
"Hah! Hah .. haah!"
Napas Dareen hampir tak beraturan. Ia berusaha menarik napas sedalam-dalamnya untuk menenangkan keterkejutannya. Apa yang ada didepan matanya adalah bagian depan mobilnya yang menabrak pohon. Bagian depan mobilnya memiliki penyokan besar, akibat benturan keras yang terjadi. Beberapa pengguna jalan nampak berhenti dan mendekati mobil Dareen.
Tok! Tok! Tok!
"Nona! Apakah anda baik-baik saja?" Suara itu membuat Dareen tertarik kekesadarannya sepenuhnya.
Tangannya meraih pintu mobil dan membukanya dengan sedikit gemetar yang terlihat ditangannya, setelah ia melepas seatbelt yang dikenakannya. Wajahnya sedikit pucat, namun Dareen segera menatap sekelilingnya guna mencari kendaraan yang dapat mengantarnya ke kebun binatang.
"Nona? Apakah anda baik-baik saja?!" Seseorang yang mengetuk pintu mobil kembali bertanya, memastikan keadaan Dareen.
Wanita muda itu menoleh dan menganggukkan kepalanya sebelum berterima kasih dan meminta maaf dengan tulus. "Saya baik-baik saja. Maaf atas kekacauan yang terjadi."
"Reen?!"
Menoleh dengan cepat, Dareen melihat Lyonne mendekatinya dengan wajah khawatir. "Apa yang terjadi, Reen?! Astaga, mobilmu! Apakah kamu baik-baik saja?!"
Dareen menatap Lyonne seakan pria itu adalah penyelamatnya. Dareen menjawab Lyonne, dan segera berkata kepada Lyonne. "Aku baik-baik saja. Tolong, tolong bawa aku ke Four Zoo sekarang juga, Lyonne."
"Jullian memberitahuku bahwa Aileen menghilang. Aku harus segera kesana!" ungkap Dareen.
Lyonne menatap Dareen dalam diam selama beberapa waktu sebelum dengan tegas menyentak tangan Dareen dan mencengkram pundaknya ditengah kerumunan yang perlahan-lahan membubarkan diri. Hingga menyisakan keduanya disana. Dareen hendak mengatakan sesuatu sebelum tertegun melihat tatapan Lyonne.
"Reen, dengarkan aku. Lihat apa yang baru saja terjadi." Lyonne menunjuk mobil Dareen yang tak tergerak sedikitpun dari pohon yang ditabraknya. "Tenanglah dan atur pikiranmu agar lebih baik! Aku yakin Aileen akan baik-baik saja. Dengan keadaanmu yang dilanda kepanikan seperti ini, tidakkah kamu berpikir kamu bisa membahayakan dirimu sendiri? Bagaimana nasib Aileen jika kamu sampai terluka?!"
Bagaimana Lyonne tak lepas kendali?
Dia yang sedang dalam perjalanan menuju kebun binatang Manhattan, tak sengaja melihat Dareen keluar dari mobil yang menabrak pohon dipinggir jalan. Melihat bagaimana wajah pucat Dareen yang mungkin tercipta karena keterkejutan sehabis menabrak pohon, namun wanita itu nampak tak peduli dengan keselamatannya sendiri membuat Lyonne kesal.
Aileen memang penting. Tetapi bukan berarti Dareen bisa tidak mempedulikan keselamatannya sendiri dengan berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata dijalanan yang lenggang.
__ADS_1
"Dengar, Reen. Aku tahu kamu cemas, aku tahu kamu panik. Tetapi percayalah jika pihak kebun binatang juga sedang mengupayakan yang terbaik untuk mencari Aileen. Mereka pasti tidak akan tinggal diam melihat ada anak yang menghilang dikebun binatang mereka." Lyonne berusaha menenangkan Dareen. "Jadi sekarang, masuklah kemobilku dan aku akan mengantarmu ke Four Zoo. Urusan mobilmu, biar bawahanku yang mengurusnya nanti."
Dareen menarik napas dalam, sebelum mengangguk. Lyonne benar, dia seharusnya bisa lebih tenang dan berhati-hati. "Kamu benar. Aku sedikit impulsif saat ini."
Melihat bahwa Dareen sudah terlihat lebih tenang, Lyonne berkata, "Benar. Kemudian ikut aku. Mari mencari Aileen bersama."
"Ya."
...***...
"Bagaimana pak? Apa ada yang melapor menemukan anak saya?" Azraell bertanya kepada staff kebun binatang dengan wajah datarnya.
Meski wajahnya senantiasa datar, namun dari sorot matanya terlihat bahwa sebenarnya Azraell sangat mencemaskan Aileen. Bagaimana tidak? Anak sekecil itu menghilang dikebun binatang dibawah pengawasannya.
