Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 31: What's Happened, Alexa?


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Memandang keluar jendela dengan tatapan datar, Dareen perlahan menatap dirinya dicermin yang dipegangnya. Lebam dan memar diwajahnya perlahan menghilang, namun siapapun yang memiliki mata dapat melihat dengan jelas bahwa Dareen memiliki lebam dan memar yang parah.


Tangannya yang terlapis perban dengan perlahan menurunkan cermin itu diatas meja. Ia bangkit berdiri, meregangkan kakinya dan melangkah menuju pintu kamarnya, menunggu sesuatu yang sudah cukup lama dipesannya kepada orang kepercayaannya dirumah itu. Ada jejak bayangan didepan pintu Dareen, dan detik berikutnya, ada sebuah amplop putih yang diselipkan melalui celah pintu. Bayangan itu kemudian dengan secepat kilat melangkah pergi seolah dikejar sesuatu.


Dareen membungkuk dan mengambil amplop itu sebelum dengan tenang menatap isinya dan memasukkannya kedalam tas yang sudah dia siapkan diatas meja.


Dareen memutar cermin besar dikamarnya, mengambil tali panjang yang tergulung dibalik cermin dan membawanya kejendela.


Ketika ia membuka jendela, angin malam langsung menerpa wajahnya. Dareen dengan tenang mengikat ujung tali ke kaki ranjangnya yang besar dan berat. Dareen melirik kebawah, memastikan tidak ada siapapun dibawah dan dengan tenang melempat ujung tali lain ke bawah. Ia menggendong ranselnya setelah mengenakan hoodie hitam dan celana panjang berwarna abu-abu. Dareen menaiki jendela dan memanjat tali dengan mudah, sebelum beberapa waktu kemudian menginjakkan kakinya ke tanah disamping rumahnya.


Dareen memandang ke atas kamarnya yang berada dilantai ketika dan melirik tangannya yang gemetar karena rasa sakit sebelum dia menutupi kepalanya menggunakan tudung hoodienya dan melangkah pergi seolah dia tidak pernah ada disana sebelumnya jika bukan karena tali dan jendela kamar yang terbuka yang membuktikan keberadaannya.


...***...


Dareen memandang keluar jendela mobil dengan tatapan yang datar. Tidak ada ekspresi khusus diwajahnya yang cantik meski tertutup oleh lebam dan memar.


Pada saat itu, bus sudah cukup penuh sesak, dan kebanyakan diisi oleh orang tua dan para pekerja kantoran yang baru saja kembali dari tempat kerja. Bus berhenti selama beberapa waktu dan beberapa orang naik kedalam. Ada seorang wanita hamil yang melangkah naik dengan membawa barang. Dareen meliriknya, mendapati semua nampak sibuk dengan urusan mereka, bermain ponsel dan bahkan beberapa nampak tidur. Tatapannya tertuju pada seorang pria setengah baya yang duduk dibangku yang pada bagian belakangnya tertempel tanda bahwa bangku itu adalah bangku untuk wanita hamil.

__ADS_1


Dareen melangkah mendekat, dan berjongkok disebelah pria itu, memandang perutnya selama beberapa waktu yang membuat pandangan banyak orang teralihkan kepadanya.


"Paman hamil berapa bulan?"


Dareen bertanya sembari mengusap perut pria itu dan menepuknya dengan tegas beberapa kali. Ucapan dan perlakuan Dareen membuat wajah pria itu memerah karena malu begitu dia menyadari maksud Dareen dan dia juga marah atas sikap tidak sopan dari Dareen.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Dareen, banyak dari yang mendengarnya mencoba menahan tawa mereka.


"Apa kau tidak waras?" Pria itu menyentak tangan Dareen, yang membuat Dareen menggigit bibirnya mencoba menahan rasa nyeri dipergelangan tangannya.


Pria itu dengan tegas membentak. "Anak zaman sekarang sangat tidak tahu sopan santun! Meskipun ini bangku wanita hamil, namun wanita hamil disana juga nampak sangat sehat dan bersemangat. Perutnya bahkan belum besar dan dia juga tidak protes. Mengapa ini menjadi urusanmu, hah?! Lihat penampilanmu yang mengerikan! Apa kau kriminal yang mencoba menjadi pahlawan dan pembela keadailan?"


"Pria tua ini begitu kelelahan sepulang dari tempat kerja dan sekarang kau melarangnya duduk?!"


Dareen merogoh sakunya dan dengan tatapan tajam dan mengancam berkata kepada pria tua itu. "Seperti yang anda katakan, saya masih seorang anak, dan tidak ada yang saya takuti didunia. Anda membuat saya tersinggung, namun saya dengan baik hati akan membantu anda lepas dari rasa lelah anda, lepas dari tekanan yang anda alami didunia kerja, dan dunia fana."


Dareen menyeringai dingin. "Saya akan membantu sebisa saya."


Pria itu terlonjak ketika Dareen menarik keluar sesuatu dari sakunya. Dia berdiri dan memandang Dareen dengan ngeri setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Dareen kepadanya. Dia tidak bodoh untuk tidak bisa menangkap maksud Dareen.

__ADS_1


"Anak gila!"


Melihat penampilan dingin Dareen dan lebam-lebam diwajahnya membuatnya semakin merasa ngeri. Batinnya menerka-nerka apakah mungkin Dareen memang berbahaya, karena tidak mungkin anak perempuan baik-baik bisa mendapatkan luka seperti itu.


"Ambil itu! Ambil bangkunya, sialan!"


Pria itu bergegas menjauh dari Dareen, meninggalkan bangku kosong. Dareen menarik keluar tangannya dan mengeluarkan sebungkus permen dan melirik wanita hamil yang memandangnya dengan rasa syukur diwajahnya terlebih ketika Dareen mengangguk kecil dan kembali duduk dibangkunya, menggigit permen dimulutnya dan memandang pemandangan jalanan yang ramai dari dalam bus.


Selang beberapa waktu kemudian, Dareen melangkah turun dari bus dan berhenti tepat didepan bangunan megah didepannya. Dareen sedikit menunduk sebelum melangkahkan kakinya yang berlapis sneaker menuju bangunan apartemen yang besar itu.


Selang beberapa menit kemudian, Dareen sudah berdiri didepan pintu apartemen yang dikenalnya. Dareen menatap pintu didepannya sebelum dengan ragu menekan bel. Dareen pada awalnya tidak berharap ada seseorang yang akan membalasnya karena pada saat itu seharusnya dia masih bekerja. Namun Dareen masih berdiri, seolah menunggu pintu terbuka untuknya.


Cklek!


Dareen mendongak dan bersitatap dengan sepasang manik itu, ketika Marvolo terlebih dulu terkejut. "Alexa?"


Pria muda itu melebarkan matanya ketika melihat lebam dan memar diwajah Dareen. "Astaga! Apa yang terjadi padamu?! Mengapa lebam dan memarnya bertambah?!"


Dareen menatap Marvolo untuk beberapa saat sebelum maniknya mulai berkaca-kaca. Ia melangkah mendekat dan menyandarkan kepalanya didada pria itu. Tangan kanannya memegang lengan baju pria itu dan mencengkramnya, dan isakan tangis lolos dari bibirnya. Marvolo tertegun selama beberapa waktu, sebelum menipiskan bibirnya dan meraih Dareen kedalam dekapannya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" batinnya.



__ADS_2