dareen menghela napasnya ketika Anyelie memaksanya duduk disatu kursi dan dihadapkan pada menu makanan yang tercatat rapi dipapan menu.


"Saya pesan 1 Grilled Chiken, 1 Lasagna dan pie apel. Untuk minumannya, Lemon Ice. Kamu Reen?" tanya Anyelie pada Dareen selagi pelayan mencatat pesanan Anyelie.


Dareen menoleh pada pelayan dan mengucapkan pesanannya dengan suara tenang, "1 Lemon Herb Roasted Potatoes, 1 Makaroni Schotel dan satu set Jasmine Tea, terima kasih."


Selesai menulis pelayan itu berucap ramah, "Kami akan segera mengantar pesanan anda. Mohon tunggu sesaat."


Dan pergi kebelakang untuk segera melaporkan pesanan.

__ADS_1


"Reen, aku ingin bercerita~" kata Anyelie sembari menopang wajahnya dengan kedua tangannya.


Dareen bertanya dengan peduli, "Ada apa?"


"Rean, aku merasa dia selingkuh dariku!" katanya sedih.


Dareen sedikit terkejut. "Rean? Bagaimana mungkin?"


Jelas Dareen mempertanyakannya. Sejak dulu, Rean sudah menyukai Anyelie. Bahkan sejak bangku sekolah menengah pertama, Rean sudah sering memberikan surat cinta pada Anyelie. Bahkan bisa dibilang, kalau Rean itu sudah cinta mati pada Anyelie. Bagaimana sekarang Rean bisa berselingkuh?


"Aku hanya merasa dia berubah akhir-akhir ini. Sering diam-diam mengintip ponselnya saat bersamaku, dan bahkan sering hilang fokus saat aku mengajaknya bicara. Aku merasa dia sudah tidak seperhatian dulu!" keluh Anyelie.


"Karena itu terus berulang, aku menegurnya. Namun dia tidak menjawab apapun dan terus diam. Karena aku kesal, maka aku tidak menghubunginya selama beberapa hari, dan dia bahkan tidak berniat menanyakan kabarku atau menelponku!" kesal Anyelie.


Mendengarkan curhatan sahabatnya itu, Dareen tak dapat memikirkan kemungkinan apapun. Mengulas senyuman dan berkata dengan bijaksana.


"Sebuah hubungan, perlu adanya komunikasi. Saat kamu dan Rean sama-sama diam seperti ini, akan sulit untuk tahu apa masalah yang kalian sebenarnya hadapi. Kamu, sebagai kekasihnya, yang sudah mengenal Rean selama 11 tahun, harusnya tahu bagaimana kepribadiannya. Coba kamu secara perlahan bertanya kepadanya, apakah dia memiliki masalah dengan pekerjaannya, ataukah dia memiliki masalah lain agar kalian bisa sama-sama mendapatkan jalan keluar." Jelas Dareen panjang.


Dareen menambahkan, "Jangan hanya karena sebuah masalah kecil yang mungkin saja bisa merupakan kesalahpahaman, hubungan kalian selama 9 tahun ini berakhir begitu saja. Kamu dan Rean sama-sama temanku, Nye. Mengalah, dengarkan dan pikirkan. Jangan sampai kamu dikendalikan oleh amarah dan prasangkamu, ya?"


Mendengar kata-kata Dareen yang memang benar adanya, Anyelie menelan semua kata-katanya. Sedikit menundukkan kepalanya, Anyelie menganggukkan kepalanya dengan manik berkaca-kaca.


Setelah beberapa waktu menemukan keheningan, Anyelie mengangkat wajahnya yang dipenuhi senyuman. "Terima kasih sudah mengingatkanku, Reen. Aku hanya, hanya khawatir jika dia bosan padaku yang cerewet. Aku, juga mencintainya Reen."


Dareen mengangguk, "Aku tahu kamu mencintainya. Jika tidak, kau tidak akan begadang beberapa malam hanya untuk menjahit syal yang pada akhirnya kamu katakan membelinya dari temanmu. Kamu itu tsundere."


Dareen sedikit tertawa, "Aku tahu."


Drt .. Drt ..


Merasakan getar ponselnya, Dareen melihat ponselnya dan sedikit mengangkat alisnya ketika melihat nama guru wali kelas Aileen terpampang dilayarnya.


"Halo," ucapnya segera setelah menerima panggilan telepon itu.


[Halo, Ibu Dareen.]


Dareen kembali berkata, "Miss Arina? Apakah ada sesuatu?"


