
"Reen, maafkan aku."
Wanita itu menyunggingkan senyuman tulus yang penuh dengan rasa bersalah. Dareen dapat merasakan angin berhembus dengan ringan dari jendela bertirai putih yang tersibak. Mengantarkan aroma kering dedaunan dan kehangatan dari mentari. Tidak ada yang lebih mendebarkan daripada merasa bahwa kamu bahkan tidak bisa bernapas disana.
"Reen, maaf."
Deg!
Terbangun secara tiba-tiba, ada cairan hangat yang mengalir sudut matanya. Ketika udara dingin dari AC kamar hotel yang menyala, dalam sekejap membuat air matanya dingin sedingin embun. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar yang buram. Setetes air mata lolos kembali, dan pandangan buramnya berkurang.
"Aku menangis?" gumamnya.
Ia mengangkat tangannya, menutup wajahnya dan bergumam dengan suara pelan. "Ah, aku sungguh tidak bisa melupakannya seberapa besar aku ingin melupakannya. Kary, kamu sungguh menyiksaku."
Dareen memiringkan kepalanya. "Dasar bodoh. Bagaimana aku bisa melupakannya? Dia kan saudariku."
Ada keheningan sejak kata terakhirnya jatuh. Ia menatap dinding kosong disampingnya dan pada akhirnya berdiri, berjalan menuju kamar mandi dan memilih untuk membersihkan diri dari keringat dingin yang melekat ditubuhnya.
Hampir setengah jam kemudian, Dareen keluar dengan balutan T-shirt hitam dengan celana selutut berwarna putih. Bersamaan dengan dering ponselnya yang menggema diruang sunyi itu. "Siapa ini?"
Ada nama yang terpampang dilayar ponselnya, Aileen.
Sebuah senyuman mengambang diwajah cantiknya. "Sayang??" Mendudukkan dirinya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, Dareen pertama kali membuka percakapan.
Suara disana sedikit memiliki keceriaan. [Mama, Aileen sangat merindukan mama!]
Mendengarnya, Dareen mengulas senyuman. "Mama juga merindukan Aileen. Apa kamu sudah makan? Bagaimana harimu disana??"
[Aileen sudah makan 2 kali, ma. Sebentar lagi Aileen akan makan lagi. Grandma dan grandpa bermain dengan Aileen. Kemudian, aunty Vell mengajak Aileen bermain di taman hiburan tadi!]
"Pasti menyenangkan ya~"
[Mama kapan pulang?]
Dareen melihat keluar jendela. "Dua hari lagi mama akan pulang, ya? Pekerjaan mama belum selesai. Tapi mama janji, mama akan membawakan Aileen oleh-oleh saat kembali nanti. Apa yang Aileen inginkan?"
Aileen tampak diam selama beberapa saat. [Aileen ingin coklat, ma. Yang sebesar kasur Aileen.]
__ADS_1
Dareen tak bisa menahan tawanya, "Aileen bisa sakit gigi jika makan coklat sebesar itu."
[Hehe, pokoknya mama harus cepat kembali, yaa~]
"Mn, sudah waktunya makan, kan? Mama matikan, ya?" Dareen berkata dengan lembut.
[Iya ma. Aileen sayang mama!]
Dareen menunggu selama beberapa detik sebelum menjawab dengan suara lembut. "Mama juga menyayangi, Aileen."
Kemudian, panggilan berakhir, bersamaan dengan sepasang manik jamrud yang menatap pada kertas persegi panjang tebal berwarna hitam diatas nakas meja kamar hotel yang ditempatinya.
...***...
Lowsmoon Hotel, Amsterdam
Pukul 10.30, cahaya lampu hotel menerangi setiap sudut. Bahkan meskipun itu sudah larut malam, orang-orang tidak akan sadar karena cahaya yang begitu menyilaukan dan begitu terang. Jajaran mobil mewah, limousine, lamborghini, roll-royce, dan mobil berharga fantastis lain secara bergiliran masuk melalui gerbang depan dan berhenti didepan aula masuk, sebuah pintu gerbang besar dengan karpet merah yang terbentang dari ujung ke ujung.
Lostalion Award.
Limousin hitam itu berhenti didepan bangunan. Ketika kedatangannya, para kameramen secara hampir bersamaan menjeda kamera mereka. Penjaga disekitar memastikan bahwa tidak ada oknum yang tetap menyalakan kamera baik kamera biasa maupun kamera ponsel. Kemudian,mereka tak lepas memperhatikan kedatangan seseorang ketika pintu mobil terbuka.
