Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 34: About Marvolo And Back Home


__ADS_3

Panggilan papa yang didengarnya dari Dareen membuat sebagian hatinya tergelitik. Antara rasa geli dan rasa gembira.


Ada sebuah rahasia yang sudah Marvolo simpan sejak lama. Dan rahasia ini hanya diketahui oleh beberapa orang termasuk sang ibu yang sudah tiada. Marvolo tidak pernah menyukai wanita. Ya, itu adalah hal yang dia coba sembunyikan dari masyarakat selama ini. Dia tahu bahwa itu memang bukan lagi hal tabu di negaranya, namun sebagai sosok yang memiliki darah bangsawan, adalah hal yang tidak pantas baginya untuk menyukai sesama jenis.


Marvolo tidak ingin nama baik sang mama tercoreng hanya karena melahirkan anak yang tidak berguna sepertinya.


Jadi Marvolo tidak pernah menunjukkan sekalipun ketertarikannya kepada siapapun dan memendam perasaannya untuk dirinya sendiri, jauh dilubuk hatinya. Marvolo bahkan sudah bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menikah, dan karena itu juga, bayangan memiliki keluarga kecil bersama orang yang dia cintai dan memiliki buah hati hanya menjadi bayangan semu dititik terendah hatinya.


Dareen adalah sosok baru dalam hidup Marvolo. Namun kehadirannya begitu kuat sehingga membuat hati Marvolo tergerak.


Marvolo ingin melindunginya, Marvolo ingin menjaganya, Marvolo ingin melihatnya tersenyum dengan bahagia dan bisa membangun keluarga kecilnya tanpa ada sedikitpun masalah dan kesedihan dalam hidupnya. Naluri kebapakan dalam dirinya menguar hanya dengan melihat senyuman Dareen. Dan dari sana, Marvolo tanpa sadar menganggap Dareen sebagai putrinya sendiri. Putri berharga yang harus dia lindungi dan harus dia jaga dari apapun yang mencoba merusaknya dan menghancurkan senyumannya.


Dipanggil dengan sebutan itu oleh Dareen membuat hati Marvolo dipenuhi dengan kehangatan dan cinta. Seolah dia merasa bahwa hidupnya penuh.


Dareen ... putrinya.


Namun kebahagiaan mereka, baik Marvolo dan Dareen tidak bertahan lama. Sebab pada tahun ketiga sejak Dareen tinggal bersama dengan Marvolo, pada satu malam, Careen menghubungi Dareen dan segala keadaan menjadi berubah.


[Reen ... aku hamil.]


Flashback End


...***...


"Minum dulu, Alexa."


Marvolo menuangkan teh yang selalu diminumnya. Aroma khas yang membawa Dareen pada nostalgia. Sepasang maniknya sedikit memerah karena Dareen hampir menangis selama setengah jam dipelukan Marvolo, seseorang yang sudah dia anggap sebagai ayah kandungnya sendiri. Dareen mengangguk dan dengan perlahan menyesap teh yang diberikan oleh Marvolo kepadanya.


Pria 30 tahunan itu memandang Dareen dari seberang dan menghela napas dengan lembut sebelum tersenyum. "Papa ingin mendengar kabarmu, Lexa. Meski papa sudah tahu, papa ingin mendengarnya sendiri darimu."


Dareen menggenggam cangkir berisi teh hangat dengan kedua tangannya dan sedikit menurunkan tatapannya, berkata dengan sedih. "Aku selalu mengingatnya, papa. Aku tidak bisa melupakan penyesalanku kepada Kary."

__ADS_1


"Setiap aku melihat Aileen, aku selalu bisa melihat bayangan Kary. Ketika dia tersenyum, ketika dia tertawa, bahkan ketika dia menangis. Semuanya sama persis dan membuat hatiku sakit dan bahagia secara bersamaan, papa. Aku bahagia bisa melihat Aileen tumbuh dengan baik, tapi aku sakit ketika mengingat setiap kenangan Kary dalam diri Aileen."


Dareen bercerita kepada Marvolo yang masih setia mendengarkan perkataan Dareen. Marvolo menyunggingkan senyuman tipis. "Alexa. Dengarkan papa."


"Papa tidak akan mengatakan banyak hal kepadamu, tapi kamu tahu bukan? Bahkan Kary sendiri tidak pernah menyalahkanmu. Karena kamu tidak memiliki kesalahan apapun. Kamu hanya merasa dirimu sendiri bersalah karena tidak bisa mencegah orangtuamu melakukannya kepada Kary. Kamu marah pada dirimu sendiri karena kamu lemah." Marvolo melanjutkan, "Tapi, Lexa. Kamu sudah berusaha dengan baik."


Dareen mengerutkan bibirnya, menurunkan tatapannya semakin dalam dan menganggukkan kepalanya dengan sepasang manik yang berbinar oleh air mata.


