Istri Simpanan Sang Pewaris

Istri Simpanan Sang Pewaris
Bimbang........


__ADS_3

Jam 05.00 pagi, Alin terbangun dari tidurnya. Dia hendak bangun untuk ke kamar mandi. Saat akan bergerak, dia merasa ada sesuatu yang berat menekan pinggangnya. Dia lalu menyingkap selimut untuk melihat apa yang terjadi. Tapi alangkah kagetnya Alin karena yang ada di pinggangnya adalah sebuah lengan kokoh. Darah Alin langsung berdesir karena tangan kokoh itu sedang memeluk pinggangnya yang polos. Tapi Alin lebih kaget lagi setelah mengetahui bahwa dia toples tanpa busana sehelai pun.


Alin mencoba memikirkan apa yang terjadi. Sampai akhirnya dia menyadari semua yang terjadi semalam. Tanpa disadari, air matanya pun menetes.


"Ap..pa yang harus ku lakukan. Bagaimana kehidupanku selanjutnya. Satu-satunya harta yang paling berharga yang aku miliki dan selama ini aku jaga, telah direnggut oleh lelaki ini. Apa yang harus aku lakukan......" Alin bergumam dalam hati sambil menangis terisak-isak. "Lelaki ini tidak akan mau bertanggung jawab karena aku mah apa atuh. Aku tidak sepadan dengan dia. Lagian aku tidak ingin dihina. Cukuplah semalam dia mengatai aku orang miskin murahan yang bisa melakukan apa saja untuk uang.".


Alin berusaha pelan-pelan melepaskan lengan kokoh yang sedang memeluk pinggangnya. Setelah berhasil, dia bangun lalu turun dari tempat tidur. Dia jalan pelan-pelan untuk mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Selain karena rasa perih di selangkangannya, dia juga tidak ingin membangunkan lelaki itu.


Alin pun mulai memakai pakaiannya. Walaupun semua kancing pakaian seragamnya sudah terlepas, tapi dia tetap memakainya karena dia memiliki pakaian ganti di bawah. Untuk mencegah agar pakaiannya tidak terbuka, dia menggunakan ikat pinggang yang tergeletak di lantai.


Ketika dirasa semua sudah selesai, dia melangkah keluar dari kamar itu. Dia menuju ke tempat peralatan kerja untuk mengambilnya, lalu berusaha berjalan normal keluar dari ruangan itu. Setelah keluar dari pintu, dia menuju ke lift khusus karyawan lalu menekan angka 1.


Tidak lama setelah tiba di lantai 1, dia lalu menyimpan peralatan dan mengganti pakaiannya. Kemudian dia berjalan keluar dari perusahaan itu sambil mengenakan masker cadangan yang selalu tersedia di dalam tasnya. Dia juga membawa pulang seragam OG-nya di tas untuk di cuci dan di pasang kembali kancingnya. Alin sebenarnya ingin ke halte untuk menunggu bus seperti biasa, akan tetapi ini masih subuh dan belum ada bus yang lewat sehingga akhirnya dia memanggil ojek pangkalan yang selalu stand by 24 jam di sudut jalan.


Setelah tiba di rumah pamannya, dia ragu untuk mengetuk pintu. Dia bingung harus memberi alasan apa karena pulang pagi.


Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok...tok....tok.....


Lama tak terdengar suara dari dalam.


"Biasanya jam segini paman dan bibi sudah bangun dan beraktivitas. Mereka kemana yah."


Alin mencoba mengetuk kembali. Kali ini lebih keras.


Tok....tok....tok....tok.


"Siapa......? Tunggu sebentar........"terdengar suara teriakan dari dalam. Lalu tidak lama terdengar langkah kaki melangkah tergesa-gesa. Setelahnya pintu terbuka. Tampak bibi berdiri di depan pintu.


"Semalam kamu kemana, nak. Kami sangat cemas memikirkanmu." mata bibi tampak berkaca-kaca melihatku. "Kamu baik-baik saja khan, nak?".


"Iya, bi. Aku baik-baik saja. Semalam aku ketiduran di kantor. Mungkin kecapaian."


"Iya nak. Lain kali kamu jangan terlalu memaksakan diri yah, nak. Kasihan kalau kamu sakit."

__ADS_1


"Iya, bi. Terima kasih karena bibi sudah baik padaku."


"Nak..... aku ini bibimu. Walaupun begitu, aku sudah menganggap kamu seperti anakku sendiri. Ibumu juga sudah menitipkanmu pada kami."


"Iya, bi."


"Ingat nak, kalau kamu punya masalah, katakan pada kami. Kami akan membantumu sebisa mungkin."


"Iya bi."


"Kamu anak baik, nak. Hanya takdirmu saja yang kurang beruntung karena lahir di keluarga miskin. Kami juga minta maaf nak karena tidak bisa membantumu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi."


"Iya bi. Tidak apa-apa. Alin ikhlas menjalaninya."


"Bi, Alin ke dalam dulu yah. Mau istirahat."


"Iya, nak."

__ADS_1


Alin pun berjalan ke sofa ruang tamu yang menjadi tempat tidurnya selama ini. Dia kemudian merebahkan badannya sambil menatap plafon yang sudah tampak menguning karena usia. Dia kembali memikirkan apa yang harus dilakukan ke depannya. Apakah dia harus berhenti bekerja di perusahaan itu. Tapi kalau berhenti, apa yang harus dikatakannya pada paman dan bibinya. Tanpa terasa, Alin akhirnya tertidur juga.


…………000……………………000…………………000……………


__ADS_2