Istri Sempurna Azraell

Istri Sempurna Azraell
Bab 12: Childhood Story


__ADS_3

Queens, New York


Pohon mapel ditanam disekeliling jalan yang ramai dan luas. Dedaunan sesekali berguguran kala angin dingin dipertengahan bulan Oktober itu berlalu, mengabarkan pengaduan dan keluh kesah dari sisa musim semi. Rolls-Royce Sweptail yang dihargai dengan harga fantastic itu melaju dijalanan yang dipadati kendaraan. Tak jarang mengundang perhatian pengguna jalan lain, tak berani mendekat karena takut untuk menggores, bahkan untuk menyentuh.


"Kenapa menggunakan mobil ini?" tanya Dareen yang sedikit bingung pada Azraell, mengapa menggunakan mobil semewah ini untuk mengantar mereka, ini sedikit menimbulkan perhatian beberapa pengguna jalan.


Azraell mengedikkan bahunya, "Aku akan mengantar Eri. Dan dia memintaku untuk membawa mobil yang nyaman. Kupikir, mobil ini cukup nyaman."


Dareen mengernyit, "Bukankah yang warna merah lebih nyaman?"


"Benarkah? Aku belum pernah mencobanya. Aku akan coba pakai lain kali." Kata Azraell membuat Dareen mengangkat alisnya sekali.


Memandang kebelakang, Dareen mendapati Aileen sedang tertidur. Sebenarnya jarak Manhattan dan Queens tidaklah begitu jauh, hanya memakan waktu setengah jam. Namun, sejak semalam Aileen begitu bersemangat membahas ulangtahun sang nenek hingga lupa waktu, dan mengantuk sekarang. Itu sebentar lagi akan sampai, jadi Dareen membangunkan Aileen dengan sedikit guncangan. "Aileen, bangun sayang."


"Mnn? Kita sudah sampai ma?" tanya Aileen sembari menguap.


Dareen mengangguk, "Mn. Bangun dan bersiap-siaplah, Aileen."


Aileen menganggukkan kepalanya. "Baik ma!"


Rolls-Royce itu memasuki sebuah bangunan bergaya classik bertingkat dua. Bangunan itu cukup besar, dengan tanaman hias yang menjalas dan diletakkan dengan sengaja untuk mempercantik rumah diperumahan Angeles itu. Pemandangan jalanan yang tenang, dedaunan yang berguguran dan burung-burung yang sesekali melintasi cakrawala yang biru nan cerah. Itu ada diingatan Dareen.


Ada beberapa mobil lagi terparkir dipekarangan luas rumah itu. Melangkah turun, Dareen mendengar derap langkah kaki dari dalam dan mendapati beberapa orang yang dikenalnya muncul.


"Kak Dareen!!" Pekik salah satu dari mereka langsung menerjang Dareen dengan pelukan.


"Kya~ Kak Dareen semakin cantik saja! Oh, dan lihat siapa ini? Keponakan aunty yang manis~" kata perempuan itu.


Dareen tersenyum, "Selly. Bagaimana kabarmu?"


Perempuan itu adalah Selliana, adik perempuan dari Elnos. "Baik kak! Beberapa waktu yang lalu aku sempat dipusingkan dengan proyek kampus. Untunglah segera selesai~"

__ADS_1


"Mn," gumam Dareen sembari mengangguk dan jangan melupakan senyumannya yang lembut.


"Halo kak Azra," sapa Sellina pada Azraell yang tengah membantu menurunkan koper dari dalam bagasi.


Azraell menjawabnya dengan singkat dan dengan nada dingin andalannya, "Halo."


Mendengar itu, Sellina bergidik dan bergabung kembali bersama Dareen, "Kak Reen. Bagaimana kamu bisa menikah dengan kulkas berjalan itu? Lihat wajahnya, sangat dingin."


"Ah, ngomong-ngomong waktu itu hanya mama, kakak ipar dan bibi yang bisa menghadiri acara pernikahanmu. Maafkan aku ya kak, aku benar-benar tidak bisa datang saat itu~" kata Sellina membuat Dareen mengangguk.


Lagipula itu bukanlah pernikahan yang sesungguhnya diinginkannya. Pernikahan kontrak, yang akan berakhir dalam hitungan tahun itu tak perlu didatangi oleh orang-orang terpenting dihidupnya sebenarnya. Apalagi saat itu kakeknya memaksa datang, meskipun dilarang karena sedang tidak dalam kondisi yang baik, kakek dan neneknya hanya bisa melihat pernikahannya melalui videocall.


"Nenek Emi, kakek Luc!!" pekik Aileen kegirangan saat menyaksikan sepasang tua muncul dari pintu.


Aileen memeluk mereka berdua bersamaan, dan pasangan tua itu berkata dengan nada khas mereka. "Cicitnya nenek Emi. Bagaimana kabar kamu sayang?"


Aileen mengangguk dengan sepasang mata yang menyipit. Lingkaran pir dipipinya makin dalam, "Aileen baik nenek, kakek. Aileen kangen nenek Emi dan kakek Luc!"