[Sebenarnya saya menelpone saat ini karena ingin mengabarkan bahwa Aileen berkelahi dengan temannya. Dan sekarang temannya mengalami luka yang cukup serius dan orangtua dari siswa tersebut telah ada disekolah.]


Mendengar informasi itu, Dareen setengah tak percaya dan setengah terkejut. Putranya, Aileen berkelahi?!


Menenangkan dirinya, Dareen membalas tenang. "Kalau begitu mohon bantuannya untuk beberapa waktu kedepan, miss. Saya akan segera kesana dan mencoba meluruskan masalah ini."


[Baiklah kalau begitu, bu Dareen. Aileen sendiri hanya mengalami luka ringan dan sudah diobati di UKS]


Dareen tidak mengatakan apapun, bergumam mengerti. Mengakhiri panggilan telepone-nya, Dareen bangkit berdiri.

__ADS_1


"Loh? Mau kemana Reen? Makanannya belum datang." Tanya Anyelie bingung.


Dareen menghela napasnya, "Guru Aileen menelpon dan berkata bahwa Aileen berkelahi. Aku harus kesana."


Anyelie terkejut dan sontak berdiri, "Berkelahi? Baby Aileen berkelahi? Bagaimana itu mungkin?"


Dareen menggelengkan kepalanya. "Aku harus segera pergi."


"Baiklah, pastikan buat menyesal orang yang mengganggu baby Aileen ya, Reen." Peringat Anyelie membuat Dareen sedikit tersenyum.


"Baiklah, baiklah."


...***...


"Jawab kenapa kau melukai anakku? Jangan hanya diam saja!" Seorang wanita membentak Aileen yang terduduk dan tertunduk disofa sembar memegangi lengannya yang dibalut plester.


Aileen tak menjawab, menunduk menyembunyikan wajahnya tanpa ada niatan untuk mendongak. Arina berdiri disamping Aileen, mencoba menenangkan wanita gemuk didepannya itu agar tidak mengamuk.


"Tolong tenang bu, kami sudah memanggil orangtua dari Aileen. Mari kita selesaikan ini secara baik-baik. Sangat tidak baik untuk berbuat kasar didepan anak-anak." Kata Arina.


"Apa kau mengenalku? Aku adalah nyonya keluarga Armendes! Nyonya Sully Armendes, dan suamiku adalah Richard Armendes. Kau pikir siapa kau berani memerintahku?!" bentak wanita itu.


Sully mendorong Arina kesamping agar dapat meraih Aileen. "Kau, perusuh kecil beraninya mengganggu anakku! Kau pikir seluruh tubuhmu bahkan dapat menggantikan sehelai rambut putraku?!"


"Mengacalah, dasar anak haram yang tidak tahu diri! Mengganggu anakku berarti kau benar-benar mencari masalah dengan keluarga Armendes!" maki Sully dengan keras


Ia masih tak berhenti, "Kau! Apakah ibumu tak pernah mengajarimu sopan santun? Ah, aku lupa. Ibumu seharusnya juga bukan wanita baik-baik karena memiliki anak sebesar dirimu diusianya yang masih muda."


Aileen yang sejak tadi diam mengeratkan giginya dan berteriak, "Jangan menghina mamaku! Dasar babi gendut!!"


"Apa?! Kau sebut aku apa?!" Bentaknya dengan mata melotot. Sully mengangkat tangannya hendak menampar Aileen, namun sebuah suara menghentikan gerakannya.


"Nyonya Sully?"


Ketika Sully menoleh, dia menapati sosok Lyonne berdiri diambang pintu dengan wajah tenangnya. Tak ada riak emosi dipahatan rupawan itu, dan untuk sesaat, bahkan Arina sedikit kagum karena kharisma yang dikeluarkan Lyonne. Tersadar dari lamunannya, baru saja ingin mengatakan sesuatu, Aileen yang masih dicengkram Sully dilengannya meronta dan berlari menuju Lyonne.


"Papa Lyon!!" pekiknya sembar menghambur dipelukan Lyonne yang berjongkok.


"Aileen? Aileen tidak apa?" tanya Lyonne dengan lembut.


Aileen mempererat pelukannya dan tidak merespon. Memperhatikan interaksi itu sejenak, Sully tak bisa menahan rasa terkejut. Wajahnya sedikit memucat dan tubuhnya berkeringat tanpa bisa ditahan.


"Sungguh luar biasa. Jadi, seperti inikah kelakuan istri dari tuan Armendes?"


Mendengar itu dari Lyonne, Sully sudah tahu bahwa dirinya, tidak akan berada dalam situasi yang menguntungkan.


__ADS_1


__ADS_2