
"Maaf aku akan merepotkan mama dan papa untuk menjaga Aileen beberapa hari kedepan. Karena aku dan Azra tidak ada dirumah, jadi tidak akan ada yang menemani Aileen." Dareen berkata dengan sopan, memiliki ketidaknyamanan didalam hatinya kepada Veryana.
"Mengapa kamu minta maaf?" Veryana bertanya sembari mengusap rambut Aileen yang tengah memeluk Dareen. Sebelum melanjutkan. "Aileen adalah anak manis. Aileen adalah cucu mama, Reen. Jangan merasa tidak nyaman dengan itu."
Dareen tersenyum dan mengangguk. "Baik, ma. Terima kasih."
"Mama~ Mama tidak bisa mengajak Aileen saja? Apa mama akan sangat sibuk sampai tidak bisa mengajak Aileen?"
Suara Aileen terdengar. Anak laki-laki itu mengangkat wajahnya yang sedikit memerah dibagian hidungnya. Tangannya melingkar kuat dipinggang sang mama.
"Mama harus mengurus sesuatu yang penting, sayang. Mama akan sangat sibuk dan mama takut, mama tidak akan bisa merawat Aileen dengan baik disana karena waktu mama sangat terbagi. Jika Aileen bersama grandma, Aileen bisa menemani grandpa dan grandma juga bisa bermain bersama auntie Vell."
"Ya?" Dareen bertanya, menunggu respon Aileen yang masih menatapnya.
Anak laki-laki itu menggulung senyuman, menganggukkan kepalanya sebelum bergerak memeluk Dareen kembali. "Mama harus janji cepat pulang, ya?"
Dareen mengusap rambut Aileen sambil tertawa geli, begitupun dengan Veryana yang menatap keduanya sejak tadi. "Mama janji akan segera kembali setelah urusan mama disana selesai sayang."
"Aku hanya harus memastikan bahwa orang itu tidak akan pernah menemukan Aileen." Batin Dareen.
...***...
Camelia Apartement
Pintu apartemen terbuka. Araell menatap sekitarnya dan menemukan bahwa suasana apartemennya sedikit berbeda dari biasanya. Tatapannya beralih ke jam dipergelangan tangan kanannya, dan menemukan bahwa saat itu baru berlalu setengah jam sejak dia pergi dari perusahaannya.
Pukul sepuluh lewat sebelas.
Biasanya Dareen akan menunggunya disofa sambil membaca sebuah buku. Walaupun sebenarnya hal itu karena Dareen memiliki insomnia yang membuat sang istri kontrak kesulitan tidur cepat.
__ADS_1
"Apa mereka sudah tidur?"
Azraell sebenarnya tidak yakin apakah karena Dareen sudah tidur atau karena alasan lain. Tetapi Azraell tahu bahwa Dareen pasti masih menyimpan amarah padanya. Apalagi, dirinya bahkan belum bisa meminta maaf karena masih tertahan diapartemen Eri selama beberapa waktu.
"Aku tidak pernah menuntut apapun mengenai perjanjian kita Zra. Tapi kumohon satu hal padamu. Jangan menyakiti Aileen. Dia satu-satunya yang berharga dalam hidupku."
Kata-kata itu terngiang dibenaknya. Azraell sadar bahwa kemarahan Dareen juga disebabkan karena kelalaiannya. Lalai karena tidak memperhatikan anak kecil dibawah pengawasannya, dan lalai karena dia melanggar janjinya untuk tidak mempertemukan Aileen dan Eri.
Setelah melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah, Azraell melangkah menuju kamar Aileen, membuka pintu. Hanya untuk menemukan kamar kosong.
"Apakah Aileen tidur bersama Dareen malam ini?" Gumamnya.
Azraell berbalik, berjalan dua langkah menuju pintu lain dan membukanya.
Kosong.
"Kemana mereka?" Azraell kebingungan saat sama sekali tak melihat keberadaan Aileen dan Dareen diapartemen itu. Meski sudah mencari kemanapun, tak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa ada orang disana sebelum Azraell kembali.
Tidak ada pesan apapun yang ditinggalkan Dareen pada Azraell.
"Dia tidak meninggalkan pesan apapun. Apa mungkin sedang keluar?" Batin Azraell.
Ia menatap layar ponselnya dan mengetik. Mengirimkan pesan kepada Dareen.
Dareen
xxxx xxxx xxxx
[Apa kamu keluar?]
__ADS_1
22.24
Hanya memiliki centang satu. Nomor Dareen tidak aktif. Azraell memutar otak dan memikirkan kemungkinan bahwa saat ini Dareen sedang ada dirumahnya. Ia mencari kontak sang mama dan menelpon. "Halo, ma."
[Ada apa, Zra? Tumben sekali menelpon mama malam-malam begini]
Mendengar pertanyaan Veryana, Azraell menanyakan tujuan utamanya. "Apa Dareen dan Aileen disana, ma?"
[Dareen mengatakan bahwa kamu akan ada urusan bisnis, sementara dirinya sendiri memiliki urusan diluar negeri selama beberapa hari. Jadi Dareen membiarkan Aileen tinggal dirumah untuk beberapa hari kedepan. Apa kamu tidak jadi pergi, nak?]
Mendengar penjelasan Veryana, Azraell terdiam selama dua detik sebelum membalas. "Tidak ma. Aku lupa Dareen menyinggung soal akan keluar negeri selama beberapa hari kemarin."
[Baiklah. Mama akan mengecek Aileen. Istirahatlah yang cukup, nak. Jangan lupa makan. Mama matikan, ya?]
"Mn." Gumaman Azraell menutup obrolan keduanya malam itu. Ia menjatuhkan tubuhnya kesofa dan menatap langit-langit apartemennya, sebelum menghela napas dan memejamkan matanya.
...***...
Shipol Airport, Amsterdam
Menginjakkan kakinya didepan pintu masuk bandara, wanita dengan balutan kemeja biru berlengan panjang berlapis mantel hitam dengan celana panjang itu menatap sekelilingnya dengan tatapan datar. Dareen, hampir tak memiliki ekpresi diwajahnya.
"Sudah lama sekali aku tidak kemari." Gumamnya nyaris tanpa suara.
Ia menyeret kopernya menjauh dari bandara untuk menemukan sebuah taksi. "Pak, tolong antar saya kejalan kesebelas. Rumah nomor 204."
Supir taksi mengangguk. "Ya, nona." Membiarkan Dareen menyangga tangannya dipinggiran pintu mobil, menatap keluar sembari menyunggingkan senyuman miris.
"Ini kota dimana cintamu tinggal, Kary. Aku kemari, hanya untuk melindungi apa yang harusnya kamu jaga didunia ini, meski kamu, tidak bisa melakukannya." Batinnya sebelum memejamkan mata.
__ADS_1
Perjalanan masih jauh. Mungkin Dareen, juga butuh setidaknya sebentar, untuk memejamkan matanya.