
"Kami akan merindukan Aileen!"
Axon dan Axia memeluk Aileen bersamaan, dan bahkan menyerukan empat kata itu dengan nada yang bertepatan. Dua anak berusia sebelas tahun itu benar-benar mengapit Aileen hingga ia hampir tak bisa bergerak. Tetapi bukan hanya tidak kesal atau tidak nyaman, Aileen justru senang. Tetapi dia merasa sedih harus berpisah lagi dengan kerabatnya.
"Aileen juga akan merindukan paman dan bibi kecil. Isya, dan semuanya." Ucapnya dengan hidung yang sedikit masam.
Aileen sudah mengambil cuti disekolahnya selama beberapa hari. Tidak mungkin dia bisa tidak masuk lagi. Selain dia bisa tertinggal banyak pelajaran, itu bisa menjadi masalah jika cutinya benar-benar bukan sesuatu yang mendesak. Ulang tahun Emily memang sangat penting, tetapi setidaknya itu bisa.dirayakan selama dua hari dan setelahnya tidak lagi begitu meriah. Dareen pun sudah lama menumpuk pekerjaannya dimeja ruangannya. Dareen diam-diam menangis didalam hati, membayangkan seberapa banyak tumpukan dokumen dan file yang perlu ditandatangani dan disetujuinya.
"Azra, tolong berhati-hati diperjalanan ya. Walaupun memang tidak lama, tetapi tetap harus berhati-hati dijalan." Nasihat Emily.
Azraell memang sudah mengatakan akan menjemput Dareen dan Aileen saat mereka pulang. Dan beruntungnya hari ini kekasihnya, Eri, sedang melakukan pemotretan dan memang tidak perlu dirinya untuk menemani atau mengantar. Jadi, pagi-pagi Azraell telah sampai di Queens.
Pria tampan itu menganggukkan kepalanya dan berkata dengan nada datar andalannya. Tetapi memiliki nada sopan. "Baik nek. Saya akan berhati-hati dan memastikan Dareen dan Aileen aman sampai ke Manhattan."
Selepas saling berpelukan dan berpamitan dengan kerabat-kerabatnya, Dareen dan Aileen mengikuti Azraell memasuki mobil dan pergi meninggalkan rumah yang nyaman itu. Diperjalanan, Aileen tak henti-hentinya bercerita tentang hal menyenangkan yang dialaminya selama beberapa hari ini kepada Azraell. Dan Azraell pun mendengarkannya dengan perhatian. Hampir setengah perjalanan, Aileen tiba-tiba menguap dan menjatuhkan kepalanya dipaha Dareen untuk dalam sekejab langsung tertidur.
"Oh, apakah dia sudah tidur?" tanya Azraell ketika tak lagi mendengar celotehan Aileen.
Dareen bergumam mengiyakan sembari mengusap surai Aileen penuh kasih sayang. Dari kaca mobil, Azraell dapat melihat bagaimana Dareen begitu hati-hati dan lembut membelai surai legam Aileen. Itu benar-benar tulus. Sesuatu dengan cepat terlintas dikepalanya, dan itu membuatnya tanpa sadar bertanya.
"Aku baru kali pertama ini bertemu kedua orangtuamu. Mengapa mereka tidak hadir diacara pernikahan?" tanya Azraell.
Gerakan tangan Dareen berhenti selama dua detik, sebelum dia kembali menggerakkan tangannya dengan gerakan yang nampak lebih lamban. "Mereka sibuk."
Azraell mengerutkan keningnya. Merasa jawaban Dareen sedikit tidak masuk akal dan sedikit aneh. Jika mereka benar sesibuk itu, apakah mereka bahkan tidak bisa mendampingi putri mereka sendiri dipernikahan yang dimata orang lain sungguhan itu? Secara logika, hal itu terasa begitu aneh. Bukan hanya karena menentang pemikiran semua orangtua yang ingin memandang putri mereka yang tampak seperti malaikat dengan balutan gaun pengantin, tetapi bahkan aneh saat Dareen muncul didampingi oleh orang lain, disaat ayahnya masih hidup.
"Sesibuk itu? Setidaknya, ini pernikahanmu." Tanya Azraelle.
Ia melirik Dareen dari kaca spion didalam mobil dan hanya mendengar wanita cantik itu bergumam. "Mn."
Azraell tidak terlalu yakin, tetapi dia merasa gumaman Dareen penuh dengan keterasingan dan ketidakinginan untuk menjawab. Yah, Dareen memang sangat misterius dimatanya. Dulu sewaktu pertama kali bertemu dengannya, dia pikir wanita didepannya saat itu adalah keluarga kerajaan karena sikapnya yang begitu tenang dan anggun. Bahkan kata-kata yang diucapkannya pada awal pertemuan mereka hampir tidak bisa membuatnya memahami siapa Dareen itu sebenarnya.
Dia seperti menutup dirinya sendiri.
Dalam sisa perjalanan itu, hanya ada keheningan yang menyelimuti sedan merah itu. Dareen dengan nostalgianya, dan Azraell dengan rasa penasarannya.
Dia sendiri bingung. Dia, tak pernah merasa sepenasaran ini.
__ADS_1
...***...
"Pagi mama! Papa Azra!" sapa Aileen saat dirinya memasuki ruang makan dan duduk diseberang Azraell yang tengah sibuk menggulir layar macbook-nya.
Meskipun begitu, Azraell mengalihkan tatapannya ke Aileen dan menjawab. "Pagi. Bagaimana tidur Aileen?"
