
Tidak terasa, sudah 1,5 bulan Alin telah bekerja sebagai Asisten Pribadi Keanu. Selama ini, Keanu dan Reza lah yang telah mengajari dan membimbingnya. Berhubung Alin memang cerdas dan pintar, maka tidaklah sulit baginya untuk belajar. Sekarang dia telah mahir dan menjadi asisten handal Keanu. Walaupun dia masih kalah dari Reza, tapi untuk ukuran orang yang baru berkecimpung di bidang ini, dia sudah mumpuni.
Setelah Alin menerima gaji pertamanya di awal bulan, dia tinggal di kos-kosan yang tak jauh dari kantor. Walaupun agak mahal, tapi Alin tetap menyewanya karena dia hanya berjalan kaki saja kalau mau ke kantor.
Keanu sebenarnya menginginkan agar Alin tinggal di Apartemennya yang kosong tapi Alin tidak mau. Pada akhirnya dia tetap tinggal dengan pamannya sampai dia mampu menyewa kost-an sendiri.
…………………………………………………………………………………
Pagi ini, Alin yang mengenakan masker, berjalan tergesa-gesa menuju ke kantor. Semalam dia susah tidur sehingga pagi ini terlambat bangun. Dia tidak mendengar alarm berbunyi dari ponselnya. Dia terbangun saat mendengar deringan ponselnya berulang kali yang ternyata dari Keanu.
Atasannya itu khawatir karena jam sudah menunjukkan pukul 08.15 tapi dia belum tiba di kantor. Biasanya jam 07.30 ruangan sudah bersih, kopi sudah tersedia di meja dan berkas-berkas yang dibutuhkan hari ini juga sudah tertata rapi.
Hal yang tidak biasa dilakukan Alin selama bekerja dengan Keanu adalah terlambat. Hal itulah yang membuat Keanu khawatir.
Alin berjalan cepat-cepat sambil sesekali berlari-lari kecil. Begitu tiba depan gerbang kantor, Alin ingin mengambil ID Cardnya di dalam tas untuk dipakai melapor ke satpam yang sedang bertugas. Sebelum itu, dia terlebih dahulu membuka masker yang digunakan tadi diperjalanan dan menyimpannya di tas. Memang selama ini Alin masih memakai masker saat meninggalkan rumah atau area kantor agar terhindar dari kejahatan di jalanan.
Setelah memperlihatkan ID Card-nya ke satpam, Alin kemudian berjalan memasuki area kantor. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang memanggil namanya pelan dan ragu.
"Alin............!"
Alin lalu berbalik ke arah sumber suara tersebut dan dia melihat Pak Revan berdiri tak jauh darinya. Tatapan matanya tampak ragu-ragu dan tak percaya.
"Alin......benarkah itu kamu!!" serunya lagi dengan mata yang berbinar serta ekspresi yang antusias dan bahagia.
"Iya, betul Pak Revan"
Begitu Alin meng-iyakan ucapan Revan, tanpa sadar, Revan langsung merangkul bahu Alin dengan senang.
"Syukurlah aku menemukanmu. Selama ini aku mencarimu. Teman kerjamu bilang, kamu dipindah ke ruangan CEO. Tapi ada yang beberapa kali ke sana dan katanya pernah tidak melihatmu. Beberapa hari yang lalu, aku juga sempatkan ke rumah pamanmu tapi katanya kamu sudah tidak tinggal disana. Sebenarnya kamu dimana?"
"Saya tetap bekerja di sini pak sebagai Asisten Pribadi CEO......."
__ADS_1
"Oh jadi betul....asisten pribadi ceo yang baru adalah kamu. Aku pikir nama aja yang mirip."
"Iya, pak. Teman-teman yang biasa ke ruangan CEO tidak mengenali saya dengan penampilan ini, makanya mereka bilang tidak pernah melihat saya."
"Iya betul juga sih. Mereka sebenarnya sering melihatmu tapi sayangnya tak mengenalimu." Revan tersenyum.
"Btw, bisakah rangkulannya di lepas, pak. Ngga enak kalau dilihat orang." Alin berkata sambil cengengesan menatap Revan.
"Oh iya....maaf. Aku terlalu senang melihatmu. Jadinya lupa etika...."
Setelah itu, mereka akhirnya berjalan bersama memasuki kantor. Sepanjang jalan mereka terlihat berbincang dengan santai dan sesekali tertawa.
Tanpa Alin dan Revan sadari, sejak tadi di dekat gerbang saat mereka pertama bertemu, ada sepasang mata elang yang terus mengawasinya dari dalam mobil dengan tatapan marah dan cemburu. Dia adalah Keanu. Tadi sesudah menelpon Alin, dia tidak tenang menunggu. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri menjemput Alin di kost-annya. Tapi dia baru mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran bawah tanah hendak ke gerbang, dia melihat Alin telah memasuki gerbang.
