
Tok ... Tok ... Tok ...
"Alexa, waktunya makan."
Marvolo mengetuk pintu kamar dimana Dareen langsung mengurung diri setelah menangis dipelukannya. Marvolo sudah mencoba untuk memanggil Dareen berulang kali, namun gadis itu tidak kunjung keluar dan hanya berdiam diri di atas tempat tidur.
"Tuan."
Arsein datang dari belakang dan berhasil mengalihkan perhatian Marvolo. Pria itu menoleh dan bertanya, "Ada apa?"
"Saya sudah ..." Arsein tidak melanjutkan perkataannya dan melirik pintu dimana Dareen berada. Marvolo dengan tenang melangkah menjauh diikuti oleh Arsein dan keduanya dengan cepat sudah berada diruang kerja Marvolo.
"Saya sudah menyelidiki, dan ternyata memang benar."
Marvolo menghela napasnya dengan dingin. "Sudah berapa lama mereka melakukannya kepada Alexa?"
"Saya yakin sudah lama, tuan. Dan pekerja disana tidak ada yang pernah berani membuka suara karena ancaman pekerjaan." Jawaban Arsein membuat Marvolo semakin meradang.
Pria itu menyunggingkan seringaian marah dan dingin. "Sungguh menjijikkan. Mereka berdua menjaga citra mereka berdua sebagai orangtua yang lembut, penyayang dan sempurna, namun memperlakukan putri mereka seperti itu dibelakang layar."
"Siapkan surat perpindahan Alexa. Mulai hari ini, dia akan tinggal dan bersekolah disini. Aku akan berbicara kepada tuan Lucas dan nyonya Emily."
"Baik tuan."
Marvolo menghela napasnya setelah Arsein meninggalkan ruangannya. Ia kembali melangkah menuju ruangan dimana Dareen berada dan sedikit bersandar di dekat pintu dan merenung. Sementara didalam ruangan, Dareen duduk bersandar dikepala ranjang sembari memeluk sebuah bantal. Ia memandang kearah jendela yang menampilkan dengan jelas sang rembulan. Eskpresi kesedihan dengan jelas tergambar diwajahnya ketika dia perlahan kembali menitikkan air mata.
Dareen memang kuat.
__ADS_1
Ia terlihat kuat, namun tidak dengan hatinya. Hatinya terlalu rapuh dan halus sehingga ketika dia sendirian, berada dalam kesunyian, hatinya selalu menjerit oleh rasa sakit dan kesedihan yang dirasakannya dan yang selalu ditahannya.
...***...
Keesokan harinya
"Ajari aku bagaimana menjadi seorang yang bisa mengontrol diriku dan emosiku."
Marvolo tertegun ketika mendapati Dareen tiba-tiba membuka pintu dengan bantingan kuat dan menghampirinya yang sedang duduk disofa. Marvolo sedikit tidak mengerti mengapa Dareen tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, namun Marvolo senang dan bersyukur bahwa Dareen tidak lagi mengurung diri didalam kamar.
Bahkan Marvolo melihat tatapan penuh keyakinan dan penuh dengan rasa percaya diri disepasang manik Dareen yang baginya selalu menjadi hal yang sama indahnya dengan sepasang manik sang mama yang sudah berpulang kepangkuan sang kuasa.
"Menjadi wanita yang anggun?"
Dareen menganggukkan kepalanya dan membuat Marvolo tertawa pelan sebelum menganggukkan kepalanya. "Kamu datang kepada orang yang tepat. Kita akan mulai pelatihan kita dimulai dari sekarang, jadi mohon bantuannya, nona~"
Setelah hari itu, Dareen memulai pelatihannya bersama dengan Marvolo. Dareen sudah memiliki dasar yang baik, namun ajaran dari Marvolo membuatnya semakin sempurna. Sifatnya yang yang unik masih tersisa, namun Dareen lebih bisa mengontrol dirinya sendiri dan menanggapi ocehan orang lain dengan sikap yang lebih dewasa.