"Haha, kakek Luc juga merindukan Aileen~ Kemarilah, biar kakek lihat bagaimana wajah cicit kakek~" kata Lucas sembari berjongkok dengan bantuan tongkatnya.


"Hihi, aku kan anaknya mama Dareen~" kata Aileen membuat Dareen diam tanpa merespon.


Dareen hanya tersenyum dengan lembut. Sementara disisi lain, Elnos melangkah mendekati Azra dan menyapanya. Keduanya bersama dengan Dianson dan Gerald masuk terlebih dahulu dan sibuk mengobrol tentang perusahaan dan semacamnya. Bagi Azraell, berbincang seperti ini biasa baginya, dan itu adalah obrolan yang seringkali terdengar membosankan baginya.


"Nak, paman menitipkan Dareen padamu ya," kata Dianson membuat Azraell teralihkan dari pikirannya.


Azraell tersenyum profesional dan mengangguk, "Saya adalah suaminya. Sudah kewajiban saya untuk menjaganya."


Dianson terkekeh dan kembali berbicara. "Walaupun Dareen terlihat acuh dan kadang mungkin terlihat tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya, namun dia sebenarnya sangat peduli dan baik dalam memahami perasaan orang lain. Dia sudah mengalami banyak hal, dan itu yang membuatnya berubah."


"Oh, apakah kamu ingin mendengar cerita lucu tentang Reen sewaktu kecil?" tanya Elnos pada Azraell.

__ADS_1


Azraell sendiri sejak dulu adalah orang yang tidak ingin dan tidak mau peduli pada urusan orang lain. Baginya, itu bukanlah sesuatu yang harus dia tahu dan sesuatu yang menarik bila diketahuinya. Itulah kepribadiannya dan itulah dirinya. Tetapi entah mengapa, Azraell yang biasanya tidak ingin peduli dengan urusan orang lain, ingin dan sedikit merasa penasaran dengan kehidupan Dareen.


Baginya, Dareen itu memang pribadi yang cukup misterius. Kehidupan wanita 24 tahun itu bahkan lebih membuatnya penasaran. Tentang siapa suami Dareen, siapa ayah Aileen, tentang mengapa orangtua Dareen tidak datang kepernikahannya saat itu. Jujur saja, ia belum sekalipun melihat seperti apa rupa ayah dan ibu dari Dareen. Yah, mungkin saja mereka terlalu sibuk sampai mungkin tidak bisa datang mendampingi putrinya. Saat itu, seorang pria yang tidak dikenalnya datang sebagai wali dari Dareen, seorang pria setengah baya yang setahunya adalah mantan dokter terkenal yang sekarang menjabat sebagai pengawas disebuah rumah sakit.


Tak banyak yang Azraell ketahui tentang wanita yang berstatus istrinya itu, kecuali bahwa Dareen adalah karyawan departemen umum di Vita Corp. Perusahaan besar yang ada diperingkat kedua setelah perusahaannya.


Memandang Dareen yang tengah berbincang dengan Cassandra, Azraell menganggukkan kepalanya, "Boleh."


...***...


"Benarkah?" tanya Azraell dengan sediit nada tak percaya.


Elnos tertawa dan memukul meja pelan. "Benar apa yang kukatakan! Dareen pernah menampar perundung disekolahan menggunakan paha ayam dipiring makannya. Anak itu entah bagaimana justru menjadi teman Dareen setelahnya."


"Sungguh, aku dengar setelah menampar anak itu dengan paha ayam, Dareen menangis karena paha ayamnya tak bisa lagi dimakan." Kata Elnos.


Dianson ikut tertawa, "Ingat bahwa setelah itu dia pernah jatuh dari sepeda dan kehilangan dua giginya? Dia mirip denganmu saat itu~"


"Benarkah? Oh benar, saat itu kan?"


"Ya, papa masih menyimpan fotonya. Coba lihat," katanya sembari menunjukkan layar ponselnya pada Azraell.


Dilayar ponsel itu, seorang gadis cilik nampak tersenyum semanis gula kapas. Dibawah mentari yang bersinar, ditengah halaman rumah sederhana yang dipenuhi dengan tanaman hias yang lembut dan berwarna. Seperti sebuah lukisan. Untuk sesaat, Azraell tertegun melihat senyuman itu. Matanya tanpa sadar terangkat dan jatuh diwajah Dareen yang tetaplah cantik. Namun memiliki bias cahaya yang berbeda.


Apa yang membuatnya berbeda ya?


Memandang kembali kebawah, Azraell terkejut ketika gambar telah berubah menjadi gadis cilik tanpa dua gigi didepan. Bibirnya dipenuhi dengan coklat dan ada air mata menggenang dikedua matanya kala gadis itu menangis.


Itu Dareen.


"Lucu bukan? Dan setelah kehilangan dua giginya, suatu hari dia menangis, mengatakan giginya sakit. Itu salahnya sendiri karena sangat suka makan coklat. Untung saja badannya tidak menggemuk," tawa Elnos.

__ADS_1


Mendengar itu, Azraell tanpa sadar menyunggingkan senyuman tipis disudut bibirnya yang tak pernah tersenyum.



__ADS_2