Azraell bahkan tak bisa membayangkan bagaimana respon Dareen jika tahu putranya menghilang.
"Maaf, Pak! Kami sudah mengumumkannya hingga tiga kali. Namun belum ada jawaban. Sekarang staf kami sedang memeriksa rekaman CCTV." Jawaban petugas itu membuat Azraell kurang puas, namun setidaknya mungkin keberadaan Aileen akan terlacak dari CCTV.
"Baik pak!" final petugas kebun binatang itu sebelum berbalik pergi.
Eri mendekati Azraell. Masih dengan masker dan kacamata hitam yang bertengger menutupi sepasang maniknya, Eri menyilangkan tangannya dan menatap Azraell. "Anak kecil memang sungguh merepotkan. Itulah sebabnya aku tidak menyukai anak kecil."
"Siapa yang tahu jika dia tidak dimakan harimau atau dicakar beruang disini?" Ceplosnya membuat Azraell menegurnya. "Eri!"
"Huh?!" Ia mendengus dan membuang muka. "Memangnya aku salah?"
Inilah hal yang membuat orangtuanya tidak setuju atas jalinan kasih diantara keduanya. Satu tahun yang lalu, lama sebelum Azraell menikahi Dareen, Azraell sudah membawa Eri kehadapan orangtuanya. Pada awalnya kedua orangtuanya masih menyambut Eri dengan ramah. Tetapi setelah berbincang cukup lama, kedua orangtuanya langsung menyuruhnya untuk memutuskan Eri.
"Putuskan kekasihmu, Zra." Titah sang ayah membuat Azraell yang baru saja kembali setelah mengantar Eri terkejut.
"Kenapa pa? Apa yang salah dengannya?"
__ADS_1
Lasniel menggeleng. "Dia tidak baik untukmu, Zra."
Azraell menggeleng, "Aku mencintainya pa. Aku tidak akan memutuskannya."
"Apa kamu tidak mengerti? Pekerjaannya adalah model! Dia dituntut untuk selalu siap kapanpun dia dipanggil. Apakah kamu pikir dia bisa melahirkan keturunanmu? Memberikan papa dan mama keturunan?" Hardik Lasniel.
"Kami bisa membicarakannya pa. Kami masih muda. Masalah keturunan bisa kami pikirkan dimasa depan." Ujar Azraell berargumen.
Lasniel menatap Azraell. "Bibimu adalah mantan model Zra. Tidakkah kamu pernah mendengar cerita kelamnya? Ataukah kamu menutup mata dan telingamu?!"
"Aku mempercayainya, pa! Tidak semua model seperti itu!" tegas Azraell membela. Ia yakin bahwa kekasihnya Eri, tidak akan pernah melakukan hal buruk seperti itu dibelakangnya.
Papanya hanya telah memiliki pikiran buruk dikepalanya tentang model. "Memang tidak semua model berbuat demikian Zra. Tapi, apakah kamu yakin jika wanita itu tidak?"
Ditengah ketegangan, Veryana berujar dengan lembut. Tetapi buah perkataannya tidak mempereda ketegangan, namun justru membuat Azraell tersudutkan. "Ma!"
"Kami hanya memintamu memilih, Zra. Kami, keluargamu. Atau dia, kekasihmu." Setelah mengatakan hal demikian dengan tatapan dalam, Veryana berbalik disusul Lasniel.
Mengabaikan panggilan frustasi Azraell. "Mama! Papa!"
"Jangan begini, ma!"
Azraell tidak memiliki pilihan lain. Dia terpaksa berbohong kepada orangtuanya bahwa dia telah memutuskan Eri setelah membicarakan semuanya kepada kekasihnya. Akhirnya setelah beberapa minggu berlalu, orangtuanya memperkenalkannya kepada Dareen.
Saat itu ia mengenakan kemeja biru muda dengan celana panjang berwarna putih. Rambut panjang pirangnya dibiarkan tergerai dengan ikatan kecil berhiaskan bunga putih dibelakang kepalanya. Dengan riasan tipis yang hampir tak terlihat, dia berbanding terbalik dengan penampilan Eri. Meski sama-sama terlihat dewasa, suasana diantara keduanya amat berbeda.
"Halo, senang bertemu denganmu," ia menjeda ucapan yang ia lontarkan dari bibirnya. Dan melanjutkannya sembari menatap tepat kesepasang iris Azraell. "Azraell."
Itu juga, menjadi hari dimana keduanya saling membuat kontrak pernikahan, yang hanya akan bertahan selama dua tahun saja.
__ADS_1