
Keanu sudah mulai terlihat lelah. Semua jadwalnya hari ini berantakan. Bahkan makan siang pun dia lupakan. Yang ada dipikirannya hanya Alin...Alin.... dan Alin.
"Boss, apa tidak sebaiknya kita istirahat dulu sambil makan siang. Cacing diperutku sedari tadi sudah tawuran."
"Sorry Rez, aku ikut menyusahkanmu. Kalau begitu kita cari makan sekarang." Keanu menjawab Reza dengan lesu.
Reza pun segera mencari restoran yang ada di sekitar situ. Tak lama kemudian, Reza menepikan mobil di sebuah cafe & resto yang tidak terlalu mewah. Setelah memarkirkan mobil dengan baik, mereka pun turun dan masuk ke dalam cafe & resto tersebut.
Mereka berdua menempati tempat duduk sudut dekat jendela. Reza kemudian memesan makanan kepada waitress sedangkan Keanu tetap terdiam sambil menatap keluar jendela.
"Alin...... kamu dimana? Mengapa kamu tega meninggalkanku tanpa bertanya apapun padaku? Apakah kamu tidak pernah mencintaiku sehingga begitu mudahnya kamu pergi dariku?"
Tak lama, ponsel Keanu berdering. Awalnya Keanu membiarkannya. Tapi ponsel itu terus berdering sehingga mengganggu lamunannya. Akhirnya dia menjawab panggilan itu.
"Iya, kenapa?" Keanu menjawab dengan nada kesal.
"Hei..... kamu kenapa sayang? Koq sewot gitu?"
"Ngga apa-apa koq. Ada apa kamu menelpon?"
"Aku sudah di bandara SH sekarang. Tapi aku tidak melihatmu. Katanya mau menjemputku."
Keanu terdiam. Dia baru mengingat kalau hari ini Irene kembali ke tanah air.
"Aku masih ada kerjaan di luar kota. Jadi tidak bisa menjemputmu."
"Loh, bukannya kamu sudah janji. Seharusnya kamu kosongkan jadwal kerjamu, dong."
"Ini pekerjaan penting, Irene. Tadinya aku juga berpikir akan cepat selesai. Tapi kenyataannya tidak."
"Jadi..... aku bagaimana?"
"Emangnya mau gimana lagi. Yah... kamu ke apartemen saja naik taksi."
"Tapi.... bagaimana dengan para wartawan. Mereka pasti menyorotiku. Mereka pasti akan bertanya-tanya mengapa tunanganku tidak menjemputku yang setelah sekian lama baru kembali."
"Terserah kamu mau bilang apa ke wartawan. Yang pasti aku tidak bisa menjemputmu." sambil berbicara di ponsel, mata Keanu tetap mengawasi sekeliling. Entah kenapa, Keanu merasakan perasaannya sekarang jadi tenang. Tidak sekalut dan se-gelisah tadi. Apakah mungkin karena Irene menelpon.......
"Tapi sayang, setidaknya kamu suruh bawahanmu ke sini menjemputku dong. Masa aku naik taksi."
Keanu hendak menjawab tapi tiba-tiba matanya melihat penampakan seorang perempuan yang mirip dengan Alin. Perempuan itu hendak keluar dan sedang memegang handle pintu.
__ADS_1
Melihat itu Keanu segera berdiri dari duduknya dan melangkah cepat ke arah perempuan itu.
"Irene, sudah dulu yah. Aku ada perlu." Tanpa mendengar jawaban Irene, Keanu langsung menutup panggilannya.
Reza yang melihat Keanu bergegas berjalan ke arah pintu langsung berseru.
"Tuan....Mau kemana?..…Kita makan dulu baru pergi." Reza bingung karena waitress sementara menghidangkan pesanan mereka di atas meja.
Keanu sama sekali tidak menjawab Reza. Dia terus saja berjalan dengan pandangan tetap ke perempuan itu yang sekarang sudah berada di teras cafe & resto. Dia pun berlari secepatnya ke arah perempuan itu dan begitu dekat, dia langsung memegang tangannya.
"Alin........!!!"
Perempuan itu yang memang adalah Alin tampak kaget mendengar suara orang yang memegang tangannya. Tadinya dia ingin berbalik marah dan menghempaskan tangan yang tiba-tiba memegangnya.
Tapi mendengar suara orang itu yang menyebut namanya, dia tidak jadi berbalik. Dia bingung mau bagaimana. Alin sangat mengenal suara itu. Itu adalah suara orang yang sangat ingin dihindarinya saat ini.
Ternyata takdir berkata lain. Baru beberapa jam bisa bernafas lega karena sudah terhindar darinya, malahan sekarang sudah bertemu lagi.
Pada akhirnya Alin hanya bisa pasrah karena sudah tidak bisa menghindar. Dia pun berbalik pelan sambil cengengesan.
"Kean.........."
