Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 21: Fear And Anxiety


__ADS_3

Aprodithe Apartement


"Kamu lebih membelanya, Zra? Aku ini kekasihmu!"


Suara Eri melengking memenuhi ruangan kedap suara diapartemennya. Kerutan didahinya menandakan ketidakpuasannya akan sikap Azraell yang justru menginterogasinya, dan seakan menuduhnya telah melakukan kesalahan.


Azraell menggelengkan kepalanya. "Tidak, sayang. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Dareen sampai ingin menamparmu?"


Eri menepis tangan Azraell. "Tidakkah kamu melihat bahwa dia memang mencoba menyakitiku? Dia mau menamparku Zra! Lihat!"


Dia menunjukkan tangannya yang memiliki jejak kemerahan samar. "Dia bahkan sudah menampar tanganku sampai merah! Aku yang jadi korban disini Zra. Kenapa kamu seakan tidak percaya padaku?"


"Apa kamu sudah mulai menyukainya?!" tuduh Eri dengan manik berkilat oleh air mata.


"Aku tidak menyukainya, sayang. Aku hanya mencintaimu." Kata Azraell sembari menggenggam tangan Eri.


"Jika kamu cinta padaku, mengapa kamu menuduhku?! Aku tidak melakukan apapun. Dia yang memulai semuanya. Petugas mendatangiku bersama anak itu. Dan dia mengira aku penculik! Bahkan mencoba menyakitiku." Kata Eri.


Azraell menarik Eri dalam dekapannya dan mengucapkat permintaan maaf berkali-kali. "Maaf. Aku percaya padamu, aku percaya."


Meski kata itu terucap dibibirnya, batinnya berkata lain. "Apa benar Dareen melakukan hal itu? Dia wanita yang bahkan memiliki ketenangan lebih daripadaku. Apa benar?"


Sementara disisi lain, Aileen yang tengah berbaring ditempat tidurnya. "Mama temani Aileen sampai Aileen tidur ya?"


Perempuan berambut blonde itu menarik selimut hingga mencapai leher Aileen dan menepuk pelan lengannya, memberinya kenyamanan dan kehangatan yang dibutuhkan. "Tentu sayang. Sekarang pejamkan matamu, dan tidurlah."


Wanita itu melihat Aileen memejamkan matanya dan tangannya bergerak menepuk pelan Aileen dengan senyuman diwajahnya. Dia mulai bersenandung lembut. Mengantar Aileen pada mimpi indah yang memuatnya tersenyum dalam lelapnya. Bersenandung lebih lama, Dareen berhenti. Memandang wajah Aileen sebelum bangkit berdiri dan berjalan menjauh.

__ADS_1


Menutup pintu, Dareen menghela napas dan menempelkan dahinya kepintu selama beberapa saat. Sebelum pada akhirnya, ia menarik dirinya menjauh. "Tenanglah Reen, Aileen sudah baik-baik saja."


...***...


"Pagi mama yang cantik~" Keluar dari kamarnya menuju ruang utama yang berbatasan langsung dengan pantry, Aileen menyapa wanita yang tengah berkutat dengan peralatan dapur dan bahan masakan yang tertata apik diatas meja.


Dareen menoleh dan memasang senyuman pada Aileen yang telah mendudukkan dirinya diatas kursi. "Anak mama sudah siap ternyata. Maukah Aileen menunggu sebentar? Supnya belum matang."


"Tentu, ma!" Aileen tidak luput meninggalkan senyumannya.


Setelah jawaban terakhir Aileen, sup matang tak lama kemudian. Pasangan ibu dan anak itu kemudian menikmati sarapan mereka bersama dengan suasana hangat sebelum Dareen membawa Aileen kemobilnya untuk mengantar anak enam tahun itu kesekolahnya.


"Aileen yakin tidak meninggalkan apapun?" Didalam mobilnya yang berhenti diparkiran NES, Dareen memandang Aileen dan menanyakan pertanyaan tersebut.


Aileen menggeleng dengan yakin. "Tidak ada, ma."


"Kalau begitu bersenang-senanglah hari ini," ucap Dareen.


"Mama juga sayang Aileen."


Setelah memberikan lambaian tangan, Aileen berlari memasuki gedung NES dan menyisakan jeritan girang anak-anak yang berlarian memasuki gedung NES. Dareen melepaskan pandangannya setelah beberapa saat dan pergi.


...***...


Vita Corp


"Kamu akan pergi? Kemana? Bagaimana dengan Aileen? Kamu akan mengajaknya? Berapa lama kamu pergi? Bagaimana dengan urusan kantor?" Anye bertanya secara membabi buta kepada Dareen yang sedang berkutat dengan tumpukan kertas yang baru saja dia berikan.

__ADS_1


Dareen yang mendengarnya saja sampai pusing dibuatnya. Ia menarik selembar kertas, memeriksanya sembari berkata. "Aku memiliki sesuatu yang harus dilakukan diluar negeri. Aku berencana menitipkan Aileen ditempat orangtua Azra . Mungkin tidak lama, aku hanya butuh beberapa hari, paling lama empat hari."


"Apa itu urusan pribadi?" tanya Anye membuat Dareen mengangguk.


Anye cepat mengerti dan menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan meminta Fimala menggantikanmu mengerjakan file presentasi dirapat dengan CEO MicLCorp."


"Terimakasih, Lie."


Anye mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku akan kembali bekerja. Kuharap kamu tidak akan melupakan oleh-oleh untukku, Reen. Daah, bersemangatlah!"


Memandang Anye yang melangkah mundur menuju pintu dengan wajah penuh ekspresi, Dareen turut menyunggingkan senyuman. Membuat Anye melambaikan tangannya sesaat sebelum keluar dan menutup pintu ruangan Dareen.


Tak!


Pena ditangannya terjatuh karena gemetar yang nampak terlihat samar disepasang tangan putih nan ramping itu. Tatapan Dareen perlahan menjadi tidak fokus. Dan air mukanya memperlihatkan jejak kecemasan. Setelah beberapa saat berlalu, ia menekan kontak Emma dan melakukan panggilan telepon. Sebelum Dareen bisa berkata-kata, wanita diseberang sana sudah lebih dahulu menyerbu Dareen dengan pertanyaan.


[Reen, apa kamu dan Aileen baik-baik saja?! Kamu pergi dengan sangat panik tadi. Apa terjadi sesuatu?]


"Yah, maaf untuk yang terjadi kemarin. Ada sedikit masalah yang terjadi, tetapi sepertinya sudah selesai." Dia menjeda perkataannya sembari mendengar Emma menghela napas lega. "Aku ingin meminta bantuanmu, Emma."


[Bantuan apa, Reen? Katakan saja. Aku akan melakukannya selama aku bisa.]


"Bisakah kamu memberitahuku alamat Chisa?" Ucapnya.


Ada keraguan yang terdengar dari suara Emma. [Untuk apa Reen? Apa kamu ingin menemuinya?]


"Aku akan membutuhkannya. Tolong kirimkan segera padaku." Kata Dareen sebelum menutup panggilan telepon itu secara sepihak.

__ADS_1


Ia menyugar rambutnya dengan sikunya yang bertumpu diatas meja. "Maaf Aileen. Mama harap kamu mengerti, mama, akan melakukan segalanya untuk menjaga dan melindungimu." Gumamnya sebelum suaranya tertelan bisu.



__ADS_2