Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 8: A Faint Mumble In The Silent Room


__ADS_3

Makanan yang dibuat Dareen hari ini sederhana. Hanya menyiapkan makanan utama yakni pasta. Untuk putranya, Dareen menyiapkan pasta saus keju dengan bola daging. Untuk Azraell yang penyuka makanan pedas, Dareen menyiapkan pasta saus cabai dengan udang dan potongan asparagus. Sementara untuk dirinya, hanya membuat pasta kaldu jamur dan melengkapinya dengan kue ikan yang dibelinya disupermasket bersamaan dengan bahan lainnya.


Selain itu, Dareen juga menyiapkan makanan pelengkap lainnya seperti tempura sayuran, ayam suir bumbu, salad dan juga rebusan tahu dan wortel juga selada.


Mendudukkan dirinya dikursi dimeja makan, Azraell bahkan masih memiliki bulir air diujung-ujung rambutnya selepas mandi. Bukan karena malas, namun karena Azraell terlalu lapar. Ia hanya menyempatkan dirinya sarapan ditempat kekasihnya menggunakan roti dan selai, dan bahkan tak sempat makan siang karena harus menemani Eri disalon dan berbelanja sampai sore. Azraell benar-benar lapar sekarang.


Dan makanan didepannya membuat perutnya meronta.


Melirik Aileen, Azraell memiliki sedikit senyuman geli. "Sepertinya Aileen sudah sangat lapar sampai air liurnya menetes seperti itu."


Mendengar pernyataan Azraell, Aileen membuat gerakan besar menghapus air liur dibibirnya dan melotot pada Azraell, "Aku tidak! Itu papa yang sudah sangat lapar sampai perutnya berbunyi dan air liurnya menetes!"


"Haha, baiklah. Mari kita mulai saja makannya," katanya memimpin yang lain untuk memulai acara makan mereka.


Melihat Aileen segera menyambar garpu dan membuat gerakan besar menyuap nasi kedalam mulutnya, Azraell dan Dareen mengikutinya. Memasukkan sesuap pasta kedalam mulutnya, rasa hangat, lembut dan kenyal dimulutnya membuat Azraell tak bisa menghentikan gerakan kunyahannya. Selain lapar, jujur atau tidak masakan Dareen memang begitu lezat.


Dulu, Azraell ingat bahwa masakan Dareen pertama yang dia makan adalah kentang tumbuk dengan ayam lada hitam. Saat itu, Azraell yang awalnya memiliki kecenderungan tak nafsu makan, dapat menghabiskan sepiring penuh kentang tumbuk dan ayam lada hitam buatan Dareen. Sejak itu juga, Azraell memiliki kecenderungan untuk makan makanan rumah daripada membeli makanan diluar.


Bagaimana dengan kekasihnya Eri? Sebagai gadis yang memiliki impian menjadi model sejak lama, gadis itu tentu saja tak pernah bersentuhan dengan dapur. Demi menjaga tubuhnya, Eri bahkan tak pernah merebus air, apalagi memasak. Lagipula, bagi wanita 24 tahun itu, tak pandai memasak bukanlah masalah karena dia memiliki koki pribadi dirumahnya.


Meskipun tak dapat memasak, tak mengurangi rasa sayang dan cinta Azraell pada Eri.


Mengingat sesuatu, Azraell membuka bibirnya. "Ngomong-ngomong bagaimana penampilan Aileen hari ini? Papa dengar Aileen tampil dipanggung bukan?"


Mendengar itu, Aileen langsung membalas dengan penuh semangat. "Tentu saja, pa! Aileen menyanyi didepan banyak orang dengan sangat baik. Mama bahkan sampai menangis dan memeluk Aileen dengan sangat kencang~"


"Papa Azra juga tahu? Tadi sekolah juga mengadakan banyak game untuk orangtua dan anak. Mama dan papa teman-teman Aileen juga ikut. Saat ikut game make-up, mama membuat wajah papa Lyon seperti adonan kue karena sangat putih!"


"Benar kan, ma?" Tanya Aileen.


Wajah Dareen sedikit memerah mengingat hal memalukan tadi saat disekolah. Bagaimanapun, meskipun sudah meminta maaf, Dareen tetap malu saat mengingatnya.

__ADS_1


Dareen mengangguk tanpa daya, "Iya sayang."


Mendengarkan celotehan Aileen tadi, Azrael. sedikit menaikkan alisnya ketika mendengar kata "Papa Lyon." Mungkinkah itu kekasih Dareen atau ayah kandung Aileen?


Yah, tetapi meskipun sedikit penasaran dengannya, Azraell juga tak bertanya. Toh, itu tidak ada hubungannya dengannya. Baik itu ayah kandung Aileen atau kekasih Dareen, atau bahkan itu adalah mantan ayah tiri atau mantan suami Dareen, Azraell tak peduli. Bagaimanapun juga, dalam perjanjian pernikahan kontrak mereka, selama 2 tahun ini mereka tidak boleh mencampuri hubungan masing-masing. Dia dengan kekasihnya Eri, dan biarkan Dareen mengurus kehidupan pribadinya sendiri.


Setidaknya, meskipun mendengar sesuatu yang seharusnya ditanyakan oleh pasangan suami istri pada umumnya, mereka berdua bersikap seakan tidak ada yang salah dibalik celotehan Aileen mengenai "Papa Lyon".


...***...