Orang-orang yang lewat pun keheranan melihat adegan yang sangat drama ini. Mereka berdua menjadi tontonan orang-orang sekitar.
"Alin...... benarkah ini kamu, sayang."
Alin hanya mengangguk.
Keanu kembali menciumi kedua pipi Alin kemudian beralih ke dahinya dan terakhir dia menciumi pucuk kepalanya lama... sambil memeluknya erat seakan takut kehilangan lagi.
"Aku tadinya berpikir sudah kehilangan kamu. Kehilangan perempuan yang sangat aku cintai dan sayangi. Tapi ternyata Tuhan begitu sayang padaku sehingga tidak membiarkanku sedih karena kehilanganmu. Makanya dia menuntunku ke sini agar bisa menenukanmu."
"Memangnya kamu akan bersedih kalau aku tidak ada?"
"Iya.... itu pasti, sayang."
"Gombal..... terus...tunanganmu mau dikemanain."
"Dia tunanganku.... yang dijodohkan oleh orang tua kami. Sedangkan kamu istriku.... perempuan yang aku nikahi karena aku mencintaimu."
"Bohong..... dari awal saja kamu tidak jujur padaku. Bagaimana nanti ke depannya."
__ADS_1
"Kita bicara di dalam saja yah, sayang. Reza ada di dalam."
Keanu melepaskan pelukannya kemudian menggenggam tangan Alin. Keanu baru menyadari bahwa Alin sedang memegang sesuatu di kresek warna putih.
"Apa ini?" Keanu bertanya sambil meraih kresek itu dari tangan Alin.
"Ummm.... itu makanan yang aku beli di dalam tadi." Alin berkata sambil menunjuk ke dalam cafe & resto, "Aku lapar dan tadinya berpikir untuk membeli makanan di sini lalu menyantapnya di kost-an. Tapi sekarang ngga jadi karena keburu bertemu denganmu."
"Yah sudah. Kita makan di dalam saja. Reza tadi sudah memesan makanan." Keanu kemudian menggenggam tangan Alin lalu menariknya memasuki cafe & resto tersebut.
Sementara itu, Reza masih menunggu di dalam resto. Dia akan menunggu sekitar 15 menit. Kalau sampai selama itu Keanu belum kembali, dia akan keluar mencarinya.
Sekitar 10 menit kemudian, dari arah pintu dia melihat Keanu masuk sambil menggenggam tangan Alin. Reza pun langsung tersenyum lega menyambut mereka.
"Wah, akhirnya ketemu juga....."
Keanu hanya tersenyum mendengarnya. Dia menarik kursi yang ada disampingnya dan menyuruh Alin untuk duduk.
"Syukurlah kamu telah ditemukan, Alin. Kalau tidak.... mungkin aku tidak akan diijinkan istirahat selama belum menemukanmu. Ini saja sedari tadi kami belum makan siang karena mencarimu."
"Maaf....... aku telah menyusahkan kalian..." Alin berkata dengan penuh penyesalan.
"Ngga apa-apa koq. Cuman aku kasihan aja lihat tampangnya dia," Reza berkata sambil melirik Keanu, "Kalau kamu tidak ada, dia jadi tidak bersemangat. Bawaannya uring-uringan. Syukur-syukur ini kita lagi di luar. Seandainya di kantor, habis semua karyawan kena marah, terutama April........."
"Diam kamu, Rez !!!" Keanu memperingati Reza untuk tidak meneruskan omongannya.
Alin hanya tersenyum mendengar ucapan Reza.
Keanu dan Alin duduk berdampingan. Walaupun mereka sudah duduk, tapi Keanu tidak melepaskan genggaman tangannya di Alin. Keanu seakan takut Alin menghilang lagi jika dia melepaskan genggaman tangannya. Memang terkadang kita baru menyadari perasaan ke seseorang kalau dia tidak ada.
"Ayo di makan makanannya, sayang. Katanya tadi lapar." Keanu melihat Alin masih tinggal diam dan tak menyentuh makanannya.
"Iya..... tapi lepas dulu tanganku." Alin menjawab sambil menggembungkan bibir karena sewot. Lelaki di sampingnya ini nggak sadar diri.
"Oh iya... aku lupa. Gimana kamu bisa makan yah kalau aku terus menggenggam tanganmu😁" Keanu tertawa kemudian mengecup tangan kanan Alin yang sedang di genggamnya lalu melepaskannya.
Reza sedari tadi hanya menjadi penonton saja. Dia tersenyum senang melihat sahabat sekaligus atasannya ini tertawa bahagia bahkan terkadang tingkahnya menjadi absurd dan konyol.
Reza sudah lama menemani Keanu dan baru kali ini dia melihat ekspresi bahagia dari sahabatnya itu. Apabila sedang bersama Alin, Keanu berubah menjadi sosok yang lain. Sosok yang jauh lebih baik, lebih ramah dan lebih bahagia serta terlihat seperti lelaki normal pada umumnya.
………………………………%%%%……………………………
__ADS_1