Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 16: A Mother's Anxiety


__ADS_3

Azraell memandang bingung dan bertanya pada seseorang yang kini duduk manis disofa ruang utama sekaligus ruang tamu diapatemennya. Meski wajahnya masih tetap datar, pertanyaan dimatanya dapat dilihat dengan jelas. Jullian lebih dulu berdiri dan setengah membungkuk menyapa Azraell.


"Halo, paman. Saya Jullian, teman Aileen." Katanya.


"Mn." Respon Azraell biasa.


Dareen datang dengan membawa totebag ditangannya yang berisikan makanan untuk mereka bertiga. "Aileen memaksa Jullian untuk ikut ke kebun binatang. Jadi, Jullian datang."


Jullian kembali menganggukkan kepalanya. "Maaf merepotkan."


"Tidak, tidak. Jullian sama sekali tidak akan merepotkan. Maafkan Aileen karena sudah memaksa Jullian ya. Anak itu memang sedikit bersemangat." Kata Dareen.


"Benar kan, Zra?" tanya Dareen membuat Azra bergumam dan menganggukkan kepalanya.


Respon itu membuat Julian menghela napas lega dihatinya dan kemudian memandang keduanya samar dalam diam. Jullian adalah anak yang suka mengamati. Ibunya adalah seorang psikolog, dan dari profesi ibunyalah dia cukup mengetahui banyak hal tentang karakter orang-orang yang ditemuinya.


Contohnya Aileen. Jullian tahu ia adalah anak yang tulus dan sangat ceria. Dia anak yang bersemangat dan anak yang berani dan jujur dengan apa yang hatinya inginkan. Tetapi melihat interaksi Dareen dan Aileen terakhir kali, Jullian cukup tahu juga bahwa Aileen tidak selalunya jujur dengan perasaannya sendiri.


Memandang keduanya, Jullian hanya merasa bahwa ada sesuatu yang mengganjal didalam benaknya.


"Papa, Aileen sudah siap!" Aileen berjalan cepat menuruni tangga apartemennya dan melangkah menghampiri tiga orang diruang utama itu.


Dia mengenakan baju tebal berwarna biru muda dengan celana putih, dipadukan dengan jaket bertudung berwarna ganda hitam dan abu-abu bermotif panda yang membuat Aileen tampak menggemaskan. Sementara dipunggungnya tergantung ransel.


Dareen menyerahkan totebag itu kepada Aileen. "Mama membuat kue. Aileen bisa membaginya bersama kak Jullian papa Azra diperjalanan. Jangan disisakan untuk diberikan pada binatang dikebun binatang ya? Itu tidak boleh oleh petugas disana."


Aileen menganggukkan kepalanya. "Mengerti, ma!"


"Baiklah, ayo berangkat." Ajak Azraell pada keduanya.


"Kami berangkat." Setelah berpamitan dan melangkah pergi, Dareen menutup pintu dan melangkah menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Menekan salah satu kontak dan menekan ikon telepon, Dareen menghubungi seseorang hingga seseorang disana merespon.


[Halo Reen. Tumben menelpone-ku. Ada apa?]

__ADS_1


Dareen jarang berbasa-basi. Jadi dengan segera dia menuju ke inti lasan dia menelpone temannya itu. "Bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang perlu dibicarakan."


[Tentu saja? Kapan dan dimana?]


"Sonatta Caffe, 2 jam dari sekarang." Ujarnya.


Seseorang disana membalas dengan cepat. [Oke, aku akan bersiap-siap juga. Sampai bertemu 2 jam lagi, Reen.]


"Mn." Gumam Dareen sebelum mengakhiri panggilan telepon itu. Dareen memandang keluar jendela sebelum bergumam dengan samar. Untuk menemui orang-orang yang sama saat dirinya paling terpuruk, Dareen hanya sedikit merasa tidak nyaman dihatinya.


Dia hanya sedikit takut.


...***...


Wanita itu duduk disebuah bangku dimeja dekat jendela yang langsung menghadap pemandangan taman mini caffe itu. Surai keunguan miliknya sesekali bergoyang ketika dia bergerak mengulurkan tangannya meraih secangkir americano diatas meja dan mengembalikannya setelah menyesapnya.


Meskipun nampak tenang, tetapi ada banyak kecemasan dan kegugupan yang dimilikinya. Tentang segala sesuatu, yang ada diluar imajinasinya.


