Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 29: Accident In Marvolo Office


__ADS_3

"Bercanda."


Dareen membuka matanya secara tiba-tiba ketika dia menemukan sebuah boneka kecil menempel dipipinya. Dareen memutar bola matanya malas dan kemudian dengan tenang bangkit duduk, bersandar disofa dan mendengus.


"Sudah tua masih saja suka bercanda."


Marvolo menyeringai geli. "Aku belum tua, Alexa. Aku masih berusia 22 tahun jika kau ingat."


"Aku masih 14 tahun." Dareen melirik Marvolo, "Jadi siapa yang lebih tua diantara kita?"


Marvolo pada akhirnya menghela napas dengan kesedihan yang kentara sekali dibuat-buat. "Jadi artinya aku benar-benar kalah telak darimu?"


Dareen dengan tenang mengacungkan kedua ibu jarinya kearahnya sendiri. "Jelas saja."


"Ngomong-ngomong, aku akan pergi ke perusahaan. Mau ikut denganku?"


Dareen nampak berpikir selama beberapa waktu sebelum menganggukkan kepalanya. "Mau bagaimana lagi. Daripada aku tidak melakukan apapun selain berdiam diri disini. Tunggu sebentar."


Dareen dengan santai meninggalkan Marvolo yang menunggu diruang utama. Lima menit kemudian, Dareen turun dari tangga dan kembali dengan tampilan yang membuat Marvolo lagi-lagi geleng kepala. Bagaimana tidak?


Gadis itu mengenakan kaos putih berlapis jaket army sepinggang, Dareen memadukannya dengan celana jeans oversize yang menambah kesan tomboy-nya. Sepatu kets putih menambah penampilannya untuk semakin sempurna. Helaian rambut sebahunya dia biarkan tergerai dan anak rambutnya jatuh kedahinya. Meski tanpa polesan make up apapun, Dareen sudah nampak cantik alami dengan alami.


"Oke, jangan buang-buang waktu. Ayo pergi."


Mengikuti langkah Dareen, Marvolo mendengus geli. Mengapa dia justru serasa menjadi asisten dari nona kecil yang sombong?


"Nona, mohon lebih lambat saat berjalan."


Dareen mengabaikan Marvolo, menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya dan melangkah menuju lift. Dareen menekan tombol lif, melangkah masuk dan menunggu Marvolo masuk. Yang jelas, tidak lama setelah Dareen masuk, Marvolo turut masuk ke dalam lift yang tertutup dan membawa keduanya menuju basement tempat dimana kendaraan Marvolo terparkir.


Dareen mendesak Marvolo agar segera menyalakan mobilnya. Pria itu dengan sabar mengeluarkan kunci mobilnya dari saku jasnya dan menekan tombol yang kemudian membuat mobil berbunyi selama beberapa saat. Dareen melangkah menuju mobil mewah berwarna hitam itu dan dengan tenang duduk dibangku penumpang dan menunggu dibawa menuju perusahaan Marvolo. Marvolo yang duduk sendirian didepan menghela napasnya dan tersenyum.


Lagipula, duduk dibelakang lebih aman bagi Dareen. Jika terjadi kecelakaan yang jelas tidak pernah dia ingin terjadi, kondisi penumpang belakang tidak akan terlalu parah.


Tentu saja, sekali lagi Marvolo jelas tidak ingin kejadian itu terjadi.


"Apa kamu ingin mampir membeli camilan sebentar?"


Dareen menyentuh perutnya dan sedikit berpikir. "Frikandel. Aku mau mencobanya."


Marvolo melirik sekelilingnya ketika dia membawa mobilnya berkendara dijalanan dan berhenti didepan sebuah stand yang menjual makanan. "Kebetulan sekali ada didekat sini. Tunggulah sebentar."

__ADS_1


Dareen mengangkat ponselnya, bersandar dikursi mobil dan membiarkan Marvolo membeli makanan yang diinginkannya untuk mengisi perutnya. Tidak lama kemudian, pintu terbuka kembali. Marvolo melangkah masuk dan duduk dibangku kembali dibangku penumpang dan memberikan makanan yang dibawanya kepada Dareen yang menerimanya setelah meletakkan ponselnya kesamping.


