Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 17: Losing Control


__ADS_3

Manhattan Four Zoo


Ditengah hiruk-piruk pengunjung kebun binatang itu, Azraell mengajak Aileen dan Jullian untuk duduk dibangku panjang ditaman kebun binatang untuk beristirahat setelah cukup lama berkeliling dan melihat-lihat binatang yang berada disana. Dengan sepotong es krim strawberry ditangan kanannya, Aileen mengayunkan kakinya dengan gembira.


Benar-benar menggemaskan dimata semua orang yang melihatnya.


"Apa Aileen senang?" Azraell iseng bertanya, tetapi melihat respon Aileen yang mengangguk layaknya ayam mematuk beras membuatnya terkekeh geli.


"Aileen sangat senang! Pertama kalinya Aileen kekebun binatang, bersama papa Azra!" ungkap Aileen. Ia sedikit memelankan suaranya, "Benar-benar papa."


Azraell menatap Aileen. Anak laki-laki itu melanjutkan menikmati es krimnya dengan Jullian disampingnya yang melakukan hal sama, dengan sesekali mengamati sekelilingnya. Jika dipikirkan, Azraell bahkan tidak tahu siapa ayah dari Aileen. Apakah dia seseorang bernama Lyon yang pernah disebutkan Aileen sewaktu?


Azraell membuka bibirnya, "Aileen. Siapa ayah kandung—"


"Ah! Aileen, lihat itu!" seruan Jullian menyela perkataan Azraell. Membuat atensi Aileen sepenuhnya teralihkan pada apa yang ditunjuk Jullian, bahkan sebelum anak enam tahun itu sempat mendengar perkataan Azraell.


Aileen nampak mengikuti arah jari telunjuk Jullian, menyipitkan mata dan menggulirnya berulang kali. "Ada apa, kak? Ada apa?"


"Ada maskot. Ayo berfoto bersama." Ajak Jullian membuat manik Aileen berbinar.


Ia bertanya, "Apa boleh berfoto dengan maskot?"


"Tentu saja boleh." Jawaban Jullian membuat Aileen memekik senang sebelum dengan riang berlari menghampiri maskot beruang yang ada ditaman kebun binatang itu.


Jullian berdiri, menyusul Aileen sesudah mengatakan sesuatu kepada Azraell. "Aileen tidak pernah tahu siapa ayahnya bahkan sejak dia lahir. Tolong, paman lebih menjaga perasaannya. Sedikit saja, tidak apa."


Azraell termangu.

__ADS_1


Bagaimana mungkin Aileen tidak mengetahui siapa ayah kandungnya sendiri? Apakah mungkin Dareen tidak memberitahu putra semata wayangnya itu selama ini?


Azraell meraih ponselnya dan nampak mencari kontak Dareen untuk menelpone-nya. Sampai gerakannya terhenti seketika. Pernikahan ini hanyalah pernikahan kontrak. Diperjanjian mereka dijelaskan bahwa keduanya tidak akan mengorek informasi pribadi pihak lain, dan tidak ikut campur pada kehidupan pihak lain.


"Hah!" Menghela napas, Azraell menurunkan kembali ponselnya dan menatap Aileen.


Itu akan melanggar kesepakatan yang mereka buat. Tetapi untungnya, dia tidak lepas menanyakan siapa ayah kandung Aileen padanya. Atau, Azraell tak bisa membayangkan wajah sedih seperti apa yang dipasang Aileen.


"Sayang!"


Mendengar suara yang akrab dipendengarannya, Azraell menoleh dan melihat seseorang mendekatinya. Perempuan itu memiliki topi dan masker yang menutupi wajahnya. Ditambah dengan kacamata hitam yang bertengger manis dihidungnya, itu membuat wajahnya jauh lebih sulit dikenali.


Dia mengenakan mantel hitam panjang dengan kaos tipis yang memperlihatkan pinggang dan pusarnya. Sementara bawahannya, ia menggunakan celana setengah paha berbahan jeans.


Sulit bagi orang lain untuk mengenalinya, tapi Azraell tahu jelas siapa dia.


Pria itu menatap sekelilingnya, memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang dikenalnya disana, sebelum menyambut pelukan sang kekasih. "Sayang, bagaimana kamu bisa sampai kesini?"


Eri mengeluh dengan manja. "Apa aku tidak boleh mendatangimu? Senang berjalan-jalan dengan istri dan putramu?"


"Aku hanya membawa Aileen kesini karena aku sudah berjanji padanya, sayang. Walaupun Dareen mengerti, tetapi anak itu masih kecil dan yang ia tahu bahwa aku dan Dareen benar-benar menikah. Dan dia butuh aku sebagai sosok ayah." Ucap Azraell menjelaskan.


Meskipun tidak memperlihatkan ekspresinya, namun Azraell tahu bahwa kekasihnya itu sedang kesal. "Kamu selalu tahu, jika aku hanya mencintaimu. Dia hanya anak kecil."


Eri menerima genggaman tangan Azraell dan perlahan menganggukkan kepalanya. "Yah, lagipula dua tahun lagi kalian akan berpisah. Setelah itu, berjanjilah untuk segera menikahiku, Zra!"


Azraell membawa tangan Eri untuk dikecup ringan. "Apapun untukmu. Bersabarlah, oke?"

__ADS_1


Eri menganggukkan kepalanya. Tak menyadari, bahwa saat ini, Jullian yang kembali dari membeli sebuah balon tak mendapati Aileen ada di garis pandangannya.


Aileen menghilang!


...***...


Didalam mobilnya yang membelah jalanan dengan kecepatan diatas rata-rata, Dareen mampu mendengar jantungnya berdentum dengan liar. Pikirannya berkelana mengkhawatirkan keadaan Aileen yang dikabarkan hilang oleh Jullian beberapa waktu lalu.


"Aileen, semoga kamu baik-baik saja, sayang!" gumam Dareen sembari menginjak pedal gas lebih kuat, hingga mobilnya melaju dengan cepat.


Entah keangka berapa jarum spedometer menunjuk, Dareen nampak tak peduli. Yang ada dipikirannya saat ini adalah menemukan Aileen. Hanya untuk mengetahui bahwa Aileen baik-baik saja. Tetapi karena ketidakfokusannya, perempuan 24 tahun itu tak memperhatikan bahwa ada sebuah mobil yang melaju dari arah lain dipertigaan jalan itu.


Dareen yang terkejut memiliki refleks untuk membanting stir, namun apa yang menyambutnya adalah pohon ditepi jalan.


BRAK!


...***...


"Mama.."


Anak itu meringkuk dibalik dinding. Tidak ada siapapun disana, hanya ia yang menyembunyikan air matanya dibalik lengannya. Ia bisa menyembunyikannya, namun sepasang bahu yang bergetar itu tak bisa menyembunyikan seberapa besar kesedihannya.


Untuk saat ini, Aileen hanya butuh waktu untuk menangis.


Hanya sebentar.


__ADS_1


__ADS_2