Duduk dibangku kebesarannya, Dareen mengenakan setelan kemeja lengan panjang putih dengan celana panjang hitam sesekali membenarkan letak kacamata kerjanya saat memandang dan memeriksa laporan kerja dari departemen-departemen diperusahaannya. Ada secangkir kopi yang tak lagi panas disampingnya, menandakan bahwa Dareen telah berada diruangan itu cukup lama.


"Reen?" Panggilan itu membuat Dareen yang terfokus pada pekerjaannya menoleh dan mendapati sosok pria muda berdiri diambang pintu ruangannya.


Sesaat terkejut, Dareen bangkit berdiri dan membuat pria itu melangkah kearahnya. "Kak Elnos?" Tanya Dareen padanya.


Elnos Williams Parvaita, adalah sepupu dekat Dareen. Berusia 27 tahun, Dia adalah anak sulung dari pamannya, Dianson Williams Parvaita. Dulu, kakeknya dan neneknya memiliki tiga orang anak. Anak kedua adalah ayahnya dan anak ketiga adalah bibinya.


Putra pertama adalah pamannya. Pamannya menikah dan memiliki anak pertama, yakni Elnos. Dan anak kedua pamannya bernama Riana Seline Williams Parvaita, yang sekarang berusia 21 tahun. Selepas menikah, Elnos pindah dan menetap di Jepang bersama istrinya yang memang merupakan keturunan Jepang yang tinggal di sana. Dan memiliki seorang anak berusia 4 tahun setelah pindah ke Jepang selama 4 tahun. Sementara pamannya bersama istrinya dan Riana tinggal di Los Angeles untuk mengurus bisnis kuliner disana.


Melihat kedatangan kakak sepupunya itu, Dareen sedikit bingung. Namun Elnos segera mengerti kebingungan Dareen dan membalasnya, "Sebentar lagi ulangtahun nenek, kamu ingat?"


Merasa melupakan hal yang sangat penting, Dareen memijat keningnya dan berkata tanpa daya. "Aku hampir melupakan ulangtahun nenek. Kapan kakak kembali?"


"Kemarin malam, aku ingin mengabarimu. Tapi setelah dipikir-pikir, lebih baik mengejutkanmu." Kata Elnos sembari duduk dibangku diseberang meja Dareen.


Dareen ikut mendudukkan dirinya dibangkunya sendiri, mengulas senyuman dan kembali bertanya. "Kakak kemari bersama kak Yusa?"


Elnos mengangguk, "Aku juga mengajak Isya."


"Ngomong-ngomong, kapan paman Ason dan bibi Cass akan datang?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Sepertinya papa sampai besok. Untuk bibi Cass mungkin lusa, karena harus menunggu paman Gerald menyelesaikan pekerjaannya." Jawab Elnos membuat Dareen menganggukkan kepalanya paham.


"Ngomong-ngomong selamat untuk pernikahanmu. Maaf aku tidak bisa mengucapkan selamat secara langsung saat itu karena aku diburu oleh editor untuk menyelesaikan naskah terbaru." Kata Elnos benar-benar menyimpan rasa bersalah.


Jelas saja, dirinya memang sibuk, sangat sibuk waktu itu hingga bahkan tak sempat menghadiri acara pernikahan adik sepupunya sendiri. Meskipun telah memberikan hadiah, rasanya dia merasa sedikit bersalah dan menyesal tak bisa langsung hadir.


Dareen mengerti, "Tidak apa kak. Yang penting, kak Elnos harus menyempatkan waktu untuk mendampingi Riana dipernikahannya nanti. Sesibuk apapun kak Elnos, karena dia adik kak Elnos. Mengerti, ya?"


"Haha, baiklah-baiklah~ Aku mengerti, Reen." Kata Elnos.


"Lusa, dihari ulangtahun nenek, ajaklah suamimu untuk datang." Kata Elnos.


"Um, aku akan coba bertanya kepada Azra juga kak. Aku juga merasa tidak enak mengganggu pekerjaannya, dia sudah sangat sibuk akhir-akhir ini." Kata Dareen tenang.


Elnos memandangnya dan tersenyum, "Kalau begitu pastikan mengajak Aileen. Aku sudah lama sekali tidak melihat keponakanku yang imut itu. Dia sehat kan?"


Dareen mengangguk dan tersenyum. Mengobrol bersama dengan Elnos selama beberapa waktu, Elnos melihat jam tangannya dan berdiri untuk berpamitan.


"Sudah mengganggu pekerjaanmu terlalu lama Reen. Aku akan kembali, jangan lupa hadiah nenek harus sempurna~" Katanya.


"Tidak mengganggu kak, lagipula apa definisi hadiah yang sempurna itu?"


Elnos menggeleng. "Lupakan, sudahkah kamu pulang?"


Mendengar pertanyaan Elnos, Dareen tak mengucapkan sepatah katapun, yang membuat ruangan menjadi hening. Melihat keterdiaman Dareen, Elnos menghela napas dan memasang senyuman lembut dan memberi nasihat seorang kakak.


"Bagaimanapun, kamu harus pulang Reen."


Tak mendapatkan respon, Elnos menghela napas tanpa suara dan kembali bersuara, "Kalau begitu aku pergi, Reen."


Selepas pintu ruangannya tertutup, Dareen menunduk dan berucap samar ditengah ruangan yang senyap.

__ADS_1


"Tapi itu terlalu menyakitkan."



__ADS_2