Ia membuka bungkusan makannya dan melihat potongan-potongan makanan yang nampak seperti sosis didalam sebuah wadah stereofoam. Menggunakan tusukan yang sudah disediakan didalamnya, Dareen mulai mencicipi frikandel dan sedikit mengangkat alisnya.


"Bagaimana? Enak, kan?"


Dareen mendengus. "Tentu saja enak karena bukan kamu yang memasaknya."


"Aduh, kamu terlalu membuatku terlihat sangat buruk dalam memasak. Sebenarnya, aku sudah bertahan dengan masakanku sendiri selama bertahun-tahun lamanya dan aku masih baik-baik saja, kok. Setidaknya jarang dilarikan kerumah sakit."


Dareen mengunyah frikandelnya dan menatap Marvolo yang mengemudi dan merotasikan bola matanya dengan malas. Dareen memandang keluar jendela mobil sembari mengunyah makanan dimulutnya. Perjalanan cukup memakan waktu, namun tidak benar-benar begitu lama. Tepat ketika makanan Dareen habis, mobil itu berhenti dibasement sebuah bangunan yang Dareen ketahui sangat besar dan berkelas tinggi. Keluar dari mobil setelah mobil diparkirkan, Dareen melempar bungkus makanan kosongnya ketempat sampah dan mencuci tangannya di washtafel.


"Hm, sepertinya kamu menggaji karyawanmu dengan baik. Mobil mereka mewah-mewah semua."


Marvolo mengedikkan bahunya dan dengan tenang melangkah menuju lift. Dareen menyusulnya dan keduanya dengan segera menghilang di dalam lift.


Dentingan lift terdengar, dan Marvolo membawa Dareen keluar dari lift menuju lantai pertama. Lalu lalang para pegawai membuat Dareen sedikit mengerutkan alisnya dengan tidak senang. Ia memandang Marvolo yang segera disambut beberapa pria yang nampaknya adalah bawahan Marvolo dengan jabatan yang lebih tinggi diantara yang lain. Dareen meliriknya selama beberapa waktu sebelum dengan tenang melangkahkah kakinya melewati pintu putar untuk masuk lebih dalam keperusahaan milik pria itu.


Bangunan megah dan pilar tinggi menyambut Dareen pada pandangan bertama. Kaca-kaca yang menjadi dinding diperusahaan itu membuat Dareen untuk sesaat sedikit terpana.


"Perusahaannya memang besar."


Ia mengantongi kedua tangannya disaku jeansnya dan melangkah diantara para pegawai yang berlalu lalang membawa dokumen. Beberapa kali mereka menatap Dareen dengan tatapan penasaran dan dengan kerutan dialis mereka. Dareen memandang mereka dengan santai dan acuh.


Suara itu membuat Dareen menghentikan langkahnya. Ia mendongak, menatap wanita muda yang berdiri dihadapannya dengan sepasang manik yang menatap rendah dan tajam kearahnya. Dareen meneliti penampilan wanita itu. Helaian rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Bibir berlapis lipstik merah yang membuat mata Dareen sakit. Kemeja yang melekat pas ditubuhnya yang semampai dan meliuk dengan gaya yang nampak centil dan mendominasi dimata Dareen.


"Kau siapa?" Wanita itu bertanya sebelum berkata, "Dengar nak. Anak kecil dan orang asing dilarang masuk kesini dengan sembarangan. Sekarang keluarlah sebelum satpam mengusirmu, oke?"


Dareen meneliti penampilannya sekali lagi sebelum melangkah mundur. "Parfummu terlalu menyengat."


Mendengar apa yang dikatakan Dareen, wanita itu sedikit mengerutkan keningnya. Auranya semakin tidak enak dan dia menatap Dareen dengan tatapan yang semakin tajam.


"Nak, selagi aku masih bersikap baik, sebaiknya kamu berbalik dan pergi."


"Memangnya kamu siapa berhak mengusirku?" Dareen bertanya sembari menyilangkan tangannya didepan dada.


"Aku? Yang jelas bukan orang yang bisa kamu singgung disini. Sekarang pergilah."