"Jadi, apa yang membuatmu memutuskan untuk mendatangi papa setelah sekian lama?" Marvolo bertanya. Agaknya juga cukup menyindir dilihat bagaimana penggunaan nadanya yang sedikit menyentil hati Dareen.


Dareen menarik napas dan menenangkan dirinya ketika dia mulai menyampaikan maksud kedatangannya. "Aku ingin papa membantuku dengan sesuatu."


"Tentang Aileen, kan?"


Dareen menganggukkan kepalanya. "Aku mendengar dari Chisa bahwa mereka sudah curiga akan keberadaan Aileen. Mereka masih belum tahu tentang Aileen, namun aku yakin bahwa mereka masih mencoba mencari tentang identitas cucu mereka. Dan aku tidak akan membiarkan mereka menemui Aileen."


"Papa mengerti, Lexa." Marvolo mengangguk, "Papa juga tidak akan membiarkan Aileen bertemu dengan mereka. Karena mereka sudah lama membuang Aileen. Jadi, tidak akan pernah ada nama mereka didalam hidup cucuku."


Marvolo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Jangan khawatir. Pulanglah dan temui Aileen. Sudah berapa hari kamu disini, dia pasti merindukanmu."


"Papa ... ingin ikut bersama denganku menemui Aileen?"


Marvolo menyeringai kecil. "Papamu ini sibuk dengan banyak pekerjaan. Lagipula, apa kamu tidak bisa menebak bahwa seharusnya Aileen sudah bosan melihat wajahku?"


Dareen sedikit terdiam sebelum tertawa pelan. "Aku kecolongan ternyata."


"Aileen benar-benar anak yang manis. Dia akan tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa dimasa depan, Reen."


^^^***^^^


"Nona Alexa."

__ADS_1


Dareen memandang Arsein yang menyapanya dengan profesional, namun tidak bisa menyembunyikan keramahan dan kehangatan yang dia miliki. Dareen mengerutkan bibirnya samar dan membungkuk kepada Arsein.


"Arsein, maaf jika kemarin aku bersikap tidak sopan." Dareen tersenyum, merasa bersalah didalam hatinya. Arsein menganggukkan kepalanya. "Jangan khawatir nona."


"Bagaimana kabar anda selama ini?"


Dareen berkata, "Pertanyaan yang sama seperti yang diajukan papa. Terimakasih sudah bertanya, Arsein. Aku baik sekali, dan Aileen ... juga baik. Aku yakin jika papa melihatnya, kamu juga melihat Aileen, kan?"


"Tuan kecil sudah tumbuh menjadi anak yang sehat dan bersemangat. Dan senang mendengar nona hidup dengan baik. Tuan muda terkadang sulit diatur, apalagi sulit ditenangkan ketika sudah memikirkan nona. Tapi, beliau benar-benar sangat menyayangi anda sebagaimana nyonya dulu menjaga tuan muda."


Dareen tersenyum dan kembali mengangguk. "Aku tahu. Aku juga sangat menyayanginya."


Keduanya larut dalam keheningan yang hangat selama beberapa waktu sebelum Arsein membukakan pintu mobil untuk Dareen. "Tuan muda sudah menyuruh saya mengantar nona ke bandara. Karena tuan muda sedang ada rapat, beliau tidak bisa ikut mengantar. Dia berpesan agar anda tidak marah. Sama seperti dulu, beliau akan datang menyusul meskipun terlambat."


"Dia masih sangat kekanakan saja, ya?" Dareen mendengus geli, "Kamu pasti benar-benar kerepotan karenanya."


Arsein menutup pintu setelah Dareen berkata dan kemudian masuk kesisi lain dan menjawab perkataan Dareen. "Saya benar-benar kesulitan. Namun gaji yang tuan muda tawarkan membuat saya sangat tergiur dan lupa dengan semua kerepotan yang saya alami."


"Mintalah kenaikan gaji juga kapan-kapan."


Dareen menanggapi candaan Arsein dan keduanya tertawa bersama. Mobil mewah itu melaju dari bangunan rumah Marvolo menuju bandara dan memakan waktu satu jam sebelum pada akhirnya Dareen sampai dan kembali ke Manhattan menggunakan pesawat dengan penerbangan kelas bisnis yang sudah disediakan oleh Marvolo.


Menginjakkan kaki dibandara, Dareen memandang sekelilingnya dan tergerak oleh panggilan yang akrab ditelinga dan hatinya.


"Mama!"


Disana, sosok Aileen berlari menuju kearahnya. Senyuman cerah anak enam tahun yang dirindukan Dareen, dan suara manisnya yang menghangatkan hatinya. Dibelakangnya, sosok pria bersurai hitam itu menatapnya. Sejak kejadian di kebun binatang saat itu, Dareen masih belum bertemu lagi dengannya.


Azraell.


__ADS_1


__ADS_2