Marvolo mengajarinya memilih pakaian yang sesuai dengan Dareen yang terlihat sangat halus dan cantik, Marvolo membawa Dareen ke salon untuk belajar mengenakan make-up, Dareen belajar menari dan segala macam hal juga pernah dipelajari oleh Marvolo dari ibunya. Pria itu mengajari Dareen dengan sabar namun tegas dan tidak membiarkan Dareen melakukan kesalahan yang sama secara berulang dan terus memberi Dareen nasihat selayaknya orangtua kepada anaknya.
Berbulan-bulan berlalu dengan cepat tanpa terasa.
Dareen tengah berada dikamarnya, memegang ponsel yang dibelikan Marvolo setelah ponselnya ia tinggal di dalam kamarnya dirumah sang orangtua. Ia menekan sebuah nomor dan menunggu seseorang diseberang sana mengangkat panggilan videonya ketika dia menunggu sembari berdiri didekat jendela. Cahaya bulan yang lembut dan lampu taman yang hangat menyorotnya dengan lembut. Tidak berselang lama kemudian, panggilan tersambung.
Ada gambar buram selama beberapa detik sebelum sesosok muncul setelah beberapa detik berlalu.
"Kary."
__ADS_1
Dareen menyapa terlebih dahulu ketika kemudian gadis diseberang sana menyunggingkan senyuman yang begitu lebar. Bak memandang pantulan wajahnya sendiri didepan cermin. Bak pinang dibelah dua, bahkan senyuman dan suara lembutnya begitu mirip dengan Dareen. "Reen! Aku merindukanmu!"
Dareen tersenyum dengan lembut. "Aku juga merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Kamu sudah makan dengan banyak, kan?'
Careen Alexandra Parvaita--kembaran Dareen itu menganggukkan kepalanya. Helaian surai hitamnya begoyang lembut ketika dia mengangguk. "Sudah dong. Reen bagaimana?"
"Aku juga sudah. Aku baru makan malam bersama dengan Marv."
Careen yang tengah berbaring tengkurap diseberang sana memandang Dareen sembari menyangga wajahnya dengan sebelah tangan. "Paman Marvolo memperlakukanmu dengan baik, kan? Maksudku, dia benar-benar bisa membuatmu tersenyum, kan?"
Dareen sedikit terdiam mendengar pertanyaan Careen sebelum menyunggingkan senyuman geli. "Dia aneh. Tapi, dia pria yang baik."
"Kalau begitu baguslah. Tinggallah dengan nyaman disana." Careen menatap Dareen dengan sepasang manik yang berkilau oleh cahaya lampu. "Kamu berhak untuk bahagia, Reen."
Dareen mendengus lembut. "Kamu berbicara seolah kamu sendiri sudah bahagia. Bagaimanapun juga, usia kita hampir tidak ada bedanya. Jadi jangan bersikap sok dewasa didepanku, aku juga bisa."
Gelak tawa Careen terdengar.
"Apakah papa menghukummu hari ini?" Dareen bertanya kepada Careen, dan suasana mendadak menjadi hening. Careen kemudian menyunggingkan senyuman dan sedikit bersandar. "Aku baik, Reen. Setidaknya, hukuman papa tidak begitu berat."
Mendengar perkataan Careen, Dareen sedikit mengepalkan tangannya. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan ekspresinya dari saudari kembarnya. Namun sebagai saudari kembar yang sudah hampir berbagi segalanya sejak kecil, Careen bisa dengan mudah menebak apa yang terjadi. Careen menyunggingkan senyuman.
"Tidak apa-apa, Reen."
Careen melanjutkan. "Pasti akan ada saatnya mereka berubah, Reen. Pada saat itu tiba, aku berharap kita berempat bisa membuat foto keluarga dengan senyuman yang tulus dan bukan karena formalitas."
Keduanya mengobrol sampai beberapa waktu lamanya, sebelum Dareen mengakhiri panggilan video itu untuk membiarkan sang kakak tidur. Ia membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur setelah mengunci jendela kamarnya dan perlahan memejamkan matanya untuk larut dalam arus mimpi.
__ADS_1