
Luxury Caffe, Jalan Pertama
Jalanan masih sama, selalu dipadati pengendara kendaraan beroda dua, empat dan lebih. Orang-orang menikmati sore hari yang dingin, mengenakan mantel dan masing-masing menyusuri trotoar untuk tujuan mereka masing-masing.
"Um, mama~ Aileen ingin es krim. Boleh ya?"
Suara Aileen membuat Dareen yang tengah menyesap secangkir minuman hangat menoleh dan mendapati sepasang manik puppy eyes milik bocah berusia 6 tahun itu. Mencoba memasang sikap tegas, Dareen menggeleng.
"Kamu sudah makan es krim kemarin. Tidak boleh terlalu sering makan es krim." Tolaknya.
Aileen memelas, "Mama. Hanya satu mangkuk kecil, tidak lebih~ Ayolah ma, mama kan baik hati dan cantik."
"Mama memang cantik dan baik. Tapi tidak ada gunanya merayu mama dengan kata-kata manismu. Tidak ada es krim untukmu hari ini," Dareen masih tetap menggoda Aileen dengan penolakannya.
Merasa bahwa sang mama tidak memihaknya, Aileen berpindah segera tempat duduk menjadi disamping Lyonne dan memeluk tangannya. "Papa Lyon, belikan Aileen es krim ya?"
"Mama sangat pelit~ Tidak mau membelikan Aileen es krim~ Papa Lyon kan baik, belikan ya?? Hanya satu mangkuk kecil~" mohon Aileen.
Lyonne melirik Dareen yang juga meliriknya dengan senyuman dan tatapan jahil. Melihat itu, Lyonne ikut tersenyum, dan bergabung bersama dengan Dareen untuk menggoda Aileen yang benar-benar ingin dan suka es krim itu.
Lyonne menyunggingkan senyuman sedih, "Bagaimana ini Aileen. Papa Lyon sedang miskin. Papa tidak sengaja meninggalkan dompet papa Lyon dirumah, dan papa Lyon bergantung kepada mama Reen untuk membayar apa yang papa Lyon makan hari ini, huh~"
"Hah? Kenapa papa Lyon bisa sampai lupa bawa uangnya?" kaget Aileen.
Aileen mengerucutkan bibirnya sembari memandang Dareen. "Mama, mama belikan Aileen satu mangkuk saja ya? Aileen kan lelah sehabis bernyanyi untuk mama. Mama kan cantik paling sayang Aileen.."
Melihat raut wajah Aileen yang frustasi, Dareen tak kuasa menahan sedikit tawanya. Bibirnya melengkung dengan manik menyipit seperti bulan sabit. Dibawah guyuran sinar mentari yang menembus jendela kaca caffe, sosok Dareen dimata Lyonne nampak seperti malaikat yang mendapatkan berkah berteman dengan mentari. Sangat cantik, sangat indah dan sangat mempesona.
Tentu saja, itu sama seperti dulu. Seperti pertama kali bagaimana dia jatuh hati pada Dareen, yang menggandengnya berlari disekitar danau, memegang setangkai bunga ester, menyunggingkan senyuman dengan manik menyipit dan berlatar belakangkan cahaya mentari dan kelip cerminan danau yang luas.
Kenangan itu berputar dengan cepat dibenaknya, sebelum kembali tersadar ketika pekikan girang Aileen terdengar.
"Aileen sayang mama!" Senang Aileen ketika seorang pelayan mengantarkan semangkuk sedang es krim vanilla dan strobery diatas mangkuk.
Dareen memandang Aileen yang mengucapkan terima kasih pada pahlawan, dan mulai memakan es krimnya dengan senyuman lembut. Mengapa putranya begitu menggemaskan?
"Reen, kamu tersenyum sama seperti waktu itu." Perkataan Lyonne yang tiba-tiba membuat Dareen menghentikan gerakan tangannya ketika hendak mengangkat cangkir minuman hangatnya.
Bulu matanya sedikit bergetar samar dan berkedip lembut, "Bagaimana kamu masih bisa mengingatnya Lyon? Itu sudah sangat lama, bukan?"
__ADS_1
Lyonne menyelanya, "Namun kamu juga masih mengingatnya."
Dareen tersenyum, "Jelas aku mengingatnya. Kita adalah sahabat, Lyon."
Mendengarkan pernyataan Dareen, jelas ada perasaan sakit didadanya. Jelas bahwa dia mencintai wanita didepannya itu, namun dia menganggapnya sebagai sahabat. Tapi Lyonne tidak masalah dengan itu, selama Dareen bahagia dan dapat tersenyum, bahkan sebagai sahabatpun, dia turut bahagia.
Tapi, jika dia bisa, bolehkan Lyonne sedikit berharap bahwa Dareen, sedikit saja. Sedikit saja memiliki rasa untuknya melebihi sahabat?
...***...
Memasuki gedung megah Leviano Corp, Azraell memasang wajah dingin andalannya. Kewibawaan dan kharisma selalu melingkupinya sebagai seorang CEO perusahaan besar. Dimanapun dan kapanpun, dia harus selalu berusaha memasang sikap dapat diandalkan dan keprofesionalisme-annya.