Ketika dia hendak berbelok kembali ke parkiran bawah tanah, dia melihat Revan mendekati Alin dan menyapanya dengan antusias. Keanu melihat sepupu jauhnya itu seperti senang dan bahagia sekali melihat Alin. Ada perasaan marah di dalam hatinya melihat itu. Tapi yang membuatnya lebih marah lagi adalah saat dia melihat Revan merangkul bahu Alin dan kelihatan Alin tidak menolaknya.
Tangan Keanu menggenggam keras setir mobil yang sementara dia pegang. Ingin rasanya dia segera turun dan menghajar Revan habis-habisan tapi akal sehatnya masih berfungsi.
"Emang aku siapanya Alin? Apa hakku untuk marah? Walaupun aku atasannya, tapi aku tidak berhak mencampuri urusan pribadi karyawan" Berbagai pertanyaan muncul dibenak Keanu membuat dia pusing sendiri.
…………………………………………………………………………………
Sementara itu, Alin yang telah tiba di lantai 21, bergegas memasuki ruangan atasannya. Begitu memasuki ruangan itu, dia tidak melihat Keanu di sana.."Loh, bukannya tadi beliau menelponku dari kantor. Terus kemana dia yah? ataukah dia punya urusan di luar.. ahh...sudahlah. Aku beres-beres aja dulu."
Alin pun melakukan kegiatan rutinnya di pagi hari. Sesudah itu dia keluar ke meja April untuk mengambil jadwal kegiatan hari ini dan berkas-berkas yang perlu diperiksa dan ditanda tangani. Lalu dia kembali ke tempat duduknya untuk memeriksa berkas-berkas yang dibawanya sebelum diserahkan ke Keanu untuk ditanda tangani.
Hari sudah menunjukkan pukul 12.00 siang tapi atasannya itu belum ada di kantor juga. Padahal rencana jam 14.00, ada meeting dengan klien. Alin sudah beberapa kali menelpon ponsel Keanu tapi tidak dijawab-jawab.
"Ahh....kemana si boss ini. Tumben-tumbenan dia tidak ke kantor dan tak memberi kabar sedikitpun." Alin mulai gusar memikirkan Keanu.
Tak lama masuklah Reza ke ruangan itu setelah sebelumnya mengetuk pintu. Dia heran melihat yang ada di ruangan itu hanya Alin seorang.
__ADS_1
"Loh Lin, Boss kemana?"
"Entahlah Rez, waktu aku tiba di kantor pagi tadi, beliau sudah tidak ada."
"Hah...... bukannya tadi pagi dia keluar menjemputmu di kost-an karena kamu terlambat."
"Menjemputku di kost-an 🤔........ nggak koq, Rez. Aku ke sini sendiri."
Reza kemudian mencoba menelpon atasannya itu tapi yang dia dengar sekarang hanya suara merdu seorang wanita yang memberitahunya kalau Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.....
"Nggak aktif Lin....."
"Iya sama. Aku juga beberapa kali menghubungi ponselny tapi tidak diangkat-angkat....... terus bagaimana jadwal meeting jam 14.00 sebentar.?"
"Tunggu saja sampai jam 13.30. Kalau sampai jam segitu belum ada kabar, kamu batalkan saja dulu pertemuan itu dan nanti baru dijadwal ulang setelah ada konfirmasi dari boss."
"Okay, pak."
"Aku keluar dulu yah. Mau nyariin si boss dulu. Kalau ada info mengenai boss, beritahu aku yah."
Alin hanya mengangguk mengiyakan permintaan Reza.
Setelah Reza keluar, Alin berjalan ke sofa untuk makan siang dengan makanan yang tadi sudah dipesannya.
Alin memakan makanannya dengan tidak bersemangat. Sudah 1,5 bulan ini, setiap hari dia selalu makan siang dengan Keanu. Entah itu di kantor atau di luar. Tapi hari ini dia harus makan siang sendiri. Rasanya ada yang berbeda. Seperti ada sesuatu yang hilang dan karena kehilangan itu timbul perasaan tidak nyaman dan tidak senang.
"Ahh....kenapa sih aku malah memikirkan dia. Emang dia siapaku... belum tentu dia memikirkan aku.. tapi.......kenapa hatiku gelisah...apa aku menyukainya.? Ngga...ngga...aku tidak boleh suka padanya." Kata Alin dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pada akhirnya, Alin menghentikan makannya. Dia merasa sudah kenyang walaupun makanannya belum habis separuhnya. Setelah merapikan makanannya, dia melanjutkan kembali pekerjaannya.
Tidak terasa hari sudah sore dan sudah tiba waktunya untuk pulang. Tapi sampai sekarang belum ada kabar juga dari Keanu. Akhirnya dia memutuskan untuk merapikan pekerjaannya lalu pulang.
__ADS_1
……………………………%%%%………………………………………
Jangan Lupa Vote dan Likenya karena itu salah satu penyemangat author untuk terus berkarya. 🤗🤗🤗