"Emma," Dia mendongak dan punggungnya melurus tanpa sadar.


"Reen, bagaimana kabarmu?" sapanya setelah dua detik membisu.


Emma Winosea menatap Dareen sebelum menurunkan bulu matanya dan mengangguk dengan mantap. "Kamu bisa bertanya apapun kepadaku. Tapi kamu sendiri juga tahu, aku hanya bisa menjawab pertanyaan, yang kuketahui jawabannya."


Dareen menghela napasnya sebelum mengucapkan pertanyaan pertamanya. "Aku mendengar kalau pasangan kalung ini kamu yang menyimpannya. Apa itu masih ada?"


Sembari bertanya, Dareen menarik keluar kalung yang melingkar dilehernya dan mengelusnya dua kali sebelum menyimpannya kembali. Emma menjawab, "Aku selalu menyimpannya."


Dia menatap Dareen, "Apakah kamu menginginkannya?"


Dareen menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Dia memberikannya padamu. Aku tidak memiliki hak untuk memintanya."


Emma dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Reen! Dia hanya menitipkannya kepadaku sampai—"


"Sampai apa? Sampai mereka mencari Aileen dan membawanya pergi dariku setelah apa yang terjadi? Itu tidak akan pernah berhasil, Emma! Aku bertanya hanya untuk memikirkan seberapa jauh dia mempercayaimu." Kata Dareen segera memotong perkataan Emma.

__ADS_1


Emma membungkam bibirnya, menunduk dan menggeleng dengan lemah. "Aku tahu kamu membenciku, tapi—" Sekali lagi Dareen memotong perkataannya.


"Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak memiliki alasan untuk menyukaimu." Ucap Dareen dengan suara tenangnya.


Emma menelan angin tanpa suara dan mengangguk. "Ya, bagaimanapun itu, sama seperti permintaanmu, aku tidak sekalipun menyinggung tentangmu dan Aileen didepan mereka. Bahkan Sam sekalipun."


Dareen menyesap minuman yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan. "Itu bagus, mengingat hutangmu padaku."


"Ya, aku tahu." Gumam Emma.


Suasana menjadi hening selama beberapa saat sebelum suara dering ponsel memecah keheningan itu. Dareen merogoh ponselnya dari dalam tas dan melihat bahwa Aileen menghubunginya. Bukankah seharusnya mereka masih ada dikebun binatang? Kenapa Azraell menghubunginya?


Apakah ada sesuatu yang terjadi?


Menepis keraguannya, Dareen menyeret ikon ponsel keatas dan mendekatkan ponselnya kesamping telinganya. Siapa tahu bahwa ini Aileen yang ingin berceloteh macam-macam hal.


"Halo, sayang, ada apa? Bagaimana perjalanannya?" tanya Dareen. "Lho? Jullian? Aileen dimana sayang?"


Ada keheningan selama beberapa saat disana. Sebelum pihak lain membuka suara, dan membuat sepasang manik hijau permata itu melebar penuh kejutan.


"Tunggu, bibi kesana sekarang!"


Dareen langsung memutus panggilan telepone itu dan segera memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Dia tak mempedulikan panggilan Emma yang nampak kebingungan dan terkejut saat melihat kepanikan Dareen setelah dihubungi oleh seseorang. Mama? Apakah itu Aileen dan kenapa Dareen terlihat sangat panik?


"Reen!" Emma bangkit berdiri dan menyaksikan kepergian Dareen yang melangkah terburu memasuki mobilnya dan menghilang diantara padatnya kendaraan jalan itu.


Dia bergumam, "Apa yang terjadi?"


Emma mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja dan nampak menekan satu nomor kontak. "Halo?"


[Emma? Ada apa?]


Emma tidak berbasa-basi, "Aku baru saja bertemu dengan Dareen di cafe. Tapi dia tiba-tiba mendapatkan telpone dari Aileen, tapi dia memanggilnya Jullian dan tiba-tiba terlihat panik dan pergi bahkan tanpa menjawabku. Aku sedikit cemas."


Seseorang disana terdiam selama dua detik, [Aku akan mencoba menghubunginya. Jangan khawatir soal Dareen.]

__ADS_1


"Baiklah." Gumam Emma sembari menurunkan ponselnya. Dia benar-benar berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk.



__ADS_2