"Selamat sore boss. Nampaknya anda terlihat lelah sore ini?" Seorang pria menyapanya.
Azraell yang mendudukkan dirinya dibangku kebesarannya menghela napas sembari melonggarkan dasinya. "Berhenti mengejekku Ralt. Aku kelelahan setelah menemani Eri berbelanja dan melakukan perawatan disalon. Dan jangan panggil aku boss."
Namanya Thomarisson Ralter, pria berusia 24 tahun yang merupakan sahabat sekaligus asisten pribadi dari Azraell. Sejak mereka dud dibangku SMA, Ralter sendiri memang tidak memiliki ambisi untuk menjadi dokter meneruskan keluarganya, toh karena ia masih memiliki seorang adik yang kini masih berkuliah dijurusan kedokteran dan ingin menjadi dokter sejak kecil.
"Haha, wanita memang bisa sangat merepotkan jika berurusan dengan belanja dan mempercantik diri." Kata Ralter.
"Ngomong-ngomong, kau pasti belum makan siang karena terlalu lama menunggu kekasihmu. Perlukah aku take away?" tanya Ralter.
Dareen
xxxx xxxx xxxx
Aku akan pulang lebih awal, bisakah
kamu menyiapkankan makan malam?
|| 16.56
Pesannya tidak dibalas selama beberapa saat, sebelum pesan balasan datang.
^^^Baiklah^^^
^^^|| 16.58^^^
Sangat baik. "Tidak perlu memesankan makanan untukku, aku akan pulang untuk makan. File yang kemarin belum sempat kukerjakan akan segera kukirimkan padamu."
__ADS_1
Ralter memandangnya dengan senyuman, "Baiklah-baiklah. Yang sudah memiliki istri jelas mendapatkan pelayanan yang berbeda~"
Azraell mendengarkannya sebelum memutar matanya dengan malas. Mengenakan jas terluarnya, pria rupawan itu berjalan keluar sembari melambai, "Aku pergi."
Memandang pintu yang tertutup rapat dengan tatapan datar, Ralter bergumam samar. "Alangkah baiknya jika mereka benar-benar pasangan yang jatuh cinta."
"Huh~"
...***...
Membuka pintu apartemennya, Azraell mendapati pemandangan apartemennya yang nampak sepi tanpa keberadaan penghuni lainnya. Biasanya, ketika dia kembali lebih awal dan Aileen masih terjaga, anak itu akan segera berlari menyambut dan memeluknya.
Jadi apakah Dareen dan Aileen belum kembali?
Melepaskan jasnya, Azraell merebahkan dirinya duduk disofa. Tubuhnya benar-benar lelah hari ini, sangat beruntung bahwa sahabatnya menyadari keadaannya dan memang mampu diandalkan kapanpun dan dimanapun. Memejamkan matanya, rasa kantuk perlahan menyelimutinya. Hingga kesadarannya menipis sebelum Azraell terlelap dalam alam mimpi.
Selang beberapa menit setelah Azraell terlelap, pintu dibuka. Sosok Aileen melangkah masuk melepas sepatunya diikuti oleh Dareen dibelakangnya. Melihat Azraell disofa, awalnya Aileen ingin memekik menyambutnya karena pulang lebih awal, namun melihat wajah tidur lelah Azraell, Aileen mengurungkan niatnya dan berjalan berjinjit didekatnya.
Aileen berbisik pada Dareen, "Mama~ Papa Azra sedang tidur."
"Benarkah?" tanya Dareen.
Aileen menganggukkan kepalanya, "Iya! Benar ma, papa terlihat lelah."
Mengusap surai Aileen, Dareen berkata dengan lembut. "Aileen mandi dulu sana. Pasti Aileen juga lelah sehabis mengikuti acara disekolah seharian."
Aileen mengangguk, "Baik ma."
Setelahnya, diruang utama itu hanya menyisakan Azraell dan Dareen. Melangkah menuju kamarnya, Dareen mengambil selimut kecil dari lemari. Kembali menemukan Azraell dan dengan hati-hati melepaskan sepatu dan melepaskan dasi yang nampak mencekik itu. Setelahnya, Dareen menyelimuti Azraell dan berbalik untuk mandi dan menyiapkan makan malam.
Setelah satu jam tertidur lelap, Azraell merasakan tepukan ringan dilengannya yang membuatnya perlahan membuka matanya dan mendapati sosok Aileen memandangnya dengan sepasang manik cerah.
"Mm? Aileen, kenapa membangunkan papa?" tanya Azraell masih dengan sedikit mengantuk.
"Mama bilang untuk membangunkan papa Azra. Makan malam sudah siap, tapi mama bilang papa Azra harus mandi dulu~" Jelas Aileen mengapa dia membangunkan Azraell yang masih terlelap.
Azraell menggosok surai Aileen, "Baiklah. Terima kasih sudah membangunkan papa, ya?"
Aileen menyunggingkan senyuman cerah dan mengangguk, "Iya pa!"
__ADS_1