Aileen tersenyum lebar, "Aileen bermimpi indah papa Azra! Aileen bermimpi Aileen bertemu dengan peri cantik yang membawa Aileen bermain dipadang bunga!"
"Oh ya? Apa Aileen mengenalnya?" tanya Azraell lagi.
Aileen menggelengkan kepalanya. "Aileen tidak melihat wajahnya."
Dareen terkekeh dibelakangnya. "Kalau kamu tidak melihat wajahnya, bagaimana Aileen bisa mengatakan kalau peri itu cantik?"
"Tidak tahu! Tapi, kakak peri itu pasti cantik! Sama seperti peri-peri lainnya." Kata Aileen.
Azraell menyesap kopinya dan menggelengkan kepala geli. "Anak usia berapa yang masih percaya dengan peri. Papa pikir itu pasti anak yang sangat manis dan imut."
Aileen mengerutkan bibirnya cemberut dan mendengus sebal. "Aileen tidak imut papa Azra. Aileen itu tampan, humph!"
Aileen makin menggerucutkan bibirnya dan memandang kearah Dareen dengan sepasang manik berkaca-kaca. Dareen sendiri menatapnya sesaat sembari melangkah menuju meja makan dengan semangkuk sup ditangannya.
"Iyaa, anak mama sangat tampan! Ayo makan sarapanmu dan mama akan mengantar Aileen ke sekolah."
Dareen berbicara lembut sembari mengambilkan makanan kepiring Azraell dan Aileen. Tak luput ke piringnya sendiri. Walaupun ini memang bukan pernikahan sesungguhnya, tetapi Dareen dan Azraell tak melupakan kewajiban mereka masing-masing. Walaupun Dareen bekerja sendiri dan menghasilkan uang juga, Azraell memenuhi kewajibannya sebagai kepala rumah tangga dengan memberikan uang bulanan kepada Dareen. Sementara Dareen, memenuhi kewajibannya untuk mengurus keluarga itu. Termasuk dalam hal kecil seperti menyiapkan air panas atau pakaian ganti Azraell.
Yah, semuanya berjalan secara alami dan tak ada kecanggungan.
"Papa, papa ingat besok hari apa?" tanya Aileen kembali.
Azraell sebenarnya sadar makna dari pertanyaan Aileen. Besok adalah akhir pekan, dan sesuai dengan janji yang telah dibuatnya, dia telah mengosongkan jadwalnya selama setengah hari untuk mengajak Aileen kekebun binatang. Tapi dia nampak tenang dan menjawab.
"Mn, apakah Aileen sudah menderita demensia dini sampai lupa bahwa besok adalah hari Minggu? Aduh, bagaimana ini?" kata Azraell.
Aileen mengerutkan keningnya sebal sesaat sebelum memandang Azraell dan berkata dengan tidak sabar. "Aileen tahu besok hari Minggu, papa. Tapi yang Aileen maksud itu apa papa ingat apa yang papa akan lakukan besok?"
Azraell nampak berpikir ditengah desakan Aileen. "Ayo papa Azra. Tidak mungkin papa lupa, kan? Itu loh~"
__ADS_1
Azraell tak berniat berhenti menjahili Aileen lebih awal dan bertanya, "Coba beri papa petunjuk."
"Uhh~ Itu loh, janji papa~" kata Aileen.
"Janji?" beo Azraell.
Aileen mengangguk. "Iya! Ada leher panjang! Yang suka diair juga ada!"
"Oh?"
Aileen mengerut melihat wajah bingung Azraell yang nyatanya dibuat-buat itu. Melihat jam diatas meja, Dareen yang sedang menyaksikan candaan itu terpaksa harus menghentikannya. Oh, atau mereka bisa terlambat bersamaan.
"Sudah, sudah. Aileen, papa Azra tidak lupa kok dengan janjinya mengajak Aileen kekebun binatang. Dan Azra, jangan menggoda Aileen terus." Kata Dareen menginterupsi.
Ia membantu Aileen menggendong tasnya, "Ayo berangkat."
"Baik ma~" Ujar Aileen dalam mode senangnya kala mengetahui bahwa besok dia akan pergi menikmati akhir pekan ke kebun binatang.
Setelah benar-benar selesai dengan sarapan dan candaan singkat mereka, ketiganya sama-sama keluar dari gedung apartemen itu untuk menuju kebasement. Ada beberapa tetangga yang sama-sama merupakan pasangan dan dikarunia putra dan putri yang hampir sama seusia Aileen. Tapi ada juga beberapa pasangan yang belum dikaruniai momongan.
"Nah, Ara. Papi berangkat dulu ya?"
"Sayang, aku berangkat ya." Aileen melihat seorang laki-laki mengecup pipi putrinya yang berada digendongan istrinya, sebelum beralih mengecup kening istrinya.
"Aku akan mengantarkan makan siangmu ke kantor nanti." Ucap sang istri.
Pria itu tersenyum dan mengangguk sebelum memasuki mobilnya. Melambai pada putri kecilnya yang melambai riang.
"Hati-hati dijalan papi!"
Aileen melihat mereka selama dua detik lagi, sebelum menarik tatapannya dan beralih memandang Azraell dan Dareen. Keduanya nampak mengobrol sesaat sebelum berpisah menuju mobil masing-masing.
"Aileen, ayo sayang." Ujar Dareen membuat Aileen mendongak.
Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, ma!"
__ADS_1