Sepasang kaki ramping beralaskan heels cream menapak diatas karpet merah. Gaun semi abu-abu dengan bagian bawah terpadukan warna azure gelap melapisi tubuh ramping wanita itu. Dareen, dengan helaian rambut piringnya yang ditata sedemikian rupa, membentuk tatanan rambut yang sederhana, namun membuatnya bak seorang peri.
Ramai bisikan terdengar, "Siapa dia?"
"Sungguh cantik!"
"Aku baru melihatnya, juga. Kupikir dia seharusnya orang penting, karena foto maupun videonya tidak boleh sampai bocor ke publik. Ketua mengatakan siapapun yang berani memotretnya diam-diam dan mempublikasikannya, akan mendapatkan hukuman berat."
Seseorang disebelahnya tadi bergumam, "Wahh~ Kira-kira siapa dia ya? Dengan wajah seperti itu, bukankah dia bisa menjadi top model? Jika disembunyikan, bukankah akan sia-sia?"
Lawan bicaranya menyahut, "Yang penting kita turuti saja perintah ketua. Kita orang kecil hanya perlu menuruti atasan untuk menyelamatkan pekerjaan kita. Jangan sampai mencari masalah."
Yang satunya mengangguk paham. "Ya, aku paham. Aku hanya heran. Dunia orang kaya memang sulit dimengerti."
...***...
__ADS_1
Dengan langkah tegap, Dareen berjalan memasuki gedung bertingkat megah itu. Sepasang manik zamrud menatap sekelilingnya sesaat, sebelum sebuah suara menghentikan langkahnya. "Alexa?"
"Benar! Alexa! Sungguh suatu kebetulan bertemu denganmu diacara kecil ini!" Pria itu berbicara dengan suara yang cukup keras, hampir membuat atensi orang-orang disekelilingnya tertuju padanya.
Dareen menggulung senyuman dan mengambil satu gelas wine dari tangan pelayan dan memandang pria itu. "Hai, Wille. Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?"
Wille Leoparde—pria bersetelan jas abu, tertawa. "Haha! Seperti yang bisa kaulihat. Sangat baik. Aku menjadi pengusaha kecil. Kau bisa berkunjung kapanpun ke perusahaanku, oh, dan jangan lupakan untuk membawa hadiah."
Dareen terkekeh, "Kau berkata pengusaha kecil. Tapi kau bisa masuk kesini."
"Bukankah benar? Aku akan malu mengakui perusahaanku besar di hadapan boss besar sepertimu. Terus terang, aku masih tetap terkagum-kagum saat ingat jika kamu adalah penerus Parvaita Corp."
Dareen menggelengkan kepalanya, "Apakah kamu menghinaku?"
"Aku bercanda! Hanya bercanda!" Sembari tertawa, dia menatap sekelilingnya. "Jika kamu mencarinya, beliau ada di lantai atas. Kamu bisa masuk kesana."
Dareen mengangguk. "Mn, aku akan pergi. Nikmati kesuksesanmu sebagai agensi modeling terbesar, Wille."
Wille mengedip, "Tentu saja."
...***...
Melangkah dikoridor panjang, Dareen berhenti didepan sebuah lift. Ada lambang unik dipintu lift, bunga matahari. Ada dua penjaga yang berjaga di depan lift, dan melihat kedatangan Dareen, mereka mengadangnya. "Anda tidak diizinkan untuk memasuki lift ini. Silakan cari lift lain."
"Mengapa tidak?" Dareen bertanya dengan alis mengerut.
"Bukan urusan anda. Tapi sebaiknya anda segera pergi." Jawab penjaga itu dengan acuh.
Dareen menatap keduanya. "Minggir."
Namun kedua penjaga itu tak bergeming. Dareen hendak bersuara lagi tepat ketika sebuah suara datang dari arah belakang Dareen. "Nona Alexa?"
Dareen menoleh. Ada seorang pria setengah baya didepan sana, mengenakan setelan rapi. Ia mengerutkan alisnya bersamaan dengan dua penjaga dibelakangnya yang segera membungkuk hormat. "Tuan Arsein."
"Lama tidak bertemu, Arsein."
__ADS_1