
"Papa Lyon?!" kaget Aileen sebelum berubah menjadi keceriaan.
Aileen berlari dan memeluk Lyonne yang masih berdiri didepan pintu. "Halo Aileen~"
Melihat sahabatnya datang, Dareen tersadar dari sedikit keterkejutannya dan berkata pada Lyonne. "Lyon? Masuklah dulu."
Mempersilakan Lyonne memasuki apartemennya, Lyonne dengan sopan masuk dan duduk disofa yang memang disediakan untuk menerima tamu juga sebagai ruang utama.
"Lyone, ada apa kamu kemari pagi-pagi?" tanya Dareen keheranan.
Lyonne memandang Dareen dan tersenyum, "Maaf aku datang pagi-pagi bahkan tanpa memberi kabar. Kemarin aku mengantarkanmu dan Aileen, jadi pasti mobilmu masih ada diperusahaan tempatmu bekerja bukan? Dan kupikir suamimu pasti juga akan berangkat keperusahaannya sendiri. Jadi karena itu aku berpikir untuk mengantarmu keperusaan."
Dareen merasa tidak enak, "Seharusnya kamu tidak perlu repot menjemputku Lyon. Aku dan Aileen bisa pergi menggunakan taksi. Pekerjaanmu pasti akan tertunda."
Lyonne menggeleng, "Tidak menunda pekerjaanku sama sekali. Lagipula aku disini juga bukan untuk bekerja."
"Karena ternyata kamu tidak bekerja dan akan menemani Aileen, aku akan mengantar kalian. Jika begitu, urusan mobil biar aku yang mengurusnya."
Dareen baru saja hendak membuka mulutnya ketika Lyonne menyelanya, "Tidak ada bantahan, Reen. Biar aku yang mengurusnya, jangan menolak bantuanku, oke?"
"Baiklah. Terima kasih Lyon," kata Dareen.
Lyone mengangguk. Sedari tadi mendengarkan Aileen menyembulkan kepalanya dari balik sofa yang diduduki Lyonne dan bertanya, "Jadi papa Lyon bakal anterin Aileen dan mama kesekolahan Aileen?"
"Mn, Aileen mau?" tanya Lyonne membuat Aileen menyunggingkan senyuman lima jari.
"Mau!!"
...***...
Didepan bangunan NES, Dareen tersenyum tak berdaya pada Lyonne dan beralih memandang Aileen yang sedari tadi menempel pada Lyonne, "Aileen. Ayo pergi masuk. Kasihan paman Lyon tidak diperbolehkan pergi."
Aileen memegang tangan Lyonne dan menggeleng, "Ma~ Apa papa Lyon boleh ikut masuk? Aileen mau papa Lyon menemani Aileen didalam~"
"Aileen, jangan begitu sayang. Paman Lyon kesusahan karena Aileen, lepas ya sayang~" kata Dareen lembut.
Mendengar perkataan Dareen, Aileen menurunkan matanya, perlahan-lahan melepaskan tangan Lyonne dan mendekat kearah Dareen. Dareen meminta maaf pada Lyonne, sementara Aileen memandang sekelilingnya dengan tatapan samar. Disekelilingnya, anak-anak seusianya dikelilingi oleh ayah dan ibu mereka masing-masing.
__ADS_1
Dikelilingi oleh, keluarga yang lengkap.
"Umm, apa aku boleh bergabung dengan kalian Reen? Bagaimana ini, aku ingin ikut menemani anak laki-laki manis disini~" kata Lyonne sembari menjatuhkan tangannya diatas kepala Aileen dan mengacaknya lembut.
Manik Aileen beralih memandang Lyonne dan tak bisa menahan binar cerah.
"Tapi ..." Ragu Dareen tersela Lyonne.
"Ayolah Reen~" mohon Lyonne.
Aileen disampingnyapun turut memasang wajah penuh harap. Dua wajah penuh harap dan penuh kilau itu terlalu berat bagi Dareen meskipun ia telah memejamkan matanya. Menghela napas, Dareen mengangguk.
"Baiklah, maaf merepotkanmu untuk hari ini Lyon." Ujar Dareen.
Aileen tertawa senang, sementara Lyonne tersenyum gembira selepas beradu ringan kepalan tangan dengan Aileen.
Ketika ketiganya berjalan memasuki gedung sekolah bersama pasangan orangtua anak yang lainnya, banyak orang memandang kearah mereka bertiga. Jujur atau tidak, faktanya orang-orang melihat bahwa Aileen seperti percampuran antara Dareen dan Lyonne. Sepasang manik hijau yang mirip milik Dareen, dan helaian surai legam seperti milik Lyonne.
Beberapa wanita bahkan nampak kagum dengan ketampanan dan kecantikan pasangan yang nyatanya bukan pasangan itu.
"Mereka terlihat sangat serasi~"
"Bukankah mereka terlihat masih begitu muda? Berapa usia mereka?"
Mendengar bisikan-bisikan itu, Dareen sedikit menurunkan matanya. Memandang kosong sesaat kebawah, sebelum menerbitkan senyuman tipis dan kembali melangkah selepas melihat Aileen yang memandangnya dengan senyuman. Benar, Aileen putranya. Satu-satunya kebahagiaan yang dia miliki.