Dareen melirik name-tag yang tersemat didada kiri wanita itu, dan ia berkata dengan nada suara yang tidak begitu ramah. "Veronica. Namamu?"


"Betapa tidak sopannya!"

__ADS_1


Veronica meraung marah karena bahkan Dareen tidak menggunakan embel-embel kakak, nona atau bu kepadanya yang masih muda. Dareen merotasikan matanya dan dengan gerakan acuh mengorek telinganya. "Aish, ada sesuatu yang menyumbat telingaku."


"Kau-"


Veronica hendak berkata sesuatu, namun suara keributan dibelakangnya membuat Veronica mengerutkan alisnya dan menoleh. "Mengapa kalian berkerumun dimejaku?"


Dentuman sepatu hak tingginya berbenturan dengan lantai ketika dia melangkah dengan tegas menuju mejanya yang berada diantara meja-meja yang lain. Orang-orang yang melihatnya segera menghela napas simpatik dan dengan segera memberinya ruang. Ada seorang pria yang berusaha mengutak atik komputer dimejanya.


"Apa yang kau lakukan?!" tanyanya dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


Pria itu juga merupakan karyawan yang ada disana. "Tadi komputermu tiba-tiba error. Aku berusaha menyelamatkan datamu sebelum terhapus semua."


Manik Veronica melotot dengan tatapan yang seakan tidak percaya. "Semua data pentingku ada disana! Kau harus bisa memperbaikinya atau tamatlah diwayatku! Semua pekerjaanku ada disana!"


Pria itu masih terus menggerakkan jarinya diatas keyboard dan diatas mouse-nya. Beberapa bulir keringat mengalir didahinya dan ekspresinya cukup tegas. Dengan penuh kegugupan, Veronica menggerakkan kakinya, menimbulkan bunyi ketukan yang menunjukkan kecemasannya. Veronica menggigit kukunya dengan cemas.


"Aduh."


Pria itu menghela napas tanpa daya dan menegakkan tubuhnya. "Maaf, Vero."


"Kenapa kau minta maaf?! Bagaimana dengan pekerjaanku?!" teriak Veronica.


Pria itu menghela napas. "Mau bagaimana lagi? Meski aku sudah berusaha mempertahankan data, virusnya menyerang dengan sangat ganas. Aku harus mengatur komputer ini supaya tidak mempengaruhi komputer lain dan tidak bisa mempertahankan datamu."


Veronica mencelos. "Bagaimana bisa? Masa depan dan pekerjaanku ada disana! Bahkan file yang harus kuserahkan nanti malam ada disana!"


"Kembalikan file-nya!"


Beberapa karyawan lain memandangnya dengan tatapan kasihan dan tatapan terganggu atas teriakannya. Kepanikan jelas tercetak diwajahnya yang hampir putus asa. Dareen memandang mereka sesaat sebelum melangkah dan memutar komputer kearahnya. Dibawah tatapan mereka, Dareen dengan tenang membungkuk dan mulai menggerakkan mouse, memeriksa komputer yang ada didepannya.


"Apa yang kau lakukan?! Kau bisa membuat komputerku semakin rusak!" Veronica meraung marah, mencoba meraih Dareen ketika pria muda yang berdiri disampingnya menahannya.


"Tunggu, file-nya ada yang kembali."


Manik Veronica membelalak, sementara manik Dareen mengerut. Ia semakin menunduk dan mulai menggerakkan jarinya diatas keyboard, mengetik serangkaian kode dideretan angka dan program yang asing sebelum mengklik mouse kembali dan dalam sekejab, semua data kembali ke komputer.


Dareen bahkan menghapus program berbahaya yang ada didalam komputer itu dan melirik Veronica sebelum berkata, "Kau mungkin tanpa sadar mengunduh file aplikasi yang berbahaya sehingga menimbulkan virus didalam komputer. Aku sudah memasangkan aplikasi pelindung, dan mulai sekarang berhati-hatilah dalam mengunduh aplikasi."


"Apalagi aplikasi kencan tidak berguna seperti ini."


Cemoohnya.

__ADS_1



__ADS_2