Setelah berjalan beberapa saat, ketiganya dan pasangan orangtua anak lainnya sampai diaula NES yang luas. Aileen menyuruh mereka duduk dibangku paling depan, dan berkata beberapa kata sebelum pergi kebelakang panggung untuk menyiapkan pertunjukan dihari ulang tahun NES ini.
"Mama, Aileen pergi siap-siap dulu ya. Mama jangan lupa tepuk tangan ya, nanti~"
Dareen mengangguk, "Baiklah~ Mama pasti akan bertepuk tangan dan memanggil nama Aileen dengan keras nanti. Tampil dengan baik ya~" Katanya.
"Siap ma! Papa Lyonne, jangan lupa tepuk tangan juga ya~" peringat Aileen pada Lyonne.
Lyonne menepuk dadanya pelan, "Sebagai laki-laki! Papa Lyon akan bertepuk tangan paling keras. Jangan membuat mamamu malu ya, boy?"
Aileen berkacak pinggang dan memanjangkan hidungnya, "Jangan meremehkanku papa Lyon~ Papa Lyon akan termangu kagum melihat Aileen nanti~"
__ADS_1
"Bagaimana ini, papa Lyon tidak sabar melihat Aileen tampil~" ujarnya.
Mendengar itu, Aileen tertawa. Melambaikan tangannya dan berlari menyusul teman-temannya kebelakang panggung yang telah dinaiki sang kepala sekolah yang telah berpidato selama beberapa saat guna membuka acara hari ulangtahun NES pada hari itu.
Acara itu telah berlangsung cukup lama. Hingga kini, acara inti dimulai. Beberapa penampilan panggung dari beberapa kelas dan personal membuat orangtua disana bertepuk tangan meriah, mengapresiasi keberanian dan penampilan anak-anak mereka.
"Selanjutnya, adalah siswa kami yang berani dan luar biasa dari kelas 1A. Aileen Alexander Parvaita, yang akan menyanyikan lagu Thank You Mom." Kata pembawa acara dengan meriah.
Dibangkunya Dareen meremat kedua tangannya, benar-benar mendoakan penampilan Aileen, agar putranya itu tidak gugup. Dibelakang panggung, setelah namanya dipanggil, Aileen menghela napas dan melangkah ketengah panggung. Memegang microphone yang diberikan oleh sang guru yang sesaat menyemangatinya. Ratusan pasang mata memandangnya, dan ada sedikit kegugupan yang dirasakannya. Namun begitu ia melihat Dareen, perasaannya menjadi lebih tenang.
Menarik napas, Aileen mulai membuka bibirnya untuk melantunkan lirik demi lirik lagu yang telah dipilihnya sejak jauh-jauh hari.
Dipertengahan pagi dan siang hari yang cerah, suara susu yang lembut dan manis terdengar menyanyikan lantunan melodi yang nyaman. Suaranya masih terus keluar, membawa rasa haru yang entah bagaimana menusuk kalbu bagi para ibu yang ada disana. Bahkan hampir semua berusaha untuk tidak menitikkan air mata, menyeka sudut matanya dengan tissue dan menyunggingkan senyuman lembut.
Dibangku penonton, Dareen menutup bibirnya dengan erat, mengunci suara isakannya. Air matanya mengalir terus menerus, mambasahi kedua pipinya dan dagunya. Sepasang manik yang berlinang air mata, memandang Aileen yang berdiri teguh menyanyikan lagu penuh ketulusan dan penuh perhatian.
Disisinya, Lyonne menurunkan matanya. Ekspresinya rumit dan sedih, memandang pundak dan punggung bergetar Dareen yang berusaha menahan isakannya. Menahan semua perasaan dan emosi yang tersimpan didalam hatinya.
"Reen," tanpa sadar, Lyonne mengulurkan tangannya dan memeluk Dareen yang masih menangis.
Menepuk punggung tipisnya dengan perhatian, dan sesekali menenangkannya dengan bisikan. "Suara Aileen sangat merdu. Jangan menangis, hey~ Tersenyumlah, atau Aileen akan merasa sedih di depan sana."
Dibawah lantunan suara manis Aileen, Dareen perlahan menyeka air matanya dan secara bertahap menarik bibirnya membentuk kurva melengkung yang sempurna.
Melodi terakhir, Aileen menutup bibirnya, memandang Dareen yang memandangnya dengan senyuman meskipun berlinang air mata. Aileen menyunggingkan senyuman, membungkuk dan mengucapkan terima kasih sebelum berlari menuruni tangga dan menerjang Dareen dengan pelukan erat.
"Mama, Aileen sayang mama!" ujarnya.
Dareen memeluk Aileen dengan erat dan berbisik, "Mama juga sayang Aileen."
Momen itu bagaikan sebuah lukisan. Ibu dan anak yang berpelukan erat dibawah sinar mentari yang hangat dimusim gugur, dan seorang pria yang memandang keduanya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Orang-orang memperhatikan mereka dengan senyuman dan menganggap bahwa mereka adalah pasangan orangtua yang begitu baik.
Sayangnya, apa yang terlihat tidak selalunya adalah apa yang benar dipikirkan.
Dareen memejamkan matanya dan membatin didalam hatinya, "Aku melihatnya. Aku melihat kamu sepenuhnya dalam Aileen."
__ADS_1